Di Laut (seharusnya) TNI AL Jaya

KRI Nagapasa, kapal selam TNI AL kelas Changbogo yang diuat di Korsel (merdeka)

SALAH satu dari tiga kapal selam kelas Changbogo pesanan Indonesia yakni KRI Nagapasa sudah selesai dibuat di galangan kapal Daewoo, Korea Selatan dan tidak lama lagi akan memperkuat jajaran komando armada timur Indonesia.

Satu kapal lagi akan dibangun di galangan kapal yang sama milik Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Co Ltd. Di kota Okpo, Geoje, Korsel dan satu lagi , sesuai dengan program alih teknologi, akan dibangun di galangan kapal PT PAL di Surabaya.

Changbogo merupakan lisensi dari kapal selam S209, aslinya buatan Jerman yang juga sudah dioperasikan sebelumnya oleh TNI AL yakni KRI Cakra dan KRI Nanggala.

Kapal dengan panjang 61,2 meter dengan kecepatan 21,5 knot dan diawaki 40 orang dengan harga 1,1 milyar dollar AS tersebut bisa dipersenjatai dengan torpedo dan rudal harpoon.

Menhan Ryamizard Ryacudu pada acara serah terima RI Nagapasa bernomor lambung 403 di Okpo pekan lalu meyebutkan, kehadiran kapal selam itu diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali pembangunan armada TNI AL ke depan.

Indonesia pernah memiliki armada laut yang cukup disegani di kawasan Asia saat menerima sejumlah kapal perang dari Uni Soviet, termasuk kapal penjelajah RI Irian dan sekitar 10 kapal selam kelas “Kilo” menjelang kampanye merebut kembali Irian Barat di awal era ’60-an.

Hingga kini, TNI AL belum pernah lagi memiliki kapal penjelajah (cruiser) sekelas RI Irian, bahkan juga kelas perusak (destroyer) dengan bobot di bawahnya, paling besar dari kelas fregat atau kelas di bawahnya dari jenis korvet (pengawal).

Pasca tragedi G30S, selain akibat renggangnya hubungan RI dengan Uni Soviet, fokus pembangunan  ekonomi yang dilakukan rezim Orde Baru, membuat hampir seluruh kapal-kapal perang RI ex-Uni Soviet menjadi besi tua karena kelangkaan suku cadang dan minimnya biaya perawatan.

Saat ini , walau masih dengan anggaran terbatas, TNI AL mulai memperkuat kemampuannya antara lain dengan mendatangkan kapal fregat berkemampuan siluman (stealth) kelas Sigma dari Belanda, kapal-kapal selam S201 dan S209 dari Jerman  dan kapal-kapal pengawal serta patroli buatan PT PAL.

Membangun kekuatan laut tentu saja memerlukan dana sangat besar di tengah cekaknya anggaran militer Indonesia (sebesar Rp106 triliun pada APBN 2016/17)  yang sebagian besar atau 60 persen terkuras untuk kesejahteraan prajurit.

Bisa dibayangkan, sebuah kapal sekelas RI Nagapasa saja dibandrol dengan harga 1,1 milyar dollar AS (sekitar Rp14,6 triliun)  belum termasuk untuk menyiapkan pangkalan, logistik, persenjataan dan biaya operasinya sehari-hari.

Namun sebagai negara maritim dengan 13.446 pulau, luas perairan 3,6 juta Km2 dan garis pantai sepajang 100.000 Km, armada laut yang mumpuni untuk menjaganya mutlak diperlukan. Yalesveva Yayamahe. Di Laut Kita Jaya!

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement