NANTI malam KPUD Jakarta kembali menggelar Debat Cagub gelombang kedua. Paslon (pasangan calon) Agus Harimurti–Sylviana Murni (No. 1), Ahok Basuki Tjahaja Purnama – Jarot Saiful Hidayat (no. 2), dan Anies Baswedan – Sandiaga Uno (No. 3); akan berlaga di podium mengadu program. Mereka orang-orang cerdik pandai semua –setidaknya menurut pendukungnya– sehingga tidak akan terjadi debat kusir, meski mereka adalah calon-calon “kusir” ibukota negara, Jakarta.
Dalam arti sesungguhnya, kusir adalah pemimpin kendaraan yang bernama delman, atau juga disebut dhokar, andhong atau sado. Jalan delman itu menjadi lurus atau berkelak-kelok, cepat atau lambat, semua tergantung kepandaian pak kusir mengendalikannya. Kusir itu masih blajaran atau sudah berpengalaman, akan terlihat bagaimana dia mengemudikan andong tersebut. Jika pak kusir lihay mengendalikannya, pastilah para penumpangnya tenang di dalamnya, hingga sampai tujuan.
Kusir dalam arti kiasan, para penumpang delman tersebut adalah rakyat Jakarta itu sendiri. Berbagai suku ada di dalamnya, ada Jawa, Sunda, Batak, Minang, Madura, Bugis, Ambon, Cina, dan lain-lainnya termasuk Betawi tentunya. Dia sesungguhnya sebagai penumpang delman pertama, yang “terdesak” tempat duduknya oleh penumpang-penumpang yang naik belakangan. Makin mojok dan terancam jatuh jika tidak pandai-pandai berpegangan.
Penumpang dengan berbagai latar belakang suku, cara duduknya macam-macam. Ada yang sesuai dengan tempat duduk yang sudah ditentukan, tapi ada pula yang sengaja duduk di bukan tempat seharusnya. Celakanya, ketika ditegur kusir, malah ngeyel. Terpaksa dicambuk, eh…..malah menggugat ke Komnas HAM, menyalahkan kusir sado itu tidak bijak mengemudikan delman.
Tak kalah pusingnya bagi bang kusir delman, para penumpang itu paling doyan mengkritisi cara kusir mengemudikan delman. Ada yang bilang, terlalu lamban, ada pula yang bilang terlaku cepat. Ada pula yang mengkritisi kusir terlalu kasar membawakannya, sehingga delman bergoyang-goyang karena ada lobang dan batu besar ditabrak juga. Kusir pun bereaksi macam-macam, kadang menerima kritikan itu, kadang yang gantian memarahi penumpang, karena duduk tidak tertib.
Kusir bisa menjalankan delman atau dhokar, karena ada kuda sebagai penarik delman. Nah, kusir di Jakarta sangat beruntung karena kuda yang bermana APBD itu sehat dan gemuk. Maka berebutlah orang kepengin jadi kusir dari delman yang bernama Jakarta itu. Ada yang mantan TNI, ada yang mantan menteri dan ada pula kusir lama yang ingin jadi kusir kedua kalinya, karena jadi kusir di ibukota paling banyak 2 kali, masing-masing selama 5 tahun.
Nanti malam para calon kusir itu akan berdebat, adu teori bagaimana mengemudikan delman menjadi lebih baik, cepat dan tiba tujuan dengan selamat. Mereka itu ada yang sama sekali nol pengalaman jadi kusir, ada yang pernah jadi kusir di tempat lain, dan tentunya kusir lama yang sudah tahu betul karakter para penumpangnya. Dengan perdebatan nanti malam, para penumpang akan menjadi lebih mantap menjatuhkan pilihan, siapa yang kira-kira lebih pantas jadi kusir. Pilih kusir baru, atau memberi kepercayaan pada kusir lama.
Meski hanya kusir, para lembaga survei mau capek bikin prediksi siapa kira-kira yang akan memenangkan persaingan. Kata mereka, kusir baru yang miskin pengalaman justru paling banyak dipilih penumpang. Tapi ada juga yang menyebut bahwa kusir lama yang paling unggul tingkat elektabilitasnya. Lewat debat tersebut, para calon kusir punya kesempatan untuk memperbaiki angka-angka elektabilitasnya.
Para calon kusir itu rata-rata berpendidikan tinggi, sehingga meskipun namanya debat calon kusir, tidak akan terjebak pada debat kusir yang melelahkan. Semua tentunya akan menjawab sistematis dan menarik, sehingga para penumpang semakin mantap menjatuhkan pilihannya. (Cantrik Metaram)





