Dompet Dhuafa Datang, Trauma Penyintas Hilang

Tim PFA Dompet Dhuafa dan para penyintas. Foto: DD

PALU -Farida, 58, mengucurkan air mata ketika tim Dompet Dhuafa menuntunnya berzikir dalam rangkaian kegiatan psikososial di tenda pengungsian Komplek Perkantoran Angkatan Udara, Jl. Dewi Sartika, Palu, Ahad (28/10/2018)

Para penyintas bencana yang mengungsi ke sana adalah masyarakat Petobo, yang selamat dari gempa dan likuifaksi yang menenggelamkan perumahan dan perkampungan di sana, Jumat, 28 September 2018 lalu.

Tepat satu bulan bencana itu berlalu, Tim Psychological First Aid (PFA) Dompet Dhuafa datang menyapa mereka untuk membantu memecahkan kebuntuan mental dan trauma yang mungkin saja masih dialami para penyintas.

Dan benar, ketika sampai pada tahap relaksasi tim Psikososial Dompet Dhuafa menuntunnya berzikir, ibu Farida berteriak. “Jangan ajak kami untuk bersedih, kami sudah tidak kuat,” ungkapnya.

Bu Farida mengakui, kalau ia kehilangan semua anggota keluarganya. Ia tinggal sebatangkara sekarang di pengungsian. Pergerakan tanah di sekitar tempat ia berdiri, ketika gempa itu terjadi, terlihat nyata di depan matanya.

Tapi Allah SWT menyelamatkannya, namun rumah dan anggota keluarga yang lain semuanya digulung oleh lumpur yang datang sangat cepat dan berputar-putar disekitar dia berdiri. Bahkan tempat ia tegakpun dibawa oleh lumpur itu jauh dari lokasi semula.

Kadarullah, ia selamat bersama dengan beberapa tetangga yang ikut dengannya berkumpul di dekat jemuran rumahnya saat kejadian. Namun kenangan itu tidak akan pernah terlupakan. Bahkan hingga saat ini, ketika mendengar raungan mobil truk di jalanan, ia sudah ketakutan dan menggigil. “Saat kejadian seperti raungan mobil truk,” terang Farida.

Namun tim Dompet Dhuafa tidak menyerah untuk membantu Farida dan 74 KK lainnya yang mengungsi di Posko Angkatan Udara Palu itu. Banyak cara untuk membuat Farida gembira dan siap untuk bangkit lagi.

Di awal kedatangan tim Dompet Dhuafa melakukan perkenalan, dilanjutkan dengan asesmen kondisi emosi, kegiatan rekreasional seperti chicken dance, senam otak, sharing support, tepuk-tepuk dan bernyanyi bersama tentang kebersihan dan gempa serta doa penutup.

Setelah Farida mengikuti rangkainan acara itu, ia pun merasa senang. Apalagi para relawan juga memberikan pelukan untuk ibu Farida agar ia tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalahnya.

Selain Farida, ada 2 ibu-ibu lain yang mengalami trauma berat dan hasilnya sama dengan Farida, ketika mengikuti semua rangkaian acara psikososial itu semua mengaku tenang dan senang.

Begitu juga anak-anak, sama dengan orang tua mereka, juga merasa senang setelah mengikuti kegiatan trauma healing yang diberikan tim PFA Dompet Dhuafa.

Advertisement