SEMUA wayang ngercapada tahu bagaimana etika dan tatakrama ketika sowan para dewa di kahyangan. Tangan pasti ngapurancang alias bertumpu di bawah puser, muka menunduk, pantang manatap muka sang dewa. Tapi Dasamuka lain! Dia boro-boro mau bersimpuh di lantai, tetap saja berdiri sama tinggi, tangan berkacak pinggang macam mandor di depan para kuli. Maklum saat sekolah di SD dulu Damamuka sudah tidak menerima pelajaran Budi Pekerti, tak pernah diajari lagu: siji loro telu tangane sedheku, mirengake pak guru menawa didangu.
Tapi penguasa kahyangan Hargodumilah ini sudah maklum, memang begitulah kelakuan Dasamuka, ndlodog (kurang ajar) tak tanggung-tanggung. Yamadipati pernah mendengar cerita bagaimana Dasamuka kecil dikeluarkan dari sekolah gara-gara minum wedang teh pak guru. Maka tak mengherankan, usia 15 tahun baru tamat SD gara-gara pindah sekolah dan tak naik kelas melulu.
“Ada apa gerangan Dasamuka, jeneng kita sepagi ini datang ke Hargodumilah?” tanya Betara Yamadipati datar.
“Halah, dewa cap apa ini? Masak soal beginian nggak tahu? Dewa kan kondang paham masalah sakdurunge winarah (sebelum dipublikasikan).” Jawab Dasamuka malah protes.
“Hai Dasamuka, kamu jangan macem-macem. Mau saya cabut nyawamu sekarang?” ancam Sanghyang Yamadipati emosi.
“Mana bisa! Gue kan sudah dapat dispensasi lewat ajian Pancasona.” Tangkis Dasamuka.
Yamadipati hanya nyengir kuda, mengakui kudet (kurang update) sebagai dewa di era milenial. Maklumlah, dia sudah terlalu sibuk dengan tugas keseharian mencabut nyawa titah ngercapada, yang makin tinggi frekwensinya di masa pandemi ini. Sampai-sampai Yamadipati harus mengerahkan tenaga outsorching, yakni kalangan dewa-dewa muda yang belum punya pekerjaan. Ini pekerjaan lebih terhormat ketimbang jadi operator bisnis pinjol ilegal, bila ketahuan bisa berurusan dengan polisi.
Ketika mendengar usulan Prabu Dasamuka agar titah ngercapada dibebaskan dari kematian seperti dewa, mata Yamadipati terbelalak. Bagaimana mungkin, dengan alasan demi kesetaraan dengan dewa, manusia dapat dispensasi tidak bisa mati pula. Ini kan akan merusak ekosistem. Panti jompo akan semakin padat penghuni, PNS atau ASN tak ada regenerasi. Penyerobotan lahan seperti di Bojongkoneng semakin merajalela, karena kebutuhan hunian akan semakin banyak. Laut-laut akan direklamasi, padahal di DKI Jakarta saja reklamasi disetop, tapi IMB diberikan diam-diam.
“Kalau manusia terbebas dari kematian, Yamadipati nggak kerja dong. Lalu tenaga outsorching itu disuruh ngapain?” Yamadipati bertanya pada Dasamuka.
“Ya nggak usah kerja, jadi Youtuber kek, malah dapat duit miliaran.” Jawab Dasamuka asal-asalan.
“Memangnya jadi Youtuber itu gampang? Kalau bukan orang terkenal ya susah.”
Akhirnya Yamadipati menjelaskan bahwa bisa tidaknya manusia bebas dari kematian, itu wewenang Sanghyang Tunggal. Dia bersama tenaga outsorching itu hanya sekedar pelaksana. Jadi kalau mau protes atau unjukrasa, alamatnya ya ke Sanghyang Tunggal sana. Tapi untuk masuk kahyangan Ngondar-andir Bawana, tak semua titah ngercapa bisa. Jangankan manusia biasa, dewa pun tak semuanya bisa diterima Sanghyang Tunggal.
Waduh, harus ketemu Sanghyang Tunggal? Siapa itu Sanghyang Tunggal, apa pemilik pabrik ban Gajah Tunggal? Otak Dasamuka benar-benar tidak nyampe, itu wilayah religius yang tak pernah ditekuninya. Karenanya untuk cari gampangnya saja, Dasamuka justru minta Betara Yamadipati, untuk menyampaikan usulannya. Ini benar-benar usilan di luar logika. Ini sama saja bunuh diri.
“Gila lu! Masak ulun harus menyampaikan usulan yang ujung-ujungnya membunuh sandang panganku sendiri.” Ujar Betara Yamadipati sambil melemparkan
masker yang tengah dipakainya ke muka Dasamuka.
“Apa-apaan ini? Buang masker bekas sembarangan, ke muka gue lagi! Memangnya elu sudah test PCR??” sergah Dasamuka, sudah hilang sopan santunnya, dewa hanya dielu-elu saja.
Lupa bahwa yang dihadapi adalah dewa sementara dirinya hanya titah ngercapada, langsung saja Betara Yamadipati digampar kepalanya, sehingga kethu kadrunnya terlepas. Tentu saja Yamadipati membalasnya dengan menendang dada Dasamuka hingga terjengkang. Keduanya pun lalu bertempur antara hidup dan mati, meski keduanya memang tak bisa mati.
Sementara itu para raksasa pendemo sudah mendekati gedong pusaka untuk mengambil Pustaka Laya yang jadi pedoman kerja tim Yamadipati beserta tenaga outsorchingnya. Ternyata pintu gedung pusaka itu terbuat dari baja tebal, di las pun tidak bisa, sehingga Kala Drupala gagal masuk gedong dan gagal pula memboyong Pustaka Laya.
Ternyata di balik gedong pusaka Pustaka Laya, terdapat kawah berisi api menyala-nyala, itulah kawah Candradimuka, neraka untuk dunia perwayangan. Semua orang jahat semasa hidup di dunia di sinilah tempatnya. Para koruptor disiksa di sini, termasuk para artis online penjaja cinta. Anehnya para pendemo sama sekali tidak takut.
“Kasihan, cantik-cantik begitu digodok di kawah Candradimuka. Kita tolongin yuk,” kata Kala Drupala pada para pendemo lainnya.
“Memangnya tidak panas?” Kita bisa terbakar sendiri.”
“Ya pakai galah dong, bego amat sih lu.” Kata pendemo yang lain.
Demikianlah, sementata artis-artis dientaskan satu persatu, Betara Yamadipati terus bertempur melawan Dasamuka. Keduanya sama-sama sakti, sehingga tak ada yang jalah ataupun yang menang. Betara Yamadipati baru berhenti melawan Dasamuka ketika menerima WA dari Betara Narada.
“Sudah, kamu tinggalkan saja Dasamuka. Kalian kan sama saktinya, jadi seperti berebut pepesan kosong.” Kata Betara Narada.
“Berarti saya kalah dong.”
“Bukan kalah, tapi ngalah. Ingat petunjuk bijak: wani ngalah luhur wekasane.”
Atas kuasa Betara Narada, Betara Yamadipati menghilang dari peredaran. Prabu Dasamuka kecele, karena musuhnya sudah kabur duluan. Atas perintah Betara Narada, Betara Brama segera menghalau kembali para artis dan koruptor kembali ke kawah Candradimuka, sementara Prabu Dasamuka kembali ke ngercapada sembari menyebut semua hewan sebagai makian dan umpata. (Ki Guna Watoncarita. – Tamat)



