
PERANG yang merupakan musibah bagi umat manusia sering ditandai dengan temuan perkakas pembunuh atau persenjataan (alutsista) yang berdaya rusak makin tinggi dan makin mematikan.
Tak terkecuali dalam konflik militer antara dua negara bertetangga bekas sempalan Uni Soviet di wilayah Kaukasus selatan yakni Armenia dan Azerbaijan terkait wilayah sengketa Nagorno Karabakh.
Pertempuran kali ini berlangsung sejak 27 September diselang-seling gencatan senjata yang terus dilanggar adalah kelanjutan konflik berdarah sebelumnya (1990 sampai 1994) dan terulang lagi pada 2016.
Wilayah kantong (enclave) Nagorno Karabakh di Azerbaijan seluas 11.458 Km2, penduduk 151.000 jiwa dan ibukota Stepanakert dan dihuni etnis Armenia telah mendeklarasikan kemerdekaan sebagai Republik Artsakh didukung Republik Armenia, namun hingga kini belum diakui int’l.
Dalam konflik kali ini pasukan Azerbaijan yang berkekuatan sekitar 120-ribu personil, untuk sementara di atas angin, mengungguli sekitar 20.000 tentara Artsakh dan sekitar 60-ribuan pasukan Armenia. Azerbaijan berpenduduk sekitar 10 juta jiwa dan Armenia tiga juta.
Sebagai negeri sempalan Soviet, keduanya memiliki warisan alutista sama dari negeri beruang merah itu seperti tank-tank T-62, T-72 sampai T-90, rudal-rudal taktis Iskander dan Tochka, sistem rudal pertahanan udara S-200 dan S-300 serta peluncur roket ganda (MLRS) Grads.
Bedanya, pasukan Azerbaijan dengan jumlah personil dan koleksi alutsista lebih banyak, berhasil mendesak lawannya, ditambah lagi adanya fenomena baru yakni digunakannya drone Turki Bayraktar Tb2 dan Anka-S serta drone kamikaze Skystrike buatan Israel secara efektif.
Dari tayangan youtube, orang bisa menyaksikan layaknya menonton gim, bagaimana drone-drone yang dilengkapi video mengincar tank-tank, bunker, markas komando atau situs-situs peluncur rudal lawan.
Di salah satu tayangan, tampak tank yang awaknya sadar sedang diincar drone, berupaya menghindar dengan bermanuver meliuk-liuk, maju-mundur dan berusaha berlindung di balik bangunan atau pepohonan.
Begitu pula personil musuh yang berlompatan dari truk, lari kocar-kacir berusaha mencari perlindungan, namun setelah dikunci alat pembidik, tidak ampun lagi, tank, kendaraan atau personil musuh dihajar rudal atau berondongan peluru kanon yang dilepaskan dari drone.
Selain murah dibandingkan pesawat berawak, drone tak berisiko mempertaruhkan nyawa awaknya yang mengoperasikan dari jarak jauh dengan “remote control” dari tempat yang aman.
Drone Kamikaze Harop
Selain drone Bayraktar Tb-2 buatan Turki yang dipersenjatai rudal dan kanon ringan, pasukan Azeri juga menggunakan drone bunuh diri (Kamikaze) Skystrike, Harop buatan Israel.
Harop dioperasikan secara otonom dengan emisi radio (gelombang elektromagnit) sejatinya adalah munisi berhulu ledak tinggi berbobot 23 Kg yang akan meledak saat mengenai target, namun bisa kembali ke pangkalannya jika sasaran tak ditemukan.
Dengan panjang 2,5M dan lebar sayap 3M, Harop yang antiradiasi dan berkategori siluman dari endusan radar musuh, dibandrol dengan harga 100 juta dolar AS (sekitar Rp 1,475 triliun) untuk sepuluh unit jika mengacu nilai pembelian India pada 2009 .
HAROP mampu terbang enam dan berjangkauan 1.000 km selain digunakan menggempur posisi pasukan Armenia, juga disebut-sebut sukses menghancurkan sistem pertahanan udara Pantsir S-1 buatan Rusia yang dioperasikan oleh Suriah, Januari dan Mei 2018.
Sukses pengoperasian drone tercatat sejarah dalam peristiwa Lembah Bekaa, Suriah pada 1982 dimana drone-drone Israel berhasil memancing rudal-rudal pertahanan udara termasuk posisi radar-radar Suriah, sehingga tanpa perlindungan darat dan panduan radar, sekitar 200 pesawat MiG 21, MiG-23 dan Sukhoi SU-24 Suriah dijatuhkan oleh pesawat pesawat F-14 dan F-15 negara Yahudi itu.
Sementara Bayraktar Tb2 Turki adalah drone ketinggian menengah berdaya tahan lama (medium altitude long endurance -MALE) yang dikendalikan dari jauh, juga dengan sistem otonom.
Harganya bisa dikira-kira, mengacu pada kontrak pembelian oleh Ukraina pada 2018 untuk 12 unit Bayraktar TB12 dengan tiga stasiun kendali di darat senilai 69 juta dollar AS (sekitar Rp799 milyar).
Bayraktar Tb2 dengan panjang 3 M dan rentang sayap 12 M, berdaya jangkau lebih 150 Km,mampu terbang 24 jam, ketinggn mx. 22.500 kaki, kecepatan max 220 Km/jam serta mampu menggembol peralatan dan persenjataan seberat 55 Kg.
Badan Bayraktar TB2 terbuat dari serat karbon, kevlar dan komposit hibrida dengan desain monokok, mengintegrasikan struktur v-tail terbalik. Turki juga memasok Azerbaijan dengan drone Anka-S yang berkemampuan kurang-lebih setara.
Badan Bayraktar TB2 terbuat dari serat karbon, kevlar dan komposit hibrida dengan desain monokok, mengintegrasikan struktur v-tail terbalik. Turki juga memasok Azerbaijan dengan drone Anka-S yang berkemampuan kurang-lebih setara.
Setiap sistem Bayraktar TB2 terdiri dari enam drone, dua stasiun kontrol tanah (GCS), tiga terminal data tanah (GDT), dua terminal video jarak jauh (RVT) dan peralatan pendukung di darat.
Diperkirakan, sekitar 2.000 triliun dollar AS (sekitar setiap tahun digelontorkan untuk belanja militer dunia Rp29.500 triliun) terutama untuk pengadaan alutsista atau alat pembunuh.
Bayangkan manfaatnya, jika perdamaian terwujud di seluruh jagat raya, dan dana yang tersedia dialokasikan untuk membuat vaksin Covid-19, mengentaskan kemiskinan dan kelaparan serta meningkatkan kesejahteraan umat manusia.




