“Dinasti” Rajapakse, Penguasa Sri Lanka

Mahinda Rajapakse (74) yang pernah menjabat presiden Sri Lanka dua periode dan tiga kali PM, menang lagi dalam pemilu legislatif yang digelar Jumat (7/8) lalu.

BAGI Sri Lanka (dulu Ceylon),  dinasti politik di tampuk kepemimpinan nasional sudah menjadi tradisi, dan kali ini, PM petahana Mahinda Rajapakse (74) terpilih lagi untuk keempat kalinya sejak 2004.

Mahinda malang melintang di panggung politik Sri Lanka, menjadi PM pada 2004, lalu presiden selama dua periode (2005 – 2015), menjabat  PM lagi selama tiga bulan dari 26 Okt. sampai 3 Des. 2018, terpilih lagi pada 15 Des. 2019, dan kini partainya menang lagi sehingga ia menjadi PM sampai 2024.

Klan Rajapakse yang memimpin Partai Sri Lanka Produjana Paramuna (SLPP) itu meraih 145 atau mayoritas suara dari seluruhnya 225 kursi  parlemen dalam pemilu legislatif yang digelar Jumat lalu (9/8).

Sebelumnya, adik Mahinda, Gotabaya Rajapakse (71) dilantik sebagai presiden pada 18 November 2019, sedangkan saat Mahinda menjadi presiden (2005 – 2015), Gotabaya menjabat menteri pertahanan dan pembangunan kota.

“Dinasti” Rajapaksa juga menempatkan anak pertamanya, Namal Rajapakse (34) sebagai anggota parlemen, begitu pula  adik Mahinda, Basil Rajapakse dan kakaknya, Chamal Rajapakse (77).

Namal yang sudah menjadi anggota parlemen saat berusia 24 tahun (pada 2010) dan reputasinya buruk karena pernah terlibat  pencucian uang dan korupsi, diduga disiapkan menjadi presiden mendatang.

Basil (69) yang pernah menjabat menteri perekonomian (2010-2015) saat Mahinda menjabat presiden, dijuluki “Mr Ten Percent” yakni nilai komisi yang dikutipnya dari proyek-proyek pemerintah, sedangkan Chamal memimpin parlemen negeri itu.

Sedangkan Chamal yang mantan menteri perkapalan dan penerbangan serta pernah menjadi pengawal pribadi PM Sri Lanka (tiga kali dalam periode berbeda), Srimavo Bandaranayake diperkirakan juga akan mendapat posisi penting.

Kentalnya politik dinasti di panggung politik Sri Lanka tercermin dari klan-klan Senanayake, Wickramayake, Wickramasinghe  dan Bandaranayake yang lebih satu kali berkuasa kecuali PM Sir John Kotelawala, Junus R Jayewardene, Ranasinghe Premadasa, Dingiri D. Wijetunga dan DM Jayaratne.

Legacy yang ditorehkan oleh Mahinda yakni keberhasilannya menumpas kelompok separatis militan Macan Tamil (The Liberation of Tigers Tamil Eelam – LTT) pada 2009 setelah terlibat dalam konflik berdarah sejak 1983 yang menewaskan lebih 100 ribu orang.

Tewasnya pentolan LTTE Velupillai Prabakaran pada 18 Mei 2009 setelah sebelumnya menebar teror dengan aksi-aksi bunuh diri dan penghadangan termasuk menewaskan PM India Rajiv Gandhi (21 Mei 1991) melambungkan popularitas Mahinda.

Dengan mayoritas suara di parlemen kali ini, Mahinda diperkirakan juga akan mendorong amendemen konstitusi untuk memperkokoh posisi presiden yang dilemahkan saat di bawah Presiden Maithripala Sirisena (2015 – 2019).

Namun dimana pun, dinasti politik rawan menjadi oligarki kekuasaan dan ajang penumpukan kekayaan oleh sekelompok orang, ketimbang bagi kemakmuran rakyat. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement