YAMAN – Wabah kolera di Yaman yang tengah dilanda perang telah membunuh 34 orang dalam dua minggu terakhir, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
WHO mengatakan 2.022 kasus kolera dan diare akut (AWD) dilaporkan terjadi antara 27 April hingga 7 Mei. Sekitar 26.000 orang sekarang telah terdampak sejak bulan Oktober oleh wabah tersebut, yang mereda selama musim dingin.
Sistem kesehatan negara dan infrastruktur sipil runtuh setelah dua tahun terjadi konflik di negara tersebut.
WHO mengatakan kurang dari 45% fasilitas kesehatan berfungsi penuh, dimana hampir 300 rusak atau hancur dalam pertempuran antara pasukan yang setia kepada Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi – yang didukung oleh koalisi multinasional yang dipimpin Saudi dan mereka yang bersekutu dengan gerakan pemberontak Houthi .
Juru bicara WHO mengatakan, seperti dilansir BBC, Rabu (10/5/2017), hujan lebat baru-baru ini telah membuat tumpukan limbah jatuh ke sumur dan sumber air. Selain itu, cuaca yang lebih hangat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi patogen yang menyebabkan kolera menyebar.
Kolera adalah penyakit bawaan air yang ditularkan melalui air dan makanan yang terkontaminasi. Gejalanya meliputi diare akut dan muntah. Orang yang sakit kolera bisa menjadi sangat sakit dan, bila tidak diobati, bisa meninggal dalam hitungan jam.
Médecins Sans Frontières (MSF), yang telah mendirikan pusat perawatan kolera dalam lima rumah sakit untuk mengisolasi dan merawat pasien yang memiliki gejala dan mendukung fasilitas lainnya, dan mengungkapkan rasa takut bahwa otoritas kesehatan setempat sendiri tidak akan dapat mengatasi lonjakan kasus.
“Kami sangat prihatin bahwa penyakit ini akan terus menyebar dan menjadi tidak terkendali,” ungkap anggota misi amal tersebut di Yaman, Shinjiro Murata.
Murata mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan perlu ditingkatkan secepatnya.





