DEWABRATA KRAMA

Arimuka bersiap melawan Dewabrata, tapi tiba-tiba ada larangan dari Komnas HAM internasional.

SEBAGAI raja masih berpandangan kolot, Prabu Darmomuka dari negeri Swantipura berkeinginan ketiga putrinya –Ambika, Ambalika, Ambahini– menikah saja, tak usah sekolah tinggi-tinggi. Apalagi Dewi Ambika bersaudara ini termasuk kualitas ekspor. Pasti calon-calon menantu yang bonafid berebut antre macam para manula mengurus kartu busway gratis di Jakarta.. “Anak perempuan cantik merupakan sumber devisa keluarga,” begitu prinsip Darmomuka.

Agar menantu-menantu yang berkategori “empat sehat lima sempurna” terjaring di Kerajaan Swantipura, dibukalah sayembara tanpa seizin Departemen Sosial. Melalui medsos, segala informasi tentang sayembara itu cepat diserap di banyak mancanegara. Di Ngastina misalnya, Prabu Sentanu segera meneruskan informasi itu kepada putra sulungnya. Dewabrata. Semogra tertarik pada sayembara itu. Bersama kedua adiknya, masing-masing Citragada dan Citrasena, mereka berebut membaca ketentuan-ketentuan sayembara yang dilengkapi dengan foto ketiga putri Swantipura tersebut.

“Kenapa sayembara beginian saja harus sertakan LHKPN segala?” Citrasena terheran-heran.
“Biar ketahuan, itu cowok kaya raya atau hanya modal tampang.” Jawab Dewabrata.

Dari ketiga putra konglomerat Ngastina ini, ternyata yang punya ambisi mengikuti sayembara jusrtru cuma Citragada dan Citrasena saja. Sedangkan Dewabrata, sama sekali tidak tertarik. Impoten atawa anggota LGBT? Bukan! Dewabrata sedari kecil memang ingin melakukan brahmacarin, yakni wadat atau tidak berumahtangga selama hidup. Kalau saja diizinkan oleh Prabu Sentanu, jauh-jauh hari dia sudah masuk Seminari di Magelang.

Wayang satu ini memang aneh. Meskipun usianya belum ada 30 tahun, sudah mungkur kadonyan (tidak tertarik duniawi). Dia kegemarannya mengamati masalah-masalah sosial, laku prihatin, pergi dan blusukan ke tempat-tempat kumuh macam Presiden Jokowi.

Karena sikap Dewabrata tersebut. Citragada dan Citrasena sebagai adik-adiknya ikut solider. Artinya kakak tak mau kawin, adik- adiknya pun tak mau kawin juga. Nggak enak melangkahi orangtua, bisa kualat, begitu katanya. Hal itu tentu saja membuat posisi Dewabrata serba repot. Alangkah egoisnya, bila akibat dia yang mementingkan diri sendiri, adik-adiknya jadi korban tidak pernah menggandeng wanita seumur hidup. Padahal truk saja, sebagai barang mati dia mampu punya gandengan!

“Kalau begini, iya deh gue ikuti sayembara itu.” jawab Dewabrata pada akhirnya.
“Serius? Kangmas mau ikut sayembara itu?”

Dewabrata mengangguk. Perubahan sikap ini membuat Prabu Sentanu bersukacita, termasuk kedua adiknya. Dengan membawa koper besar, ketiganya berangkat ke Swantipura melalui terminal Pulogebang. Tiba di kerajaan Swantipura, suasana di sana sungguh gegap gempita. Sudah banyak wayang muda dan kaya dari berbagai negara mengadu nasib memperebutkan dewi Ambika dan kedua adiknya.

Tapi mereka rata-rata cuma menang tongkrongan doang. Ketika diadu melawan Wahmuka dan Arimuka, banyak yang pulang tinggal nama. Bahkan ada wayang yang baru berhadapan dengan agul-aguling praja (andalan raja) Swantipura langsung semaput karena ciut nyalinya.

“Wah, mampu nggak kira-kira gue nih ya?” bisik Dewa¬brata minder melihat sepak terjang Wahmuka-Arimuka.
“Pasti mampu, kakanda. Malu putra raja Ngastina kok kalahan,” jawab Citragada memberikan semangat.

Tapi belum juga peperangan dimulai, Prabu Darmomuka menyetop pertandingan dengan alasan dilarang oleh pihak Human Rights (HAM Internasional). Katanya mengadu orang sampai mati itu pelanggaran HAM berat. Maka sesuai dengan amanat ketiga putrinya, jenis sayembara diubah menjadi yang lebih ringan, tapi sangat populis, berpihak pada wong cilik.

Dewabrata -Citragada-Citrasena bisa mempersunting trio putri Swantipura asalkan pengantin menuju KUA diarak dengan mengendarai Becak Kencana dari kahyangan yang digenjot oleh Betara Bayu, dewa paling gagah perkasa. Jika tak bisa mewujudkan bebana tersebut, mending ketiga putri itu jadi perawan tua.

“Ini sama saja nampik secara halus,” keluh Dewabrata Cs.
“Ya enggaklah, wong sudah dilegalisir MK dengan disenting opinion 8-1,” jawab Wahmuka-Arimuka menjelaskan sambil minum air mineral gelasan.

Bukannya tak bisa menyediakan itu barang, tapi kan aneh. Jangankan becak berlapiskan emas dan berlian, becak yang biasa saja di Ngastina tidak ada, termasuk juga di Swantipura sendiri. Apa lagi kahyangan, pasti tak ada itu. Para dewa kan sudah biasa naik Alphard. Bahkan Bethara Guru kini naik motor Chopper, tak lagi pakai Lembu Andini.

Tapi demi membahagiakan orangtua, Dewabrata mencoba-coba ke kahyangan, barangkali masih ada stok. Tentu saja Betara Guru tertawa menerima permohonan Dewabrata yang nyeleneh itu. Sejak tahun 1970-an kahyangan Jonggring Sala dinyatakan bebas dari becak (DBB).

“Maaf Dewabrata, becak kahyangan sudah jadi rumpon semua. Mending tak usah maksa, nanti kamu saya kasih bidadari cantik gratis lagi.” Jawab Betara Guru.
“Becak satu-satunya yang masih ada tinggal di DKI Jakarta, made in Indramayu.” Bisik patih Betara Narada.

Akhirnya Dewabrata disarankan ke Provinsi DKI Jakarta saja. Soal Betara Bayu sebagai drivernya, itu tak masalah. Nanti dia bisa dilatih jadi penggenjot becak yang baik lewat penataran Pedoman dan Penghayatan Pengemudi Becak sistem 40 jam di BLK Cijantung atau Pondok Kelapa.

Alhamdulillah wasyukurillah. Becak Kencana sudah didapat tiga pasang dengan pengemudi Sanghyang Bayu, Betara Endra dan Betara Brama. Dengan dihias sedemikian rupa, tiga Becak Kencana yang dinaiki Dewabrata- Citragada- Citrasena bersama pasangannya tiba di KUA dan dinikahkan. Setelah prosesi pernikahan selesai, tiga mempelai itu dipersilakan istirahat di kamar pengantin masing-masing.

“Enak dong kita. Nggak ikut berjuang tapi kebagian juga.” Kata Citragada-Citrasena.
“Namanya juga rejeki, harus disyukuri,” jawab Citrasena.

Beda dengan kamar Dewabrata. Dewi Ambalika yang sudah siap menerima “serangan umum” non 19 Desember 1948, ternyata sama sekali tak disentuh. Dewabrata justru merenung di pojok ranjang. Dia tak mungkin melanggar sumpah wadatnya. Menyentuh Ambalika sama saja akan berketurunan, dan itu berlawanan dengan konsensus batinnya.

“Ayo Mas, kita kan sudah halalan tayiban wa asyikan.” Desak Ambalika.
“Nggak mau. Ayo pakai kembali baju-bajumu, nanti mangsuk angin.”

Lantaran Ambalika semakin agresif, Dewabrata jadi takut sendiri. Dia keluarkan cundriknya, untuk menakut-nakuti. Tapi Ambalika malah sengaja menubruk senjata di tangan Dewabrata, dan tewas seketika. Tapi aneh bin ajaib, jenazah itu melenyap dan kemudian terdengar suara, “Selamat tinggal kangmas Dewabrata, sampai ketemu lagi di Perang Baratayuda 17 April 2019.” (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement