JAKARTA, KBKNEWS.id – Seorang peternak binaan Dompet Dhuafa di Desa Tolokan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, berhasil mengembangkan domba kurban berbobot hingga 41 kilogram melalui program Jejaring Peternak Nusantara (Jantara).
Keberhasilan itu disebut menjadi bukti bahwa pendampingan dan pelatihan mampu meningkatkan kualitas ternak sekaligus keterampilan peternak kecil.
Peternak bernama Kabul Budiyono mengaku banyak memperoleh pengetahuan baru sejak bergabung dalam program tersebut. Ia mengatakan kini para peternak tidak hanya memahami soal pemberian pakan, tetapi juga mampu menangani penyakit ternak secara mandiri.
“Dari dulu jadi peternak biasa yang tahunya hanya memberi makan, sekarang kita bisa tahu cara mengobati, meneliti penyakitnya apa, obatnya apa,” kata Kabul.
Menurut Kabul, tantangan terbesar datang dari proses adaptasi domba yang baru tiba di dataran tinggi Desa Tolokan dengan suhu dingin dan lembap. Sejumlah ternak sempat mengalami penyakit kulit, mata merah, hingga batuk. Namun berkat pelatihan yang diberikan, para peternak bisa menangani kondisi tersebut tanpa bergantung penuh pada tenaga medis hewan.
Ia menjelaskan keberhasilan penggemukan domba sangat dipengaruhi kedisiplinan dalam pemberian pakan. Kabul menerapkan pola pemberian pakan berdasarkan persentase bobot tubuh ternak sehingga pertumbuhan domba menjadi lebih optimal.
Tim Monitoring dan Evaluasi Dompet Dhuafa Farm Jawa Tengah juga telah melakukan quality control terhadap ternak di lokasi tersebut. Dari 48 ekor domba yang diperiksa, sebanyak 45 ekor dinyatakan lolos standar fisik dan bobot untuk hewan kurban.
Muhammad Miftahul Huda dari Dompet Dhuafa Farm Jawa Tengah mengatakan kondisi alam Desa Tolokan membantu proses penggemukan karena suhu yang sejuk membuat ternak terhindar dari stres panas.
Program Jantara sendiri tidak hanya difokuskan untuk kebutuhan kurban tahunan, tetapi juga diarahkan sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat desa melalui pengembangan usaha peternakan berkelanjutan.





