JAKARTA – Buat kamu yang mudik ke Sumatra bisa melalui jalan tol Trans Sumatra. Ini merupakan jaringan jalan tol sepanjang 2.818 kilometer yang disebut jalan tol terpanjang di Indonesia.
Jalur ini menghubungkan wilayah Lampung hingga Aceh. Selain itu, menjadi jalur nadinya Pulau Jawa dengan Pulau Sumatra.
Jika kamu mudik melalui darat, tak perlu takut bosan. Ada beberapa tempat wisata yang bisa kamu singgahi selama perjalanan. Berikut beberapa tempat wisata di jalur mudik Trans Sumatra yang bisa kamu datangi saat mudik atau libur Lebaran.
Menara Siger, Lampung
Ketika memulai perjalanan dari Lampung, ada satu tempat wisata yang bentuknya unik. Lokasinya tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni, titik mulai Jalur Trans Sumatra.
Bangunan menjulang tinggi itu bernama Menara Siger. Berwarna merah dan kuning yang sangat cerah, arsitekturnya menyerupai sebuah mahkota. Menara Siger merupakan simbol identitas masyarakat Lampung.
Diresmikan pada 2008, bentuknya memang terinspirasi dari mahkota, tepatnya mahkota pengantin wanita adat Lampung. Sembilan kerucut yang terdapat pada bangunannya melambangkan sembilan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Lampung.
Karena lokasi Menara Siger dekat dengan lautan, kamu juga bisa menikmati pemandangan laut yang memesona.
Jembatan Ampera, Sumatra Selatan
Sesampainya di Sumatra Selatan, kamu berkesempatan menyambangi salah satu landmark paling bersejarah di Tanah Air, tepatnya di kota yang identik dengan hidangan pempek.
Dibangun pada 1962 sebagai bentuk penghormatan kepada Presiden Soekarno, jembatan yang berdiri tegak di atas Sungai Musi ini merupakan simbol kebanggaan Kota Palembang.
Jembatan Ampera memiliki panjang 1.117 meter, tinggi 63 meter, serta warna merah yang sangat menarik perhatian. Jembatan ini dulunya sempat menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara.
Menariknya lagi, ketika malam hari kamu bisa melihat jembatan yang megah ini dipenuhi gemerlap cahaya yang memukau.
Tugu Keris Siginjai, Jambi
Beranjak dari Kota Palembang, kamu akan melintasi Kota Jambi. Kota yang dulunya sempat menjadi bagian dari pusat pengajaran agama Buddha ini menyimpan segudang destinasi yang menarik. Salah satunya adalah Tugu Keris Siginjai, monumen dengan puncak berbentuk keris yang berdiri tegak di jalan Paal Lima.
Terbuat dari tembaga murni dan memiliki keseluruhan tinggi sekitar 28 meter, monumen yang satu ini melambangkan luas wilayah kerajaan Jambi pada dahulu kala.
Ada sembilan pipa kecil yang menopang Tugu Keris Siginjai. Sembilan pipa tersebut melambangkan anak-anak sungai yang mengaliri sembilan kelurahan di Jambi. Anak-anak sungai tersebut terdiri dari Batang Asai, Batang Bungo, Batang Jujuhan, Batang Masurai, Batang Merangin, Batang Senamat, Batang Tabir, Batang Tebo dan Batang Tembesi.
Jam Gadang Bukittinggi, Sumatra Barat
Usai berwisata di Kota Jambi, waktunya menginjakkan kaki di Ranah Minang alias Sumatera Barat. Daerah yang dikenal luas karena kuliner khasnya yang menggugah selera ini punya beraneka ragam destinasi yang tak kalah menarik.
Coba main ke Bukittinggi. Di sini, kamu bisa menemukan salah satu monumen yang identik dengan budaya Minang. Terletak di kawasan Benteng Pasar Atas, Jam Gadang Bukittinggi merupakan monumen penanda dari pusat kota tersebut.
Berdiri di tengah-tengah taman yang apik, monumen ini dibangun hanya dengan menggunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih. Jamnya sendiri didatangkan dari Kota Rotterdam di Belanda. Mesinnya sama dengan mesin jam Big Ben di London, Inggris.
Tor Simago-mago, Sumatra Utara
Sebelum menyambangi kota Medan, manjakan mata dan pikiran di Desa Huta Raja, Sipirok, Tapanuli Selatan. Di kawasan ini, kamu bisa melakukan piknik atau camping di puncak bukit luas nan asri bernama Tor Simago-Mago.
Panorama ciamik dari bentangan lahan hijau bisa kamu nikmati dari Tor Simago-Mago. Dijamin bikin hati tentram.
Museum Aceh, Aceh
Setelah melakukan perjalanan jauh nan menyenangkan, kamu akan sampai di Banda Aceh. Di kota yang terkenal dengan julukan Serambi Makkah ini ada salah satu museum tertua di Indonesia.
Berdiri pada 31 Juli 1915, Museum Aceh awalnya paviliun yang berisi berbagai macam koleksi berharga, termasuk benda-benda pusaka milik F.W. Stammeshaus, kurator asal Belanda yang juga menjabat sebagai Kepala Museum Aceh hingga 1931
Setelah kemerdekaan Indonesia, paviliun tersebut berubah secara resmi menjadi museum. Kepemilikannya pun dipegang penuh oleh Pemerintah Daerah Aceh.
Sampai saat ini, Museum Aceh masih menyimpan koleksi-koleksi berharga mulai dari koleksi geologika, biologika, etnografia, arkeologi, historika, sampai teknologika.
Sumber: indonesia.travel





