Dimanjakan BBM Subsidi

Di Manokwari Papua Barat, dulu sebelum BBM satu harga, harga bensin sampai Rp 80.000,- hingga Rp 100.000,- seliter, tapi tak ada yang demo.

SEJAK 3 September 2022 lalu harga BBM dinaikkan lumayan tinggi. Solar dari Rp 5.150.- menjadi Rp 6.800,- perliter; pertalite dari Rp 7.750 jadi Rp 10.000,- dan pertamax dari Rp 12.500,- jadi Rp 14.500,- Mahasiswa dan buruh pun turun ke jalan, minta pemerintah membatalkan kenaikan itu. Sebetulnya yang geger hanya di Pulau Jawa. Di Papua sana, bensin pernah seliter Rp 100.000,- tak ada yang demo. Kita memang terlalu lama dimanjakan dengan bensin bersubsidi, padahal keuangan negara sedang babak belur. Corona belum selesai, tahun 2022 saja pemerintah menyubsidi BBM sampai Rp 502 triliun. Bagaimana keuangan negara tidak termehek-mehek?

Di era Orde Baru dulu, Menteri Pertambangan Prof. Dr. Subroto (1978-1988) terkenal sekali, sekaligus banyak dibenci orang. Sebab kementriannya paling sering menaikkan harga BBM. Beliaunya pernah bercerita, saat usai salat Jumat banyak jemaah mesjid Istiqlal yang menyalaminya. Tapi ada anak muda yang tadinya kepengin bersalaman dengan menteri, begitu tahu orangnya adalah Menteri Pertambangan Subroto, langsung mundur tak jadi menyalami. “Ngapain nyalami menteri tukang menaikkan harga BBM.” Ujar pemuda itu yang rupanya sempat didengar oleh Prof. Dr. Subroto yang kala itu juga jadi Sekjen OPEC (organisasi negara pengekspor minyak).

Sebetulnya “tukang naikin harga BBM” bukan hanya Subroto. Semua menteri Pertambangan di era Presiden Soeharto  pernah “bikin susah” rakyat lewat harga BBM. Cuma karena beliaunya menjadi Menteri Pertambangan selama dua periode (10 tahun), berarti 10 kali  pula Menteri Subroto menaikkan harga BBM. Dan asal tahu saja, selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto sudah 32 kali pula menaikkan harga BBM. Maka sejak Orde Baru pula akronim BBM itu dipelesetkan menjadi Bola Bali Mundak.

Di masa Orde Baru kita masih ekspor minyak, di era reformasi sampai tahun 2007 juga masih ekspor. Tapi ketika produksi minyak menurun sementara mobil motor dan industri semakin banyak minum bensin, kita berbalik jadi pengimpor minyak. Maka malulah awak jadi anggota OPEC, sehingga pada tahun 2008 Indonesia keluar dari keanggotaan. Celakanya, impor minyak BBM itu harus lewat Petral pula. Padahal semua tahu, keberadaan Petral itu tak lebih benalu dalam tubuh Pertamina. Maka pada era Presiden Jokowi, merujuk pada investigasi ekonom Faisal Basri, Petral pun dibikin wasalam pada tahun 2015.

Mengapa harga BBM di Indonesia relative lebih murah? Karena sejak Orde Lama tahun 1966, subsidi BBM itu sudah diberikan. Di masa Orde Baru juga, terus dilestarikan di era reformasi. Baru di era Presiden Jokowi subsidi BBM dikurangi, bukan dihapus sama sekali. Nah, karena sudah biasa minum bensin yang murah meriah, rakyat pengendara mobil dan motor jadi manja. Dinaikkan lumayan banyak pada ngamuk, demo di mana-mana. Anak buah Said Ikbal yang biasanya hanya demo nuntut kenaikan upah, kini gabung mahasiswa ikut demo minta kenaikan harga BBM dibatalkan.

Para saudara kita di Papua sana ketawa geli melihat ulah pendemo di Pulau Jawa. Dia Papua harga BBM pernah sampai Rp 80.000,- hingga Rp 100.000,- seliter rakyatnya tenang saja, tak ada yang demo. Maka ketika Presiden Jokowi berhasil menyeragamkan harga BBM di Papua sama dengan di wilayah Indonesia, mereka sangat berterima kasih. Lewat program BBM satu harga, rakyat di Papua bisa menyisihkan sebagian uangnya untuk keperluan lain.

Pemerintah menaikkan harga BBM kali ini secara ekstrem, karena dana APBN sudah berdarah-darah. Ditahun 2022 ini, alokasi dana penanggulangan Covid-19 mencapai Rp 455,6 triliun, sementara subsidi BBM-nya mencapai Rp 502 triliun. Dari kebijakan menaikkan harga BBM per 3 September lalu, pemerintah hanya bisa menghemat Rp 50 triliun. Dana tersebut bisa dialihkan untuk keperluan lain.

Pemerintah sudah kobol-kobol, jadi rakyat tak perlu ikut-ikutan dongkol. Toh subsidi BBM tetap ada, hanya sekarang dibuat lebih selektif. Selama ini BBM bersubsidi salah sasaran, 70 persen justru dinikmati orang mampu. Dengan aplikasi “MyPertamina” yang diberlakukan sejak beberapa bulan lalu, pembeli pertalite bisa dikontrol. Sampai pertengahan Agustus lalu, pendaftar “MyPertamina” mencapai angka 620.000.

Luar biasa! Sebegitu banyak mobil dan motor yang mendambakan harga BBM berdiskon meski bukan Lebaran. Mobil dan motor menjadi membludak di seluruh nusantara, itu menunjukkan bahwa rakyat Indonesia sudah banyak yang makmur. Itu semua juga berkat semakin banyak dan meratanya infrastruktur dibangun oleh pemerintah.

Banyaknya jalan tol dibangun di mana-mana, juga menjadi perangsang orang beli kendaraan. Pola pikir keluarga muda sekarang idem ditto! Keluarga dulu, punya rumah dulu, baru mikir mobil kemudian. Tapi keluarga sekarang emang beda, nggak punya rumah nggak papa, yang penting punya mobil. Jadi ironis kan, rumah ngontrak tapi mobilnya kinclong dan suara knalpotnya: dit dit dit…..kredit! (Cantrik Metaram)