Di Laut, China Makin Perkasa

China luncurkan kapal induk pertama buatan dalam negerinya, Shandong bernilai 13 milyar dolar AS (sekitar Rp 182 triliun). Ini kapal induk kedua yang dimiliki AL China, dan dua lagi akan dibangun dalam enam tahun ini.

ARMADA laut China semakin jaya dengan diluncurkannya kapal induk pertama, Shandong buatan galangan dalam negeri, salah satu dari tiga yang kapal yang dibangun dalam kurun waktu enam tahun ke depan.

Kapal dengan panjang haluan 300M,lebar 75M dan bobot 50-ribu ton yang dibangun di galangan Dalian, China itu mampu mengangkut sampai 40 unit jet tempur J-15 Shenyang, juga buatan dalam negeri -“copy paste” Sukhoi SU-33 Rusia – serta beberapa helikopter.

Sebelumnya, AL China sudah mengoperasikan kapal induk ex-negara sempalan Uni Soviet, Liaoning dengan bobot lebih kecil dan daya angkut 16 unit pesawat J-15. Kapal dalam kondisi belum jadi milik AL Ukraina yang pengerjaannya mangkrak pasca Perang Dingin, dibeli China dan kemudian dirampungkan.

Dengan meniru rancang bangun Liaoning, Shandong memiliki ciri khasnya yakni landasan dengan jalur lompat (ski jump) guna menambah daya lontar jet tempur saat take off, berbeda dengan sistem ketapel seperti yang digunakan di kapal-kapal induk AS.

Teknologi lompat ski yang dipasang di ujung geladak untuk meluncurkan pesawat dengan kekuatannya sendiri, relatif lebih tua ketimbang teknologi lontaran ketapel yang dianggap lebih sophisticated.

Pesawat yang diluncurkan oleh ketapel dapat mengudara dengan lebih cepat dibandingkan dengan jika pesawat mengandalkan kekuatan sendiri saat lepas landas dari lompatan ski.

Sementara mesin penggerak Liaoning dan Shandong masih menggunakan turbin uap dan generator diesel, berbeda dengan dua unit kapal induk lagi yang akan dibangun, menggunakan reaktor nuklir.

Ambisi China menjadi yang terkuat di dunia, tercermin dari peningkatan 7,5 persen anggaran militer pada 2019 menjadi 177,5 milyar dolar AS atau sekitar Rp2.500 triliun.

Sebagai perbandingan: APBN Indonesia 2019 tercatat sekitar Rp2.460 triliun, sedangkan alokasi anggaran belanja militer hanya Rp106 triliun saja atau sekitar seperduapuluh empat anggaran militer China, apalagi 60 persennya digunakan untuk membayar gaji prajurit.

Nilai anggaran pertahanan China menempati peringkat kedua terbesar dunia di bawah AS (610 milyar dolar sekitar Rp8.540 triliun). Arab Saudi menyusul di peringkat ke-3 dengan 69,4 milyar dolar (sekitar Rp971,6 triliun), menyalip posisi Rusia (66,3 milyar dolar atau sekitar Rp 928,2 triliun).

Selain disain dan konstruksi yang sarat teknologi mulai dari permesinan, sistem navigasi, alat pelacak posisi lawan atau kawan, alutsista yang mengamankannya dari serangan musuh sampai jenis pesawat-pesawat yang diangkut, biaya pembuatan kapal induk seperti Shandong mencapai 13 milyar dolar AS (sekitar Rp182 triliun).

Hanya armada AL AS yang mengoperasikan 10 kapal induk masing-masing berbobot sekitar 100-ribu ton dengan daya angkut 90 sampai 100 jet tempur, selebihnya, negara-negara yang memilikinya: Brazil, India, Itali, Inggeris, Perancis, Rusia, Spanyol dan dan Thailand hanya memiliki sebuah. Jepang dan Korsel juga memiliki kapal induk, cuma terbatas untuk mengangkut helikopter.

Sementara RI sebagai negara maritim dengan sekitar 14.000 pulau yang dinaunginya, tentunya juga perlu memiliki AL yang tangguh sesuai motto TNI-AL “Yalesveva Jayamahe” atau “di Laut Kita Jaya”.

Namun, selain biaya pembuatan atau pembeliannya bakal menguras kocek APBN, ongkos pengoperasian dan perawatannya juga perlu difikirkan, potensi ancaman dari luar terhadap RI dalam beberapa tahun ke depan juga belum tampak.

Apalagi, RI sebagai negara cinta damai tidak memerlukan kekuatan besar seperti dengan menggunakan kapal induk guna menyerang negara lain, sehingga selain mahal, kapal induk bukan prioritas untuk dibuat atau dibeli saat ini.

Advertisement