Dompet Dhuafa Berencana Dirikan Tuna Rungu Centre Bertaraf Internasional di Purwokerto

Dompet Dhuafa jajaki pendirian Tuna Rungu Centre di Purwokerto/ RRI

BANYUMAS – Pendiri Dompet Dhuafa Parni Hadi ingin mewujudkan cita-cita membantu  penderita Tuna rungu di Indonesia dengan melakukan pendekatan dengan sejumlah perusahaan pembuat alat pendengar di luar negeri seperti Canada dan sejumlah negara Eropa.

Dari pendekatan tersebut Dompet Dhuafa memperoleh harga khusus charity, atau hampir setengah dari harga normal. Harga di pasaran alat bantu pendengaran satu unit rata-rata Rp 30 juta, namun Dompet Dhuafa bisa memperoleh dengan harga berkisar Rp16 juta rupiah.

“Mahalnya peralatan alat bantu dengar ini, membuat kendala tersendiri bagi penderita tuna rungu. Bayangkan 1 biji alat bantu dengar Rp 30 juta , sepasang Rp 60 juta harus disiapkan” ujar Parni Hadi, Kamis (1/3/2018), di Purwokerto.

Untuk tahap pertama telah diserahkan 8 buah alat bantu pendengaran kepada 8 anak tuna rungu di kota Purwokerto. Dari hasil evaluasi dari 8 anak berkebutuhan khusus ini, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

“ Anak-anak ini, sudah mulai bisa mendengar dan berkomunikasi bukan saja dengan bahasa isyarat namun sudah mulai bisa mengucap dan mempunyai perbendaharaan kata untuk berucap” tambah Parni Hadi, dikutip RRI.

Misalnya, Kurnia Rahmaq (15) pelajar kelas 9 sebuah SMP swasta di Purwokerto, yang menderita tuna rungu sejak kecil, sekarang sudah lancar berkomunikasi secara baik. Berkat alat bantu yang di salurkan melalui Dompet Dhuafa.

Melalui Dompet Dhuafa, Parni juga akan mempertimbangkan pendirian Tuna Rungu Centre (TRC), bertaraf Internasional, di kota Purwokerto dengan mengandeng berbagai pihak, termasuk dari perguruan tinggi.

Selain memberikan alat bantu pendengaran, para penyandang tuna rungu ini diberi pelatihan life skills, seperti yang dilakukan saat ini dengan menggandeng STT Telkom di Purwokerto.

Dompet Dhuafa juga akan menggandeng sejumlah pihak terkait termasuk departemen kesehatan, Kementrian sosial, dan para pengusaha untuk membentuk TRC di Purwokerto.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2010, jumlah penyandang cacat Tuna rungu di Indonesia mencapai 1,25 persen dari jumlah penduduk yang mencapai234,2 juta jiwa.

Advertisement