Doa Sekedar Basa Basi

Ilustrasi

KARENA menjadi tersangka kasus e-KTP, Ketua DPR Setya Novanto jadi sibuk sekali. Dalam seminggu punya dua acara penting sekaligus. Ya sidang praperadilan kasusnya, ya menjalani pemeriksaan KPK. Tapi dengan alasan sedang sakit, akhirnya Setya Novanto gagal diperiksa. Dan ternyata dia memang benar-benar masuk rumah sakit. Kata istrinya, petinggi DPR sekaligus Ketum Golkar itu sedang menderita penyakit pengapuran jantung. “Doanya saja ya….!” mohon sang istri.

Muncul dua rasa keheranan di sini. Pertama, kenapa Setya Novanto bisa kena pengapuran jantung, padahal sepanjang usianya dia tak pernah menjadi guru. Kalau guru sih wajar saja kena pengapuran, karena setiap hari pakai kapur. Itu pun guru tahun 1980-an. Guru sekarang sehari-hari kan pakai spidol menulis di papan tulis.

Kedua, bila dilihat di internet, sepertinya orang tidak rela memberikan doa cuma-cuma buat Ketua DPR itu. Banyak komentar yang justru miring, mendoakan dia cepat sembuh tapi untuk segera menjalani proses hukum. Bahkan ada juga yang dengan sadis mengatakan: semoga cepat berangkat…. Entah berangkat ke mana tuh.

Padahal sebagai orang timur, meski tidak dalam posisi mencalonkan diri sebagai gubernur DKI, harus tetap santun dan beradab. Ketika orang minta didoakan, ya doakan sajalah. Toh doa tidak perlu beli, dan meski sekedar kata “saya doakan…..”, keluarga pemohon doa karena sedang kena musibah, akan menjadi lega karenanya.

Dalam Islam, jangankan mendoakan, senyum saja sudah merupakan ibadah.  Tapi gara-gara kasus Setya Novanto, untuk berdoa saja orang menjadi pelit. Padahal meski doa itu sekedar basa-basi, pemohon takkan menagih di lain kesempatan.  Takkan ada orang akan mengatakan: “Mana doamu? Belum dibacakan juga ya?”

Doa kadang memang sekedar menjadi pemanis pergaulan. Meski dia mengatakan, “Saya doakan ya…”, apakah dia benar-benar kemudian berdoa, allohuma…….dan seterusnya; belum tentu. Ada juga memang yang lalu mendoakan, tapi kebanyakan ya sekedar basa-basi politik pergaulan belaka.

Sebagai umat beragama, sejak SD pun kita sudah diajari berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Untuk sekolah Islam, saat masuk kelas doa biasanya dimulai dengan: Rodlitu billahi robba, wabil islamidina…..dst, sedangkan pulangnya berdoa diawali dengan kata: allahuma arinal hako-hako, warzuqnas tiba’ah….dst,.

Doa itu ribuan, tapi yang terkenal dikemas dalam buku “Seratus satu doa”, yang kesemuanya diambil dari Qur’an dan Hadits. Ada doa ziarah kubur, doa kunjungi orang sakit, doa berbuka puasa, doa mau dan bangun tidur, doa mau masuk rumah, doa keluar rumah, doa naik kendaraaan, bahkan doa bersetubuh pun juga ada.

Selesai salat 5 waktu, berdzikir itu juga bagian dari doa. Tapi itu biasanya dilakukan mereka yang sudah tua-tua. Yang muda-muda sih, biasanya begitu imam baca salam, langsung ikut salam dan menghapus muka, lalu meninggalkan mesjid. Orang Jawa bilang, itu namanya: salam prettt….., habis salam langsung kabur.

“Berdoalah kepadaku, niscaya akan kupernankan,” firman Allah dalam QS. Ghafir: 60. Maka orang yang “salam prettt” itu tadi, termasuk orang yang sombong, karena berdoa saja tidak mau. Padahal segala kemurahan yang kita nikmati di dunia ini semua karena ridla atas-Nya.

Tak semua ora berdoa langsung dikabulkan-Nya. Banyak juga yang makbul ketika yang memohon telah meninggal. Kata para uztadz dan ulama, hanya doanya orang yang teraniaya cepat dikabulkan. Tapi doa tanpa usaha juga akan sia-sia belaka. Sebab Allah dalam surat Arra’d ayat 11 mengingatkan, “Allah takkan mengubah nasib suatu kaum, tanpa kaum itu sendiri berusaha mengubah nasibnya.” (Cantrik Metaram)

Advertisement