DURNA GUGUP

Dengar kabar Aswatara tewas, Begawan Durna semakin gugup, dan Drestajumena segera gunakan keris Kyai Jalak Kapiran.

SKENARIO Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ) semua tertulis jelas di Kitab Jitapsara. Sayangnya isinya dirahasiakan untuk makhluk ngercapada dan kahyangan. Wayang ngercapada yang tahu isinya hanya Prabu Bethara Kresna, sementara kahyangan hanya Bethara Penyarikan, ditambah duet Bethara Guru dan Patih Narada. Keempat tokoh wayang ini dilarang lambe nggambleh, bocorkan Kitab Jitapsara dan isinya diunggah ke medsos.

Kenapa dokumen kahyangan itu sifatnya sangat rahasia? Sebab bila sampai diketahui umum, bisa bikin gempar. Para senapati yang masuk daftar PBJ, bisa saja mengundurkan diri jika dalam skenario tersebut dimatikan. Ini bisa dimaklumi, karena siapa saja tak mau mati dalam perang. Apa lagi bagi wayang yang anaknya masih kecil-kecil dan kreditan mobilnya di leasing belum impas.

“Paman Pendita Durna, berdasarkan surat Ketua Panita PBJ kangmas Prabu Kresna, senapati Ngastina ditunjuk panjenengan pribadi. Apakah siap?” ujar Prabu Duryudana sambil menyerahkan surat dari Prabu Kresna ke Pendita Durna.

“Namanya tugas negara, saya harus selalu siap. Semoga saja menang, anak Prabu.” Jawab Pendita Durna tegas.

Pasewakan di Istana Gajahoya memang terasa mencekam. Sebab baru saja Adipati Karno gugur. Minggu kemarin masih ketemu dalam sidang istana, ternyata sekarang sudah nggak ada, dan fotonya masuk dalam buku Yasin. Surtikanthi mendadak jadi janda. Pendita Durna sebetulnya ingin mengambil alih, tapi situasinya sungguh tidaklah etis. Masak dalam iklim PBJ yang penuh semangat perjuangan, kok masih mikir selangkangan?

Senopati perang itu umumnya berusia muda, antara 30-45 tahun. Tapi dalam PBJ, aturan itu tak berlaku lagi karena sudah di-omnibus law. Karenanya Resi Bisma dan Resi Seta yang sudah berusia 75 tahunan pun masih bisa tampil. Maka Pandita Durna yang sudah berusia sekitar 70 tahuan, masih lumayan ideal. Kenapa usia Durna tidak pasti dan hanya disebut sekitar? Karena setiap ditanya orang kapan tanggal kelahirannya, hanya dijawab olehnya, “Pas gunung Kelud njeblug.”

“Wakne Gondel, sudah siap jadi senopati PBJ? Anak sampeyan Aswatama belum mentas lho, kalau Wakne Gondel tewas dalam perang, siapa yang ngurus?” Patih Sengkuni mencoba mendalami isi jeroan dan hati Pendita Durna.

“Oo, hati Dhi Cuni itu memang banyak bulunya. Sama teman kok ndongakke elek (berdoa jelek). Aku mati ya biar Aswatama dikirim ke PAM (Panti Asuhan Muhammadiyah).” Jawab Pendita Durna songong.

Panitia PBJ kembali mengumumkan bahwa dari kubu Pendawa ditunjuk sebagai senopati Haryo Drestajumena, putra Prabu Drupada dari negeri Pancala. Maka dialog di TV dihadirkan dua pengamat perang, yakni Yunarto Muhtadi dan Burhanudin Wijaya, dipandu presenter muda Aiman Wicaksono. Semua nara sumber memprediksi bahwa kemenangan ada Pandita Durna. Alasannya adalah, Drustajumena ini tokoh muda yang tak pernah perang, meski dulu pernah berguru pada Pendita Durna. Sebaliknya Pendita Durna, meski sudah usia lanjut dia ahli strategi perang dan didukung senjata ampuhnya, Kyai Cundamanik.

“Misalkan nanti yang menang Drestajumena, bagaimana?” tanya Aiman Wicaksono.

“Peluang kemenangan dia hanya 5 persen. Prediksi Anda bisa terwujud bila terjadi keajaiban di Tegal Kurusetra.” Jawab pengamat Yunarto Muhtadi.

“Tapi ingat, dari data-data PBJ yang sudah berlangsung, dendam politik masa lalu juga ikut menentukan nasib seorang senopati.” Kata pengamat Burhanudin Wijaya.

Tak salah memang pendapat Burhanudin Wijaya. Dari para senopati PBJ yang telah gugur, kematian Bisma terjadi akibat balas dendam Dewi Ambalika.  Gatutkaca juga akibat campurtangan Kala Bendana. Agak beda adalah kematian Dursasono oleh Werkudara. Begitu tewas karena perutnya diodet-odet kuku Pancanaka, potongan ususnya sepanjang 2 meter dibuat sabuk oleh Drupadi. Sebab di kala muda dulu Dursasono terlibat pelecehan seksual pada Drupadi dalam lakon Pendawa Dadu.Hampir saja dia ditelanjangi oleh Dursasono, untung saja polisi segera turun tangan.

Demikianlah menjelang hari peperangan antara Pendita Durna lawan Haryo Drestajumena, koran-koran memberitakan sebagai berita utama. Sedangkan Pendita Durna sendiri sehari sebelum hari H menyempatkan panggil Aswatama anak kesayangannya ke pertapan Sokalima. Dia dinasihati banyak-banyak tentang segala kemungkinan yang terjadi.

“Ngger Aswatama, jadi senopati itu pilihannya cuma dua. Kalau menang, akan dipromosikan pada jabatan lebih tinggi. Kalau kalah, itu artinya mati dan naik pangkat sebagai anumerta. Kamu harus siap dengan kemungkinan terburuk.” Ujar Pendita Durna.

“Jika rama begawan gugur, berarti lahan pertapan Sokalima jatuh pada Aswatama sebagai ahli warisnya.” Kata Aswatama menimpali ucapan sang ayah, sebetulnya kurang etis.

“Jangan salah, itu sertipikatnya hanya hak pakai. Jika aku mati,  harus kembali ke Prabu Drupada, sebab saya dulu hanya magersari (numpang) pada lahan negeri Pancala.” Pendita Durna berterus terang, tapi batinnya mengutuk si anak kandung yang menunggu-nunggu kematian ayahna demi warisan.

Tegal Kurusetra tempat berperangnya Drestajumena- Begawan Durna pagi itu penuh dengan manusia. Perusahaan minuman dan obat-obatan pasang spanduk dengan kata-katanya penuh bombastis. Yang pro Durna bunyi kalimatnya: Dulu Durna cuma satu, kini ada seribu berkat Pilkami! Yang netral tanpa memihak salah satu senopati, bunyi kalimatnya, Perwita Sari, minuman resmi PBJ.

Tepat pukul 10.00 PBJ seri Durna-Drestajumena dimulai. Menit-menit pertama Drestajumena di atas angin, maklum tenaga muda. Tapi setengah jam kemudian, jago bon-bonan dari Pancala tersebut mulai terdesak. Meski kubu Pandawa terus memberi semangat, Drestajumena selalu menjadi bulan-bulanan Pendita Durna. Percuma saja adik Srikandi ini setiap pagi minum temulawak campur jahe.

“Celaka dimas Harjuna, jika tak menggunakan siasat, Drestajumena bisa tewas di tangan Pendita Durna. Tolong kamu diam-diam ke istana Gajahoya, kamu bunuh gajah kraton Hestitama.” Perintah Bethara Kresna.

“Kok nggak nyambung, kaka prabu. Apa dosa gajah itu harus dibunuh? Kita bisa dibully kelompok penyayang binatang.” Jawab Harjuna yang otaknya nggak nyampe.

Tapi perintah botoh Pandawa itu tak bisa dibantah. Kebetulan wantilan (kandang gajah) gajah Hestitama tak jauh dari Tegal Kurusetra, sehingga sekali panah Sarotama dilepaskan, matilah gajah kraton Ngastina itu. Tapi informasi yang beredar secara gencar justru matinya Aswatama, putra kesayangan Pendita Durna. Sementara pemlintiran informasi terus digembor-gemborkan di seantero Tegal Kurusetra, Prabu Kresna membujuk Prabu Puntadewa untuk berdiplomasi barang sedikit bila menerima klarifikasi dari Pendita Durna.

“Saya kan wayang yang nggak bisa bohong, bingung jadinya nih,” keluh Puntadewa.

“Nggak bohong sih. Cuma ketika Pendita Durna menanyakan pada yayi Prabu, jawab saja: betul Hestitama yang tewas. Tapi kata Hesti dibuat lirih, dan Tama-nya yang keras.” Pesan Prabu Kresna.

Tepat sekali prediksi Prabu Kresna, begitu mendengar kabar Aswatama tewas dalam pertempuran, Pendita Durna jadi gugup, tak konsentrasi lagi menghadapi lawan. Dia minta pertempuran diskors, lalu Durna tanya ke semua keluarga Pandawa, tapi jawabnya sama, mengiyakan. Takut termakan berita hoaks, Pendita Durna segera mendatangi Prabu Puntadewa, satu-satunya sumber kebenaran.

“Anak angger Puntadewa, benarkah Aswatama tewas dalam pertempuran?”

“Benar rama Begawan, yang mati Hesti…..tama.” ujar Puntadewa dengan melirihkan kata Hesti dan memperkeras kata Tama.

Mendengar penjelasan Puntadewa, Durna baru yakin bahwa anak kesayangannya telah tewas. Dia tambah gugup dan lemas. Dalam kondisi demikian, arwah Bambang Ekalaya yang dulu tewas oleh kelicikan Durna, langsung menyelinap ke tubuh Drestajumena. Dengan cepat keris Kyai Jalak Kapiran di tangannya langsung dihujamkan ke leher Durna yang sudah nglempoing (loyo) tersebut. Sekali hentak, kepala Durna pun lepas dari tubuhnya. Prajurit dan keluarga Pandawa bersorak kegirangan, senopati Kurawa bisa dilesaikan lewat berita hoaks. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement