
JAKARTA, KBKNews.id – Dompet Dhuafa bertransformasi dalam upaya pengentasan kemiskinan. Tak hanya sekadar menyalurkan bantuan karitatif, lembaga zakat nasional ini kini berorientasi menjadi filantropreneur.
Istilah filantropreneur menggabungkan nilai filantropi dengan semangat kewirausahaan sosial.
Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menegaskan pentingnya pergeseran orientasi dari bantuan sesaat menuju pemberdayaan berkelanjutan.
“Sudah saatnya kita tidak hanya sekadar karitatif, sekadar memberi saja. Orientasi kita kini bergerak ke arah pemberdayaan, bahkan hingga ke sektor industri,” ujar Ahmad Juwaini dalam diskusi “Dompet Dhuafa Goes Communal Industry” di Jakarta, Selasa (1/7/2025).
Menurutnya, kebijakan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sudah luar biasa. Namun untuk memperkuat dampak, dibutuhkan lembaga-lembaga zakat yang berani mengambil peran lebih besar dalam sektor pemberdayaan.
“Tentu tantangannya semakin berat, pengelolaannya juga tinggi. Tapi bangsa ini membutuhkan itu, harus ada lembaga zakat yang memulai,” ujarnya.
Ahmad mencontohkan program pemberdayaan yang telah dilakukan Dompet Dhuafa di Subang, Jawa Barat. Di sana, para petani nanas dibina dan difasilitasi untuk mengelola lahan yang kini menjadi milik mereka.
Dompet Dhuafa bahkan membantu mendirikan pabrik olahan nanas, di mana hasil panen tak lagi hanya dijual mentah, tapi juga diolah menjadi konsentrat yang telah menembus pasar ekspor. “Kami sudah memberikan tanah, mempekerjakan masyarakat melalui dana zakat dan infak. Tak hanya pertanian, kami juga memberikan bantuan kesehatan dan pendidikan di sana,” jelas Ahmad.
Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah bisa dikelola secara produktif untuk mendorong kemandirian ekonomi umat.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Waryono Abdul Ghafur selaku Direktorat Zakat dan Wakaf Kemenag mengajak masyarakat untuk nerzakat melalui Lembaga zakat yang dipercaya. Dia memberi analogi orang salat. Bagi yang salat sendiri tidak terpikir untuk membangun masjid.
Tentu ini berbeda dengan seseorang yang salat di masjid pasti ikut memikirkan masyarakat. Oleh karena itu, dia mengajak insan Dompet Dhuafa untuk tidak lelah berjuang untuk memberdayakan masyarakat.
“Bapak Ibu jangan lelah berjuang, di situlah lahan amal saleh,” katanya.
Insiator Dompet Dhuafa Parni Hadi juga mengingatkan semua pengurus Dompet Dhuafa untuk tidak melupakan tiga prinsip utama yakni nonpartisan, tidak terafiliasi politik dan mazhab tertentu.
“Kita independen nggak boleh memihak tertentu. Kita berhubungan dengan semua. Semua mitra, mitra beribadah,” paparnya.




