BOGOR – Pandemi COVID-19 sudah berlangsung hampir delapan bulan. Hingga kini masih banyak kasus masyarakat yang terpapar virus tersebut. Untuk meredakan penyebaran COVID-19. Kunci utamanya adalah satu komando dari pemerintah dan kepatuhan masyarakat. Juru bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Prof Dr Wiku Adisasmito menegaskan hal tersebut dalam acara Bincang-Bincang Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni (BBA ARM) IPB University Volume 2 bertemakan “Adaptasi Kebiasaan Baru di Era Pandemi”, akhir pekan lalu.
“Untuk menangani kasus COVID-19 komando dari pemerintah harus satu. Jika masing-masing daerah membuat aturan dan kebijakan sendiri, maka akan sulit mengendalikan penyebaran virus yang telah memakan korban ribuan rakyat Indonesia tersebut,” ujar Prof Wiku.
Karena itu, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No 82 Tahun 2020 tentang Satuan Tugas (Satgas) COVID-19. Satgas tersebut yang melakukan koordinasi lintas kementerian/lembaga dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Koordinasi juga dilakukan dengan Satgas Daerah di 34 provinsi, berbagai organisasi, fasilitas layanan kesehatan masyarakat, laboratorium, media, dan swasta.
“Kami telah membuat satu data sebagai alat navigasi sebagai strategi pemerintah untuk menghadapai pandemi ini,” katanya.
Prof Wiku menambahkan, saat ini pemerintah telah membuat peta risiko wilayah penyebaran kondisi COVID-19 dan peta perubahan perilaku masyarakat di setiap daerah. Data terakhir peta risiko ada 27 kabupaten/kota yang mempunyai risiko tinggi dan 370 kabupaten/kota risiko sedang.
Ia berharap ke depan makin banyak relawan untuk memasifkan gerakaan kampanye 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan menjauhi kerumunan) dalam adaptasi kebiasaan baru. Dengan gerakan gotong royong dan saling mengingatkan ini, perubahan perilaku masyarakat akan dapat dipercepat. Apalagi diperkirakan sekitar 17 persen atau hampir 10 juta penduduk Indonesia masih tidak percaya adanya COVID-19.
Alumnus IPB University lainnya, Prof Yudi Pawitan, Ahli Epidemiologi dan Biostatistik di Karolinska Insitutet, Swedia, dalam paparannya menceritakan pengalaman Swedia dalam penanganan COVID-19. “Secara kultur, penanganan yang dilakukan amat didukung semua pihak, mengingat kepercayaan publik kepada pemerintah amat tinggi. Penerapan jaga jarak juga tidak mengalami penolakan. Meskipun secara hasil, kasus COVID-19 di Swedia lebih tinggi dari negara-negara tetangganya, akan tetapi secara umum situasinya tidak lebih buruk dari negara-negara Eropa lainnya. Dan yang pasti, semua orang memang menanti-nanti kehadiran vaksin untuk dapat meredakan wabah tersebut, “ tuturnya.
Narasumber lainnya, Prof Juhaeri Muchtar, alumni IPB University yang saat ini menjadi dosen di University of Carolina, Chapel Hill, Amerika Serikat, membagikan informasi terkini mengenai perkembangan pembuatan vaksin COVID-19. Menurut Juhaeri, ada empat kategori vaksin COVID-19 yang kini tengah dikembangkan.
“Pertama, yang berbahan partikel virus yang inaktif seperti yang dibuat Sinovac. Kedua, dari virus hibrid hidup seperti yang dikembangkan Janssen, dan ketiga bahan berbasis mRNA (Moderna, CureVac, Pfizer, dan Sanofi). Adapun keempat adalah penggunaan adenovirus simpanse yang mengantarkan protein spike CoV-2 untuk memicu respon imun (dikembangkan oleh Oxford/AZ), “ jelasnya.





