
SEJUMLAH anak seusia siswa SD tampak terkesima menyaksikan fly pass dan simulasi dog fight pesawat-pesawat tempur dan parade ketiga matra TNI yang digelar dalam upacara HUT ke-72 TNI di lapangan PT Indah Kiat, Banten, Kamis.
Fikiran anak-anak yang beberapa diantaranya mengenakan seragam lengkap mirip TNI itu mungkin menerawang, membayangkan kelak menjadi awak pesawat tempur, tank, kapal selam, pasukan komando atau satuan TNI lainnya.
Dalam acara bertema “Bersama Rakyat TNI Kuat” itu, Presiden Joko Widodo dalam amanatnya menyampaikan keyakinannya untuk mewujudkan TNI sebagai kekuatan regional yang disegani dan garda terdepan dalam menjaga kesatuan dan persatuan Indonesia.
Ia juga meningatkan, TNI harus tetap menjaga jati dirinya menjalankan politik negara sesuai amanat Panglima Besar Soedirman, sehingga loyalitas hanya untuk bangsa dan negara.
“TNI harus menjaga kepentingan rakyat dan keutuhan wilayah NKRI, setia pada pemerintah yang syah, di atas semua golongan, tidak terkotak-kotak dalam politik yang sempit dan terjebak politik praktis, “ ujarnya.
Sementara itu, cekaknya anggaran adalah persoalan klasik yang dihadapi pembangunan kekuatan TNI. Bayangkan, alokasi anggaran TNI selalu di bawah satu persen dari produk domestik bruto (PDB), padahal idealnya 2,5 persen.
Menurut catatan, anggaran TNI dalam APBN 2018 sebesar Rp105,7 triliun, sebagian besar digunakan untuk membayar gaji personil.
Yang menggembirakan, di era kebebasan berpendapat saat ini, menurut jajak pendapat yang digelar harian Kompas, 90,6 persen responden menyatakan puas atas kinerja TNI dan 70,3 persen menilai TNI sudah semakin profesional.
Transparansi anggaran
Di balik itu, harus jujur diakui, kisruh pembelian helikopter AgustaWestland AW101 dan korupsi proyek hibah pesawat tempur Fighting Falcon F16 dari AS menuntut transparansi tatakelola anggaran pengadaan alutsista ke depannya.
Pada kasus pembelian heli AW101 untuk layanan VVIP, kejanggalan terjadi karena walau sudah ditolak Presiden Jokowi dan dicoret oleh kementerian keuangan, proyek itu diteruskan , bahkan tanpa diketahui banyak pihak, heli sudah tiba di gudang TNI AU di Halimperdanakusuma, Jakarta.
Sementara proyek hibah satu skadron pesawat F-16 menyeret Brigjen TNI Teddy Hernayadi terbui seumur hidup setelah terbukti menilap anggaran proyek tersebut bernilai sekitar Rp167 milyar.
HUT TNI kali ini diisi dengan sosio drama perjuangan Jenderal Besar Soedirman, defile sekitar 6.000 lebih personil satuan ketiga matra TNI (AD, AL dan AU) batalion taruna AKABRI dan Aparat Sipil Negara.
Di udara, a.l. diikuti fly pass pesawat angkut CASA N212, heli serang Apache AH64E dan Mi-35, pembom taktis Super Tucano dan Jet latih lanjutan KT-1 Wong Bee serta simulasi pertempuran udara antara pesawat tempur Sukhoi SU-27 dan SU-30) serta F-16.
TNI-AL menampilkan 17 kapal perang a.l. korvet berkemampuan siluman “stealth” KRI Diponegoro dam kapal rudal KRI Martadinata serta kapal selam KRI Nagapasa yang baru didatangkan dari Korsel dan dua lagi sedang dirakit PT PAL.
Howitzer atau meriam lapangan kaliber 155M Caessar dan roket laras banyak darat ke darat (MRLS) Astros buatan Brazil, tank tempur utama Leopard dan tank medium Marder buatan Jerman, panser Anoa dan Badak buatan PT Pindad tampak diantara alutsista yang ditampilkan TNI-AD.
Acara juga dimeriahkan 72 penerjun melambangkan HUT ke-72 TNI, operasi pasukan katak oleh satuan Kopaska TNI AL, Den 81 Kopassus, Tontaipur Kostrad dan Denjaka Marinir serta satuan lainnya.
Selain cekaknya anggaran, perubahan paradigma pertahanan akibat kemajuan teknologi misalnya dari perang konvensional ke perang cyber dan juga perang proxy yang menggunakan tangan-tangan pihak lain dan juga perang melawan terorisme harus terus diantisipasi.
Transparansi dan tatakelola anggaran yang baik tentunya dituntut pula untuk membangun postur TNI yang ramping, efisien dan efektif.




