KAIRO, KBKNews.id– Di tengah hiruk-pikuk Kota Kairo Lama, berdiri sebuah monumen spiritual yang tak pernah sepi dari lambaian doa dan decak kagum para peziarah. Makam Al-Imam Muhammad bin Idris Al-Syafi‘i, pendiri mazhab Syafi’i yang dianut oleh mayoritas umat Muslim di Indonesia.
Makam ini menjadi salah satu pusat wisata religi paling megah di Mesir. Kompleks ini menyimpan lapisan sejarah dari berbagai dinasti Islam yang pernah berkuasa di tanah para nabi ini.
Imam Syafi’i lahir di Gaza pada tahun 150 Hijriah (767 Masehi) dan melakukan perjalanan spiritual serta intelektual yang luas, mulai dari Mekkah, Madinah, hingga Baghdad, sebelum akhirnya menetap di Mesir pada tahun 199 Hijriah. Di bawah naungan langit Fustat (Kairo kuno), dia merevisi kitab Al-Risalah dan melahirkan karya monumental Al-Umm. Ketika dia wafat pada tahun 204 Hijriah (820 Masehi), jasadnya dimakamkan di pemakaman keluarga tempat sahabatnya, Abd Allah ibn ‘Abd al-Hakam, yang kemudian dengan cepat berkembang menjadi situs peziarahan.

Daya tarik utama dari kompleks ini adalah kubahnya yang megah, yang dikenal sebagai salah satu kubah kayu terbesar di Historic Cairo. Sejarah mencatat bahwa penguasa Ayyubiyah, Sultan Al-Kamil, mendirikan kubah ikonik ini di atas makam pada tahun 608 Hijriah (1211 Masehi) untuk menghormati sang Imam.
Keunikan arsitektur kubah ini terlihat dari hiasan interiornya yang sangat detail, memadukan seni ukir kayu berlapis, kaligrafi Arab yang rumit, serta motif geometris khas yang memancarkan ketenangan religius bagi siapa saja yang memandangnya dari bawah.
Menariknya, ekskavasi arkeologis terbaru yang dilakukan pada tahun 2017 mengungkap fakta sejarah yang sempat tersembunyi selama berabad-abad. Di bawah lantai bangunan yang berdiri saat ini, para arkeolog menemukan sisa-sisa fondasi kuil atau kubah dari era Dinasti Fatimiyah yang berasal dari abad ke-6 Hijriah (abad ke-12 Masehi). Penemuan lebih dari 1.500 fragmen dekorasi stucco (gips ukir), marmer, dan tembikar ini membuktikan bahwa situs suci ini terus-menerus dirawat, diubah, dan diperluas oleh penguasa Mesir lintas generasi demi menjaga kelestariannya.
Sebagai bagian dari upaya menjaga warisan dunia tersebut, sebuah proyek konservasi besar-besaran telah dilaksanakan antara tahun 2016 hingga 2021. Proyek ini menerapkan dua pendekatan ilmiah yang berbeda namun saling melengkapi, yaitu restorasi untuk mengembalikan elemen yang hilang—seperti merekonstruksi panel gips menggunakan cetakan tahun 1941-1953—serta konservasi untuk mempertahankan struktur asli Ayyubiyah yang tersembunyi di balik dinding. Melalui ketelitian para ahli, keindahan interior kubah yang sempat memudar akibat waktu kini dapat kembali dinikmati dengan warna-warni aslinya yang menakjubkan.
Saat memasuki ruang utama makam, suasana khusyuk langsung menyergap para pengunjung. Di dalam ruangan, terdapat cenotaph (peti kayu replika makam) berukir indah yang dilindungi oleh pagar kayu pembatas berbentuk ornamen khas Arabesque. Peti kayu asli yang menandai makam Imam Syafi’i sebenarnya dibuat pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi oleh seorang pengrajin kayu legendaris bernama ‘Ubayd al-Najjar ibn Ma’ali, sebuah bukti nyata bagaimana para sultan mengagungkan posisi sang Imam dalam konstelasi politik dan spiritual mereka.
Bagi peziarah asal Asia Tenggara, khususnya Indonesia, mengunjungi makam ini membawa kedekatan emosional yang sangat mendalam. Mazhab Syafi’i telah membentuk sendi-sendi hukum Islam, tradisi pesantren, hingga budaya harian masyarakat Nusantara.
Tidak heran jika rombongan mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar maupun wisatawan domestik kerap terlihat duduk bersila di sekitar makam, melantunkan ayat suci Alquran dan selawat, menciptakan jembatan spiritual yang kuat antara Kairo dan Indonesia.
Selain ruang makam utama, kompleks ini kini dilengkapi dengan Pusat Pengunjung (Visitors’ Centre) yang sangat informatif dan ramah wisatawan. Di pusat informasi ini, pengunjung dapat mempelajari sejarah hidup Imam Syafi’i melalui bait-bait puisinya yang sarat makna, salah satunya adalah bait terkenal tentang pentingnya menuntut ilmu dan merantau. Selain itu, tersedia pula maket arsitektur, ruang pemutaran film dokumenter, serta ruang aktivitas interaktif yang dirancang khusus untuk mengedukasi generasi muda mengenai pentingnya pelestarian situs bersejarah.
Dinding-dinding di area luar dan koridor kompleks juga dihiasi dengan guratan kaligrafi indah yang memuat petuah-petuah bijak sang Imam. Salah satu tulisan kaligrafi yang paling menyita perhatian adalah gubahan syair beliau yang berbunyi, “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat; Dan ia mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

Untaian nasihat ini terus menjadi refleksi abadi bagi para penuntut ilmu yang datang dari berbagai belahan dunia.





