JAKARTA, KBKNEWS.id – Erupsi Gunung Anak Krakatau telah usai, tetapi masyarakat tetap diminta mewaspadai dampak abu vulkanik terhadap kesehatan.
Abu yang masih menumpuk di tanah, atap, dan jalan dapat kembali beterbangan akibat angin, kendaraan, maupun aktivitas pembersihan.
Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, mengatakan risiko paparan abu vulkanik dapat berlangsung selama berhari-hari hingga berminggu-minggu, sampai abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan.
Menurutnya, seperti dilansir Antara, abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Partikelnya tajam, bersudut, mengandung silika, serta sebagian berukuran sangat halus seperti PM10 dan PM2.5 yang dapat masuk hingga saluran pernapasan bawah.
Paparan abu dapat menyebabkan iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk, sesak napas, hingga dada terasa berat. Kondisi ini lebih berisiko bagi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bronkitis kronis, dan rinitis alergi karena dapat memicu kekambuhan.
Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata, menyebabkan mata merah hingga gangguan pada kornea. Pengguna lensa kontak disarankan sementara beralih menggunakan kacamata.
Selain itu, abu dapat menyebabkan iritasi kulit serta mencemari makanan dan air yang tidak terlindungi. Partikel PM2.5 juga berpotensi memperburuk kondisi penderita penyakit jantung.
Sukamto menyarankan masyarakat menggunakan masker N95, KN95, atau FFP2 saat berada di lingkungan yang masih terpapar abu. Masker harus terpasang rapat tanpa celah di sekitar hidung dan pipi agar perlindungannya optimal.
Bagi penderita asma dan PPOK, obat pengontrol serta obat pelega sebaiknya selalu tersedia. Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak yang memburuk, mengi yang tidak membaik dengan inhaler, nyeri dada, demam disertai batuk berdahak menetap, nyeri mata, atau penglihatan kabur.
Sebelumnya, persebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda teridentifikasi mengarah ke sejumlah wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Erupsi Anak Krakatau menjadi salah satu aktivitas vulkanik yang terjadi berdekatan dengan sejumlah gunung api lain di Indonesia, termasuk Gunung Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.





