spot_img

dr. Rudi: Autisme Dapat Sembuh

JAKARTA (KBK)– Dokter Ahli Penyakit Jiwa, Dr Rudi Sutiadi, SpA, MARS, SPd mengatakan bahwa autisme dapat disembuhkan.

“Di Amerika dan Indonesia sudah banyak sekali penderita autis yang sembuh,” ujarnya pada acara, launching buku Nutrient Power, Jakarta (14/2/2016).

Rudi menjelaskan, penderita autis dapat dikatakan sembuh apabila ia sudah dapat diterima di sekolah regular, bukan lagi sekolah khusus.

Kemudian dia dapat mengikuti pelajaran yang diterapkan di sekolah regular tersebut, dan yang terakhir tentu apabila penderita autis tersebut dapat bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

“Walaupun gennya tidak dapat dihilangkan, akan tetapi gejala-gejala autis sudah menghilang dari dalam diri orang tersebut, dia dapat dikatakan sembuh,” tambah dr Rudi.

Rudi menambahkan, butuh waktu dua hingga tiga tahun untuk proses penyembuhan penderita autis yang berusia di bawah 5 tahun.

“Butuh usaha yang keras untuk menyembuhkan anak yang autis. Semakin muda si penderita semakin mudah untuk disembuhkan, semakin tua penderita maka semakin sulit untuk sembuh,” pungkasnya.

Rudi juga menjelaskan, kasus autisme saat ini semakin banyak. Di Amerika Autisme sudah menjadi National Warning sedangkan di Indonesia masih belum dianggap masalah yang harus diprioritaskan.

“Mungkin di Indonesia banyak yang harus dibenahi, sehingga autism masih belum menjadi skala prioritas. Atau bisa juga banyak penyakit lain yang dianggap lebih berbahaya untuk diprioritaskan, seperti DBD, Zika yang saat ini sedang ramai dibicarakan,”  imbuh dr. Rudi.

Autis memang tidak mematikan, lanjut dr Rudi, dia tidak seperti Demam Berdarah atau Virus Zika. Namun apabila tidak ditangani, autism dapat berdampak pada lost generation. Banyak penerus bangsa akan hilang, jika banyak dari anak bangsa yang terlahir sebagai anak autis.

Pada kesempatan yang sama Dr Novi Arifiani, M.KK,  spesialis kedokteran fungsional mengatakan penyebab seseorang terlahir autis, karena Ibu hamil tidak memperhatikan kesehatan dari makanan atau minuman yang mereka konsumsi.

“Salah satu penyebab mengapa di Amerika terdapat banyak orang yang terlahir autis karena warga Amerika gemar memakan junk food,” ujarnya.

Dr Novi menambahkan angka autisme dapat ditekan dengan cara menjaga pola makan yang sehat.

“Harapan saya pemerintah dapat membatasi peredaran makanan junk food agar dapat menekan angka autisme di Indonesia. Jika tidak, ini akan berbahaya karena menurut data yang ada setiap tahun penderita autis semakin banyak,” jelasnya.

 

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles