
TNI-AL diperkuat lagi dengan tibanya kapal selam KRI Ardadedali-404 di Pangkalan Komando Armada Timur Surabaya yang dipesan dari galangan kapal di Okpo, Korea Selatan, Kamis (17/5).
KRI Ardadedali merupakan salah satu dari tiga unit kapal selam type 209 (versi Korsel dinamai Chang Bogo) yang dibeli dengan kontrak senilai 1 milyar dolar AS (sekitar Rp14 triliun) dengan galangan kapal Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan atas lisensi dari Jerman.
KRI Nagapasa-403 yang tiba terlebih dulu sudah memperkuat armada TNI-AL, sedangkan kapal selam pesanan berikutnya yakni KRI Nagarangsang-405 yang sedang dibangun di PT PAL Surabaya dalam program alih teknologi, dijadwalkan rampung tahun ini.
Dua kapal selam type 209 terdahulu yang dimiliki yakni KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 yang dibuat di galangan Howaldwerke-Deutsch Werft (HDW), Jerman juga telah dioperasikan di jajaran armada kawasan timur TNI-AL.
Jadi, TNI-AL akan segera memiliki seluruhnya lima kapal selam tenaga diesel-listrik variant type 209 dari 12 unit kapal selam yang dibutuhkan untuk mencapai kekuatan minimal dasar (minimum essential force).
Menurut catatan, kapal selam type 209 yang berbobot 1.400 ton, 40 awak, panjang lunas 61,3 meter dan lebar 7,6 meter, mampu melaju dalam kecepatan 21 knot di bawah permukaan air.
Kapal-kapal selam seri 209 mampu berlayar non-stop selama 50 hari dan dilengkapi torpedo “black shark” buatan Itali serta bisa dipasangi rudal anti kapal permukaan seperti “Harpoon” buatan AS.
Indonesia di era tahun ’60-an saat kampanye Trikora untuk merebut Irian Barat, pernah memiliki armada laut yang cukup disegani di kawasan Asia dengan 12 kapal selam kelas “Whiskey” buatan Uni Soviet.
Sayang, akibat belum memadainya kemampuan merawatnya saat itu, baik dari sisi penguasaan teknologi mau pun anggaran, begitu pula minimnya sarana dan prasarana penunjangnya, kapal-kapal perang yang harganya mahal karena berteknologi canggih pada zamannya itu, usia pakainya sangat singkat.
KRI Irian
Lebih ironis lagi, penjelajah (cruiser) KRI Irian dengan bobot 13.600 ton, panjang 210 meter dan lebar 22 meter – kapal perang terbesar yang pernah dimiliki TNI-AL hingga kini – hanya sempat digunakan beberapa tahun saja sebelum kemudian konon dijual sebagai besi tua.
KRI Irian yang dipersenjatai dengan masing-masing 12 kanon kaliber 152 mm dan 100 mm, 32 penangkis serangan udara 37 mm dan 10 tabung torpedo adalah salah satu dari 13 kapal kelas Sverdlov yang dibangun Uni Soviet di era ’50-an.
“KRI Irian tidak gentar menghadapi kapal induk Karel Doorman (yang ditempatkan Belanda ke laut sekitar Irian Barat saat konfrontasi waktu itu –red), tapi takluk di tangan Pak Jufri, penjual besi tua dari Madura, “ demikian guyonan publik.
Nasib KRI Irian masih misteri hingga kini. Ada yang bilang dijual ke Hong Kong atau Taiwan, ada pula yang menyebutkan kapal itu dicegat dan ditarik kembali oleh pihak Soviet karena sesuai perjanjian, tidak bisa dioperkan ke pihak ketiga. Entah versi mana yang benar, mudah-mudahan misteri ini bisa terkuak.
Sejalan dengan membaiknya perekonomian RI pasca Orde Baru dan kemajuan perkembangan teknologi , TNI-AL juga terus meningkatkan keandalan dan memodernisasikan armadanya.
Paling tidak TNI-AL saat ini diperkuat enam kapal fregat berkemampuan tidak kasat radar atau siluman (stealth) buatan galangan SIGMA, Belanda yakni KRI Diponegoro-365, KRI Sultan Hasannudin-366, KRI Sultan Iskandar Muda-367, KRI Frans Kaisiepo 368 dan yang terbaru KRI RE Martadinata-337 dan KRI Ngurah Rai-338.
Sebanyak 39 kapal perang bekas ex-Jerman Timur yakni korvet type Frosch, pengangkut tank (LST) Parchim dan penyapu ranjau Condor yang dibeli di era kepemimpinan Presiden BJ Habibie di era ’90-an sejauh ini juga masih dioperasikan jajaran TNI AL.
Dengan nenek moyang pelaut dan sebagai negara maritim terdiri dari sekitar 13.667 pulau, RI selayaknya memiliki armada laut yang tangguh guna mengamankan wilayahnya dari aksi penyelundupan dan pencurian ikan, menjaga kedaulatan negara serta ikut berperan dalam mewujudkan perdamaian dunia.
“Valesveva Jayamahe” atau di “Laut Kita Jaya” selayaknya tidak hanya menjadi slogan kosong tanpa makna.




