Diskon Waktu Salat

Belajar mengaji perlu ditanamkan sejak kecil.

HARI ini, 27 Rajab 1444 H bertepatan dengan 18 Februari 2023, umat Islam memperingati Isra Mikraj. Ini mengenang kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW ke langit menemui Allah Robbil Izati. Isra adalah perjalanan pada malam hari dari Mekah menuju Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mikraj adalah perjalanan Nabi diangkat menuju langit ketujuh, Sidratul Muntaha, dan berjumpa dengan Allah SWT.

Di sinilah kisahnya umat Islam memperoleh diskon waktu salat dari 50 kali menjadi hanya 5 kali dalam sehari semalam. Bayangkan jika tak ada dispensasi sebanyak itu. Sehari wajib salat 50 kali, berarti bila dipukul rata, hampir setiap setengah jam umat Islam harus sujud pada Illahi. Lalu kapan pula kerja dan kapan pula tidurnya?

Isra Miraj sendiri terjadi di masa kesepuluh kenabian. Dalam perjalanan tersebut Nabi diperlihatkan oleh Allah SWT betapa indahnya surga, lengkap dengan pelbagai hal yang membuat bahagia. Beliau juga diperlihatkan kondisi neraka, lengkap dengan kejadian mengerikan yang dialami oleh mereka yang mendapatkan, akibat kelakuannya selama di dunia.

Nabi Muhammad didampingi malaikat Jibril, dengan naik buraq, makhluk ciptaan Allah yang bisa terbang begitu cepat super kilat. Bayangkan, dari Mekah ke Masjidil Aksa di Palestina, lalu naik ke langit saf 7 dan kembali lagi ke bumi; perjalanan PP hanya ditempuh semalam. Orang kafir Quraish kala itu tak percaya, tapi itulah mukjizat Allah untuk Nabi-Nya.

Di langit saf 7 itulah Nabi menerima perintah salat dari Allah SWT sebanyak 50 kali. Nabi pun mengiyakan dan turun ke bumi. Tadi di langit ke-6 ketemu Nabi Musa, katanya 50 kali terlalu berat buat umat Muhammad, maka Nabi disuruhnya minta keringanan lagi. Nabi pun balik dan dapat diskon lagi, sehingga waktu salat tinggal 10 kali.

Tapi kata Nabi Musa, itu masih cukup berat bagi umat Muhammad. Maka diminta minta keringanan lagi, sehingga pada akhirnya waktu salat tinggal 5 kali.  Itupun Nabi Musa masih menyuruh minta keringanan. Tapi jawab Nabi, “Sudahlah malu saya jika minta keringanan lagi.” Nah sejak itulah hingga sekarang, kewajiban salat umat Islam hanya 5 kali, yakni Isya –di Indonesia–  sekitar pukul 19:30, Subuh 04:30, Dhuhur 12:00, Ashar 15:30, Maghrib pukul 18:00.

Itupun, banyak umat Muhammad di masa kini yang mencoba menawar menjadi 1 kali saja. Dia tidak menjalankan salat Ashar, Maghrib, Isya dan Subuh tapi hanya Dhuhurnya saja di hari Jumat alias Jumatan doang. Maka guru penulis saat di PGA Muhammadiyah Yogyakarta dulu mengatakan, salat itu ibarat laporan pada Allah SWT. “Lha laporan kok hanya seminggu sekali, apa yang mau dilaporkan?” kata Bu Siti Alwiyah yang ternyata Bude-nya Amir Biqi tokoh peristiwa Tanjung Priok di 1983.

Itu masih mending, banyak lho yang mengaku Islam tapi hanya dalam KTP saja, yang di zaman Belanda disebut Islam abangan. Dia hanya mengucapkan kalimah Syahadat saat khitanan dan nikah saja. Banyak pula yang berani pakai nama Muhammad di depan namanya, tapi tak pernah menjalankan salat 5 waktu. Ada pula yang baru mau salat lantaran naksir anak gadis pak Kiyai. Itu salatnya bukan lillahi, melainkan li bintun jamilun (demi gadis cantik).

Meski salat 5 waktu itu sama di mana saja, tapi gayanya bisa berbeda-beda. Ini bisa disaksikan saat musim haji di Mekah-Madinah. Umumnya di Indonesia kan kedua tangan selalu  dalam posisi sedakep, tapi di Mekah-Madinah sana banyak sekali yang posisi tangannya tetap lurus ke bawah. Maka jika boleh membandingkan, gaya salat orang Indonesia paling bagus.

Khusus di Indonesia pun, banyak ditemukan sedikit perbedaan. Misalnya kaum NU selalu pakai doa Qunut di saat Subuh, sementara Muhammadiyah tidak. Gaya takbir pun ada yang berbeda. Umumnya mengangkat kedua tangan terbuka dalam posisi kedua ibu jari dekat telinga, tapi ada juga yang takbirnya mirip orang angkat tangan.

Rukuk pun juga suka berbeda-beda. Mayoritas kedua tangan bertumpu pada kedua lutut, tapi ada yang bisa 10 Cm jauh di bawahnya, sehingga posisi menjadi lebih membungkuk. Bahkan posisi berdiri saat mulai salat, bisa macam-macam. Umumnya kedua kaki berjarak 2 jengkal, tapi ada pula yang mbegagah terlalu lebar sehingga jadi makan tempat saat salat berjamaah.

Sikap salat bisa macam-macam, biasanya tergantung dari siapa dulu guru ngajinya pertama kali. Penulis sendiri selain dari guru ngaji di kampung, juga pakai rujukan buku panduan salat karya Muhammad Said, buku saku terbitan Almaarif, Jl. Tamblong Bandung. Hingga sekarang ketika salat berjaamaah sang imam membacakan surat-surat Qur’an dari Juz’ama, ingatan penulis langsung ke Mbah Amat Sadali guru ngajiku di waktu bocah. (Cantrik Metaram)

Advertisement