CHINA diam-diam terus mengembangkan kekuatan militer termasuk armada lautnya, tercermin dari ujicoba yang sedang dilakukan kapal induk type 001A miliknya di perairan laut China.
Kementerian Pertahanan China dalam pernyataannya menyebutkan, dengan dikawal sejumlah kapal perang, kapal induk 001A lego jangkar dari pelabuhan Dalian, Minggu lalu (13/5) pukul 06.15 pagi waktu setempat menuju laut lepas.
Uji coba dilakukan guna memastikan keandalan serta stabilitas propulsi dan berbagai sistem yang digunakan, sementara Biro Keamanan Maritim setempat telah memerintahkan agar kapal-kapal lainnya tidak berlayar di sekitar alur laut di lokasi ujicoba.
Kapal induk 001A dengan bobot 50.000 ton ditargetkan sudah bisa dioperasikan secara penuh pada 2020 setelah meliwati rangkaian uji coba guna memastikan seluruh sistem berfungsi baik.
001A bakal meniadi kapal induk pertama China yang sepenuhnya hasil karya dalam negerinya, berbeda dengan kapal induk sebelumnya, Liaoning yang dibangun galangan kapal Ukrainia, dibeli dalam kondisi setengah jadi dan diteruskan pembuatannya sebelum masuk jajaran AL China pada 2012.
Dengan bobot 50.000 ton,001A, baik Liaoning maupun 001A mampu mengangkut 40 pesawat dan memiliki landasan lompat yang memungkinkan pesawat-pesawat tempur yang diangkutnya lepas landas.
Beijing tampaknya terobsesi membangun kekuatan AL-nya, terutama terkait dengan klaim mereka atas Laut China Selatan dan memperluas pengaruh di kawasan Samudera Hindia dan Samudra Pasifik.
Kekuatan AL China dibangun, tentu tidak sekedar untuk mempertahankan diri, tetapi juga untuk unjuk gigi di perairan Laut China Selatan yang disengketakan banyak pihak (Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam).
Anggaran pertahanan China sebesar 1,1 triliun Yuan atau sekitar Rp2.450 triliun pada 2018 mencerminkan ambisi negara tirai bambu itu untuk menjadi raksasa militer dunia, termasuk mewujudkan armada AL-nya ke level “Blue Ocean Navy”, bukan sekedar “Coast Guard” atau penjaga pantai.
AL China sejauh ini juga sudah “go internasional” dengan menempatkan armadanya di Djibouti, bersanding dengan armada AS dan Rusia dan sejumlah AL negara Eropa yang hadir di kawasan Timur Tengah.
Walau pun kecil dibandingkan anggaran pertahanan AS yang mencapai sekitar Rp8.000 triliun sehingga mampu membangun armada laut yang jauh lebih modern dan saat ini mengoperasikan 11 kapal induk, anggaran pertahanan China jauh lebih besar dibandingkan anggaran pertahanan RI yang cuma Rp103 triliun.
Sebagai perbandingan, kapal induk AS USS Carl Vinson dan USS Ronald Reagan ( 97.000 ton) yang beberapa waktu lalu merapat ke Samudera Pasifik guna mengantisipasi konflik di Semenanjung Korea, mampu mengangkut 60 pesawat tempur (F-16 Fighting Falcon, F-18 Hornet atau F-22 Raptor).
Berbeda dengan kapal induk AS yang bertenaga nuklir sehingga bisa berlayar berbulan-bulan, kapal induk buatan China masih menggunakan teknologi lawas menggunakan mesin konvensional.
RI sebagai negara maritim dengan semboyan angkatan lautnya “Jalesveva Jayamahe” atau “di laut kita jaya”, walau dengan anggaran terbatas, dalam jangka panjang, agar disegani, tentu harus membangun AL yang mumpuni dan modern. (AP/AFP/Reuters/NS)





