Di Kebun Kehilangan Aset, Di Rumah Terserang Asap

Dua perahu sudah menunggu di Dermaga Desa Pilang, Kecamatan Jebiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Perahu itu tertambat di sungai Kahayan, Kamis pagi (22/10/2015), siap membawa 8 orang relawan yang terdiri dari 2 Orang Tim Respon Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, Udi Jundi, Adi Sumarna dan ditambah Maifil Eka Putra dari KBK.

Serta 5 orang lainnya, dari relawan Desa Pilang; Rusli (Kaur Pemerintahan Desa Pilang), Triboy, Ridwan, Darma, Yusuf penduduk Desa Pilang ikut berjuang #MelawanAsap.

Tim ini akan menuju Sungai Angai di mana lahan perkebunan rakyat yang terbakar. Di sana sudah menunggu Jiansyah (Komandan Regu Pemadam Kebakaran, RPK Buta),  Wahyudi dan Lambang yang sudah bermalam menjaga lahan kebun karet agar tidak terbakar.

Untuk menuju kawasan yang terbakar Tim Respon #MelawanAsap, menyusuri Sungai Kahayan yang lebarnya sekitar 200 meter dengan air yang keruh, selama 30 menit, selanjutnya masuk ke Sungai Angai 15 menit. Sungai Angai hanya selebar 6 meter, merupakan sungai sodetan yang berupa kanal yang dibangun untuk mengeringkan lahan gambut.  Saat ini menjadi jalur transport menuju kebun petani.

Sesampai di lokasi Tim Respon sudah ditunggu  Jiansyah yang bermalam di lokasi. “Kawasan ini harus dijaga, karena api justru hidup di malam hari, karena air pasang dan angin berhembus ke darat dan menghidupkan api yang masih bersembunyi di lahan ganbut, ” jelas Jiansyah.

Jasungaidi malam tadi, Jiansyah, Wahyudi dan Lambang berperang melawan api. Ia berhasil memadamkan api yang mulai merambat ke lahan kebun karet. Mereka memintasnya sebelum masuk rumpun pohon bambu dekat kebun karet. Ia perang dengan menggunakan alat seadanya, berupa semprotan dan bantuan mesin pompa dengan kemampuan 200 meter.

Jiansyah terlihat letih, ternyata ia sedang dehidrasi dari malam ia mencret-mencret. Perutnya terasa panas. Bersyukur tim yang baru datang membawa obat untuk mengatasi yang kampet itu.  Ia tidak tahu kenapa ia sakit perut mungkin karena masuk angin kerja malam atau juga karena hal lain, seperti lalai dalam mengatur makan karena sibuk memadam api.

Setelah mendarat tim respon langsung melakukan survei lokasi yang akan dipadamkan malam nanti. Seperti diceritakan Jiansyah pemadamannya hanya bisa dilakukan malam, karena malamlah apinya menyala dan melebar ke mana-mana. Kalau siang hari, apinya bersembunyi  di dalam gambut.

Setelah memantau 19 titik api,  tim respon melakukan persiapan untuk melakukan pemadaman api. Kali ini tim akan menggunakan 2 mesin pompa dan 2 semprotan solo. Jarak titik pemadaman hanya mampu dikejar 200 meter dari pinggir Sungai Angai, menurut Jiansyah, jika ada yang lewat dari 200 makan akan dikejar dengan semprotan solo.

Sebelum sampai ke titik api, tim Jiansyah sudah merintis jalan dengan merambah semak-semak setinggi 4 s.d 5 meter dengan lebar jalan cukup untuk setapak kaki dan melewatkam selang ke arah titik api.

“Malam ini, malam yang panjang dan akan melelahkan kata Jiansyah, jadi kita siapkan energi dengan membuat posko dan mendirikan tenda,” ujarnya.

Sambil istirahat menunggu waktu pertempuran itu  Jiansyah bercerita ke KBK tentang Kelompok Tani Karet di Desa Pilang dan tim RPKnya.

Seperti diceritakan Jiansyah, karena berkali-kali terjadi kebakaran yang menghanguskan ladang petani di kawasan gambut, akhirnya Kelompok Tani Handel Buta, membentuk Regu Pemadam Kebakaran (RPK) BUTA, di Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kalimantan Tengah, dengan  anggota 10 orang yang berasal dari 30 petani dalam satu kelompok tani tersebut.

Kelompok ini memiliki 73 hektar lahan karet. Alhamdulillah, belum ada yang terbakar, karena RPK terus melakukan pemantauan. Di kawasan ini jua sudah dibangun 8 titik sumur bor, sehingga kalau ada indikasi kebakaran bisa cepat di tangani.

Sumur bor itu sendiri merupakan sumbangan Badan Buruh PBB ILO.  Satu sumur bor itu memiliki kedalaman 25 meter.

Kelompok tani sendiri berdiri tahun 2013. Begitu juga RPK didirikan 4 bulan setelah berdirinya kelompok tani. Sejak berdiri, sudah 2 kali aktif memadamkan kebakaran. Terutama membantu lahan petani yang di luar kelompok tani yang terbakar.

Kelompok ini sudah dicoba didaftarkan ke pemerintah, namun sampai sekarang belum ada tanggapan. Tujuan didaftarkan, berharap ada subsidi sehingga dapat digunakan untuk perbaikan alat yang sekarang ada 3 unit namun 2 mesin rusak  dan perlu diservice.

Saat ini RPK BUTA, memiliki selang punya sepanjang 400 meter, butuh sekitar 400 meter lagi, agar dapat mencapai lokasi kebakaran di lahan kebun karet.

Awal berdirinya kebun karet, dimulai tahun 1997, ketika itu ada proyek pembukaan lahan gambut, 1 juta hektar (PLG). Proyek ini dimulai dengan penggalian kanal dibantu pemerintah.

Setelah kanal jadi dan lahan gambut kering, lahan itu pun terbakar. Setelah terbakar dan kering, masyarakat mulai menanam karet. Masing-masing petani manggarap 2,5 Hektare.

Dengan adanya kanal ini, semakin lama kebun karet semakin luas, penduduk desa Pilang, yang memiliki uang yang cukup terus memanfaat lahan untuk kebun karet. Saat ini sudah 6.000 hektare lahan gambut yang dikuasai petani, 18.000 masih kosong.

“Kawasan 18.000 ini yang diintai untuk digarap perusahaan. Kami belum tahu apakah ada perusahaan yang sudah menawarkan diri ke pemerintah,” tutur Jiansyah.

Tapi penduduk setempat, tidak berharap ada perusahaan yang masuk untuk menguasai lahan yang masih tersisa, ini mereka peruntukkan untuk warga Kampung Pilang yang akan menikah. Setiap mereka yang baru  berkeluarga akan diberikan  jatah untuk mengolah lahan karet sebagai sumber kehidupannya.

Tradisi ini sudah berjalan sejak memulai perkebunan, 1997. Sebelumnya masyarakat Pilang mencari ikan dan kerja lain secara serabutan. Berkebun karet menjadi sebuah berkah, namun saat ini keberkahan itu diambil api, 6000 hektar kebun masyarakat sudah hampir 80 persen terbakar.

Di kebun,  mereka kehilangan aset, di rumah mereka diserang asap. Ekonomi dan kesehatan mereka sama-sama terancam, butuh waktu untuk membangun kondisi normal kembali dan butuh waktu pula memulihkan ekonomi.

Kini Tim Respon #MelawanAsap DMC Dompet Dhuafa bersama tim relawan dan RPK Desa Pilang berjuang melawan api agar tidak semua kebun karet Desa Pilang menjadi hilang.

Advertisement