spot_img

Dua dari Seribu Orang Indonesia Alami Gangguan Jiwa Berat

JAKARTA (KBK)– Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI,  pada tahun 2013, jumlah orang yang mengalami gangguan mental berat di Indonesia sebesar 1,7 per mil. Artinya, satu hingga dua orang dari 1.000 penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa berat. Ini berarti, terdapat 254 ribu hingga 509 ribu warga negara Indonesia menderita gangguan jiwa berat.

Demikian data yang terungkap dalam launcing Buku “Nutrient Power” yang diluncurkan, di Jalan Lapan Raya No.56, Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Ahad (14/2/2016)

Tampil sebagai keynote Speaker dalam acara ini, Dr Novi Arifiani, M.KK,  spesialis kedokteran fungsional.

Dikatakan dr. Novi, jumlah psikiater, tenaga kesahatan, fasilitas rumah sakit, klinik serta puskesmas yang dapat melayani keluhan gangguan kejiwaan masih terbatas.

“Perlu adanya peningkatan tentang penanganan masalah kejiwaan serta diperlukan juga terapi kejiwaan yang tepat guna memenuhi kebutuhan palayanan gangguan jiwa,” jelas dr. Novi.

Buku Nutrient Power Indonesia diterbitkan PT Jejak Benang Emas dengan judul “Nutrient Power: Memulihkan Kesehatan Mental dengan Terapi Keseimbangan Biokimia.”

Direkomendasikan dr. Novi, buku ini dapat menjadi pegangan oleh para praktisi kesehatan mental, keluarga pasien dan pembaca umum untuk  membantu proses pemulihan pasien, secara tepat dan akurat.

Dokter Novi juga menjelaskan, buku tersebut diadaptasi dari buku aslinya yang berbahasa Inggris, tulisan ahli biokimia kesehatan mental di Amerika, Dr. William J Walsh.

“Dengan adanya buku ini diharapkan para aktivis gangguan kejiwaan serta keluarga yang salah satu dari keluarganya mengalami gangguan kejiwaan dapat menjadi lebih mengerti tentang apa yang diderita oleh pasien, sehingga mempermudah konsultasi dengan dokter kejiwaan. Karena beda pasien, beda penanganan, dan hanya keluarga yang lebih paham bagaimana gejala yang dialami pasien tersebut,” jelas Dr Novi, yang juga spesialis penyakit jiwa.

Diterangkan Novi, masalah gangguan kejiwaan serta autisme di Indonesia dianggap semakin hari semakin meningkat. Menurutnya yang sangat dikhawatirkan adalah masyarakat penderita kejiwaan yang tingkat ekonominya menengah ke bawah.

“Untuk mereka yang secara ekonomi mampu, masih bisa menjalankan terapi dan pengobatan, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu, banyak yang terlantar hingga menjadi anak-anak jalanan,” pungkasnya.

Ikut memberikan kata pembuka, Letjend TNI (Purn) Tarub dan Sharing Autisme dr. Rudy Sutadi, Sp.A, MARS, S.Pd.

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles