Dengan Semangat Ramadhan, Krisis Teluk Diharapkan Teratasi

KUWAIT mengambil prakarsa guna memediasi gunjang-ganjing politik di kawasan Teluk setelah sejumlah negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan negara serumpunnya, Qatar yang dituding berada di balik aksi-aksi terorisme.

Diawali dengan Bahrain, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) yang memutuskan hubungan diplomatik dan hubungan darat, laut dan udara dengan Qatar (5/6) , kemudian diikuti Mesir, Libya, Yaman dan juga Maladewa dan Mauritius di luar Arab.

Emir Kuwait Sheikh Ahmed al-Sabah, Rabu (7/6) menemui Menhan Uni Emirat Arab (UAE) Sheiks Mohammed bin Rashid al-Maktoum di Dubai dan Presiden UAE Sheikh Khalifa bin Zayed al-Nisam di Abu Dhabi setelah sebelumnya sowan ke Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud di Jeddah.

Namun sejumlah pengamat skeptis atas kemungkinan berhasilnya inisiatif  diplomatik yang dilancarkan Kuwait mengingat agaknya sulit bagi Qatar menerima  10 butir persyaratan yang ditawarkan oleh Raja Salman.

Menurut sejumlah media di kawasan Teluk persyaratan yang disampaikan a.l. Qatar harus memutuskan  hubungan diplomatik dengan Iran dan tidak mencampuri urusan dalam negeri Mesir serta negara-negara di kawasan Teluk lainnya.

Qatar diminta menghentikan siaran stasiun TV Al Jazeera yang dinilai sering menyudutkan negara-negara di kawasan Teluk, menutup rekening dan mengusir pimpinan kelompok militan Hamas dan Ichwanul Muslimin (IM) dari Doha serta menghentikan dukungan dan pendanaan bagi seluruh gerakan radikal.

Syarat lain, Qatar harus menghormati dokumen kesetiaan di antara negara-negara  Teluk yang ditandatangani di Riyadh, 2014.

Qatar di kalangan negara-negara Teluk lainnya selama ini memang “tampil beda”,  terbuka bagi kelompok radikal Hamas, IM atau AL Qaeda dan kelompok anti otoritarianisme di kawasan itu.

Kehadiran stasiun TV Al Jazeera bermarkas di Doha sejak 1996 yang menyuarakan demokratisasi juga dianggap sebagai ancaman bagi pemerintahan monarki absolut di kawasan Teluk.

“Dosa” lainnya, Qatar dituding berada di balik penggulingan Presiden Libya Moamar Khadafi dan mendukung gerakan-gerakan anti pemerintah lainnya di kawasan Timur Tengah termasuk Mesir.

Hubungan baik Qatar dengan Iran juga membuat Arab Saudi kebakaran jenggot, mengingat perseteruan ideologi antara Iran beraliran Syiah dan Arab Saudi  menganut Islam Sunni, belum lagi dalam konteks perebutan hegemoni antara keduanya di kawasan Timur Tengah.

Kekisruhan  meningkat setelah Iran menuding Arab Saudi berada di balik serangan bunuh diri oleh kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) di gedung parlemen dan makam Imam Khomeini di Teheran (7/6) dengan 12 korban tewas.

Parlemen Turki dilaporkan menyetujui penempatan pasukan di Qatar walau sejauh ini tidak ada ancaman dari negara-negara yang memutuskan hubungan dengan Qatar akan  menggunakan kekuatan militer terhadap negara itu.   Diduga Turki memanfaatkan situasi yang berkembang untuk menanamkan pengaruhnya di Qatar.

Lagi pula, AS menempatkan 10.000 pasukannya di pangkalan al Udeid dekat Doha, sehingga jika Turki yang juga anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menggelar pasukannya di Qatar, malah bisa menciptakan signal  membingungkan.

RI sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim, di bulan Ramadhan yang penuh kasih dan berkah ini hanya bisa berharap agar Qatar dan tetangganya rujuk dan merajut kembali tali silaturahim.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement