Desa Terkaya Di Subang

Para penyapu uang di Jembatan Sewo, Kab,. Subang. Memalukan tapi menjanjikan. (Detik.com)

            JIKA ada desa terkaya di Kabupaten Subang (Jabar) bahkan Indonesia, mungkin hanya di Desa Karang Anyar, Kecamatan Pusakajaya. Di sini tiap hari siang dan malam, lebih-lebih di seputar mudik Lebaran, warganya rajin sekali menyapu uang di jalan  raya di antara Subang – Indramayu. Bayangkan, uang recehan sampai menyampah, bukankah itu sebuah lambang kemakmuran?

Tapi jangan salah! Uang logam sampai “menyampah” sehingga perlu disapu bukan turun dari langit, melainkan dilempar oleh para pengendara sepeda motor, mobil dan truk yang melintas di jalan itu. Ini sudah menjadi tradisi sejak jaman Belanda dulu. Dan karena uang itu memang enak, tradisi mengasyikkan itu oleh warga selalu dipertahankan, meski terkesan menjadi bangsa pengemis, karena jumlahnya demikian banyak. Mereka berjajar di antara jembatan kali Sewo, dari arah Jakarta maupun arah Indramayu.

Penyapu uang itu bukan dari lidi, melainkan ranting kayu atau manggar tangkai kembang kelapa. Ketika ada pengendara melempar uang, mereka berebut menyapu uang itu. Begitu kena langsung dimasukkan kantong, bukan bak sampah sebagaimana lazimnya sampah. Pelakunya bukan saja anak-anak, tapi juga para orangtua laki perempuan, yang dari segi penampilannya tidak selalu menunjukkan kemiskinan.

Mereka adalah dari kalangan petani warga sekitar Desa Karanganyar. Meski jadi penyapu uang bukan pekerjaan pokok, namun hasilnya memang lumayan menjanjikan. Rata-rata mereka bisa mengumpulkan “sampah” itu sampai Rp 30.000,-, bahkan setiap arus mudik dan arus balik Lebaran, kumpulkan “sampah” sampai di atas Rp 100.000,- bukan hal yang susah. Ini sangat membantu mereka di kala musim kering tiba, di mana pekerjaan sawah istirahat sementara.

Kecuali ayam dan kambing, uang itu memang semua orang doyan. Saking gurihnya uang, mereka yang jadi pejabat atau kekuasaan di legislatif, yudikatif maupun eksekutif, suka “bermain-main” dengan uang, meski resikonya masuk penjara. Sedangkan yang di Indramayu ini, sekedar main uang kecil-kecilan, yang takkan dituduh sebagai korupsi, mencuri atau sebangsanya. Sebab pengendara melempar uang itu dengan ikhlas, bahkan dianggap sebagai hiburan. Ini sama persis dengan penyelam uang di pelabuhan Banyuwangi-Gilimanuk atau Merak – Bakauheni Lampung.

Sampah uang itu memang halal, cuma sangat mengandung resiko. Selain bikin macet jalan juga mengancam keselamatan para pemungut uang itu sendiri. Setiap musim arus mudik dan arus balik, polisi Polres Subang selalu pasang poster: pemudik dilarang lempar uang; tapi tak pernah digubris oleh para pelakunya.

Jika sudah melekat dengan tradisi, memang susah dihilangkan. Konon pelemparan uang itu untuk penolak bala. Di seputar jembatan Sewo itu bersemayam sing mbaureksa (penunggu) siluman buaya putih, yang suka mengganggu para pelintas jembatan tersebut.

Boleh percaya boleh tidak, pada 11 Maret 1974 bus transmigran Boyolali tujuan UPT Rumbiya Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), terguling masuk ke kali di jembatan Sewo. Sebanyak 67 orang tewas dalam kecelakaan itu. Bahkan pernah sekelompok pengamen ikut-ikutan berebut sampah uang logam itu. Tapi karena kurang hati-hati, salah satu pengamen tewas ditabrak kendaraaan. (Cantrik Metaram)

Advertisement