Haiti Dilanda Kerusuhan

Haiti dilanda kerusuhan massa sejak tahun lalu dipicu kesulitan ekonomi rakyat dan tak ada solusi yang ditawarkan pemerintah yang otoriter dan serba tertutup.

AKSI-aksi kekerasan, penjarahan dan penculikan dipicu kesulitan ekonomi tanpa solusi yang berlangsung sejak tahun lalu di ibukota Haiti, Port Au-Prince merembet ke kota-kota lainnya

Sejumlah anggota polisi dibunuh kelompok gangster, toko-toko dijarah, bahkan rumah Dinas PM Haiti Ariel Henry dan bandara di ibukota diserbu massa (16/2)  sehingga situasi tidak terkendali.

Kegeraman massa bermula saat terjadi kenaikan luar biasa harga bahan bakar solar, bensin dan minyak tanah, sehingga tidak terjangkau 11,5 juta penduduk di negeri di kawasan Laut Karibia bekas jajahan Perancis itu.

Harga bensin misalnya, yang tadinya pada kisaran 350 gourdes (sekitar Rp45-ribu ), melonjak menjadi 670 gourdes (Rp85-ribu).

Haiti yang dijajah dan merdeka dari Perancis pada 1804 tidak lepas dari aksi-aksi kerusuhan akibat kemiskinan dan rezim pemerintah otoriter berasal dari para budak perkebunan tebu Perancis yang memimpin negeri itu dengan tangan besi .

Berbeda dengan Amerika Serikat yang lebih dulu merdeka pada (1776)  yang kini jadi penguasa dunia, Haiti yang menyusul sebagai negara kedua di benua Amerika yang merdeka, sampai hari ini masih bergelut dengan kemiskinan dan kekacauan.

Pemerintah Kanada yang juga anggota blok perdagangan CARICOM bersama Haiti berencana mengirimkan kapal perang untuk membantu mengamankan negeri tersebut dari aksi-aksi geng kriminal, sementara AS mengirimkan sejumlah kendaraan lapis baja.

Sejak mantan Presiden Haiti Jovenel Moise dibunuh pada Juli 2021, geng-geng bersenjata di Haiti semakin liar dan meraja lela dan menurut perkiraan PBB akhir tahun lalu, 60 persen wilayah Port-au-Prince di bawah kendali mereka.

Selama lebih sebulan pada September 2022, aliansi geng G9 Family and Allies memblokade terminal bahan bakar utama di Port-au-Prince sehingga harga kebutuhan pokok tersebut membubung tinggi.

Aksi blokade tersebut secara otomatis juga menghentikan kegiatan perdagangan di sebagian besar kota dan memicu krisis kemanusiaan termasuk menyebabkan tumpukan sampah di tengah kota dan krisis air bersih yang memicu wabah kolera.

Haiti sebuah contoh negara gagal dimana para elitenya, yang berasal dari para budak perkebunan Perancis bak “lupa kacang pada kulitnya”, bukannya amanah, tapi memimpin dengan tangan besi dan zalim serta lalim pada rakyat.  (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

Advertisement