Dompet Dhuafa Berkolaborasi dengan POP TB Indonesia Gelar Pelatihan Pembuatan Telur Asin Bagi Penyintas TBC

JAKARTA –  Dalam upaya pemberdayaan dan penguatan ekonomi pasien atau keluarga pasien dan pendamping pasien TB RO dan SO, Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB Indonesia dan Organisasi Penyintas TBC Setara (Sebaya Tangerang Raya) menggelar pelatihan pembuatan telur asin.

Sebelumnya, telah diadakan kegiatan pelatihan serupa di Bandung, kali ini kegiatan pelatihan berlangsung di wilayah Tangerang Selatan, pada hari Rabu, 7 September 2022.

“Saat ini kita sedang melakukan training pembuatan telur asin bagi pasien TB RO. Kita lakukan kegiatan ini bekerjasama dengan POP TB dan Setara. Kegiatan ini adalah yang ke dua kita lakukan, setelah yang pertama kita lakukan di Bandung dan saat ini kita lakukan di Tangerang Selatan, dan yang ketiga akan kita lakukan di Jakarta,” ujar Parmuji Abbas selaku Senior Officer Layanan Kesehatan Dompet Dhuafa, dalam keterangan tertulisnya.

Harapannya semoga melalui penyelenggaraan pelatihan telur asin ini, para peserta yang merupakan pasien TBC dan para pendamping pasien TBC dapat meningkat taraf hidupnya.

“Harapannya semoga pelatihan ini benar-benar dapat menjadikan mereka lebih kuat, menjadikan mereka sebagai pengusaha-pengusaha telur asin di kemudian hari dan meningkatkan taraf hidup mereka agar lebih baik lagi,” tutur Parmuji.

Selain itu, pelatihan kali ini bisa menjadi kesempatan bagi para peserta yang terdampak untuk meningkatkan keterampilan dan produktifitasnya.

“Tujuan pelatihan kali ini adalah ingin meningkatkan keterampilan dan produktifitas para pasien TBC atau para pendamping pasien dalam penguatan ekonomi di rumah tangganya masing-masing. Karena mungkin ada pasien yang terdampak akibat melakukan pengobatan, yaitu putus kerja atau kehilangan kesempatan untuk opportunity coast mereka,” jelas Fitria Rahmawati dari Tim Program POP TB Indonesia.

Para peserta yang mengikuti pelatihan kali ini mengaku kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat, seperti yang diutarakan oleh Dewi Susilowati salah seorang perserta yang mengaku pelatihan ini dapat memberikan harapan untuk bisa memiliki hidup yang lebih produktif.

“Harapan saya mengikuti pelatihan kali ini agar dapat membantu perekonomian saya, karena saya hidup sendiri. Saya merasa beruntung sekali dengan kegiatan ini ke depannya saya bisa lebih menikmati bahwa saya bisa memiliki kegiatan yang produktif dan saya yakin bisa sembuh, dan saya bisa melanjutkan usaha ini agar mampu meningkatkan perekonomian saya,” ujar Dewi Susilowati (40 tahun).

Sebagai informasi, pada tahun 2022, penyakit tuberkulosis (TBC) Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina dengan jumlah kasus 824 ribu dan kematian 93 ribu per tahun atau setara dengan 11 kematian per jam, dilansir dari kemkes.go.id.

Tantangan penanggulangan permasalahan TBC di Indonesia dipersulit dengan adanya pelemahan ekonomi rumah tangga terdampak. Menurut data dari kemkes.go.id, sebanyak 26% penderita TBC Sensitif Obat (SO) dan 53% penderita TBC Resisten Obat (RO) kehilangan pekerjaan.

Advertisement