Diprotes Cina, TNI AL Bantah Lukai Nelayan Pencuri Ikan di Natuna

Ilustrasi peledakan ilegal fishing di perairan Indonesia/ foto: batamnews

JAKARTA – TNI Angkatan Laut membantah tuduhan pemerintah Cina yakni telah melukai nelayan Cina yang ditemukan di perairan Natuna guna melakukan pencurian ikan.

TNI Angkatan Laut mengatakan pihaknya waktu itu, pada Jumat (17/7/2016) telah melepaskan tembakan peringatan kepada sejumlah kapal nelayan berbendera Cina yang hendak mencuri ikan di perairan Indonesia, namun tidak sampai melukai para Anak Buah Kapal (ABK).

Sanggahan ini disampaikan Kepala dinas penerangan TNI AL Laksamana pertama TNI Edi Sucipto”Angkatan Laut (Indonesia) tidak brutal,” katanya kepada BBC Indonesia, Senin (20/6/2016).

Edi menambahkan awalnya pihaknya menerima laporan ketika itu ada 12 kapal ikan asing yang diduga kapal nelayan Cina yang melakukan pencurian ikan di wilayah perairan Natuna.

Ketika dikejar dan didekati oleh KRI Imam Bonjol, lanjutnya, kapal-kapal tersebut melarikan diri. Sesuai prosedur, pihaknya mengeluarkan peringatan berupa himbauan sebelum akhirnya melakukan penembakan peringatan.

“Ketika dilakukan penembakan peringatan ke udara, dia malah tetap lari, kita berikan tembakan peringatan juga di depannya. Tapi tidak berhenti juga, malah dia mau memutar haluannya mengancam mau menabrak,” ungkap Edi Sucipto.

Pengejaran terus dilakukan dan akhirnya salah-satu kapal nelayan itu dapat dihentikan. Mereka kemudian memastikan bahwa kapal dengan nomor lambung 19038 itu milik nelayan Cina dengan jumlah ABK tujuh orang.

Edi menegaskan ketujuh ABK sudah aman dan tidak ada yang terluka, “Dan tidak ada yang tertembak, dan sekarang semuanya sudah diamankan di Lanal Ranai,” katanya.

Insiden serupa pernah terjadi pada Mei 2016 lalu, pemerintah Cina berkeras bahwa kedelapan ABK dan kapal mereka beroperasi secara sah. Sementara, TNI AL menyatakan nelayan Cina itu melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Natuna.

Advertisement