JAKARTA – Lolosnya dua Warga Negara Indonesia dari sandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina, membuat pemerintah harus berhati-hati atas delapan sandera lainnya.
“Kemungkinan pertama, mereka tidak peduli dengan sandera karena fokus pada pertahanan atau menghindari serangan. Tapi bisa kemungkinan lain, mereka akan ekstra ketat, bahkan mungkin marah,” ujar Benny Mamoto, yang pernah menjadi juru runding Indonesia dalam pembebasan sandera oleh kelompok Abu Sayyaf pada 2005 lalu.
Ia juga memperkirakan pihak penyandera akan terus diincar militer Filipina, yang kemungkinan mendapat informasi tambahan dari dua WNI yang lolos. Namun ia tidak memungkiri jika kondisi ini bisa dimanfaatkan pemerintah dalam membebaskan delapan sandera lainnya.
“Ini saat yang tepat untuk dilakukannya negosiasi karena mereka (Abu Sayyaf) di bawah tekanan militer. Asalkan upaya itu satu pintu, kemudian jalurnya tepat. Jalur tepat itu seharusnya tidak melalui terlalu banyak tangan atau pihak,” kata Benny, dikutip dari BBC Indonesia.
Diberitakan sebelumnya, pemerintah Indonesia terus mengatakan masih berupaya membebaskan delapan WNI yang masih disandera melalui jalur diplomasi dan militer secara bersamaan.
“Yang kita lakukan adalah multitrack. Ibu menteri luar negeri selalu memberi tekanan kepada Filipina untuk bisa mengambil langkah agar bisa membebaskan sandera di sana. Selain itu tentunya TNI kita juga bergerak melalui intelijen mereka,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Arrmanatha Nasir.





