spot_img

Duryudana Tak Menggubris Resi Bisma

AYAH cap apapun pasti sayang anak. Demi kemuliaan dan kejayaan anak, orangtua akan berjuang sekuat tenaga. Tetapi semua itu juga tergantung kemampuan yang dimiliki. Jika memiliki kekayaan kekuasaan tak terbatas, dia bisa melakukan apa saja tanpa malu-malu. Yang penting berhasil menempatkan sang anak memperoleh posisi terhormat. Dalam perwayangan bisa dilihat kelakuan Prabu Duryudana, dia tak peduli dan tak menggubris saran Resi Bisma demi menggolkan Sarjokesuma menjadi raja Ngastina, menggantikan dirinya. Perang Baratayuda terjadi, ya biarkan terjadilah………………

Sarjokesuma itu putra Prabu Duryudana versi pedalangan gagrak Yogyakarta. Untuk gagrak Surakarta disebutnya: Lesmana Mandrakumara. Tetapi bentuk wayangnya sama, karakternya juga sama, yakni sama gobloknya dan sama pekok-nya. Konon itu akibat ulah Banowati sebagai istri Prabu Duryudana. Putri bungsu Prabu Salyo dari Mandaraka itu sebetulnya lebih cinta pada Harjuna, tapi jodoh menentukan lain sehingga dia harus menjadi istri Jakapitono yang kemudian menjadi Prabu Duryudana.

Rupanya cinta Banowati pada Harjuna sudah mendarah-daging, sehingga ketika melayani Prabu Jakapitana di tilam rum (ranjang), yang dibayangkan justru Raden Harjuna kesatria Madukara. Nah, ketika jadi bocah wujud putra pertama Prabu Duryudana itu berantakan. Wajah mirip Prabu Duryudana, tapi postur tubuh mendekati Harjuna yang lemah gemulai.

Ciri khas kata-kata Lesmana Mandrakumara (Surakarta) atau Sarjokesuma (Yogyakarta) selalu sama, yakni: nyuwun dhaup rama (minta kawin ayah). Sebab dia ini setiap mau menikah, selalu kedahuluan oleh anak-anak Pendawa yang lain. Naksir Pregiwa, yang dapat Raden Gatutkaca. Naksir Jenakawati anak Harjuna, direbut Antasena. Mau menikah dengan Antiwati anak Patih Sengkuni, disamber Patih Udawa. Bahkan naksir anak bakul bakso saja, masih kalah juga oleh pengojek online.

Para penjilat di Ngastina, yakni Pendita Durna dan Prabu Baladewa, berusaha mati-matian untuk memoles Sarjokesuma agar tampak sebagai sosok yang tegas dan pintar sehingga jadi raja debat. Tetapi tetap saja gagal. Tampang Sarjokesuma ajeg begitu-begitu saja, lholak-lholok (culun) dan seperti bangun tidur. Diuji untuk memperebutkan Wahyu Cakraningrat, yang dapat justru Abimanyu putra Harjuna.

Meski hanya sebegitunya kwalitas Sarjokesuma, tetapi Prabu Duryudana dan Dewi Banowati tetap ngotot memperjuangkan Sarjokesuma jadi raja Ngastina dengan menghalalkan segala cara. Semua aturan atau paugeran dilanggar, padahal negeri Ngastina itu hak mutlak keluarga Pendawa. Karenanya banyak begawan yang mengingatkan agar Prabu Duryudana jangan sampai melik nggendong lali (lupa diri). Tetapi prinsip Prabu Duryudana, “Demi anak, Perang Baratayuda biarkan saja terjadi.”

Salah satu begawan paling bawel adalah Resi Bisma dari negeri Talkanda. Dia sudah mengingatkan, agar jangan mempertahankan negeri Ngastina haknya Pendawa. Begawan Abiyasa dari Wukir Retawu juga mengingatkan hal yang sama. Tetapi Prabu Duryudana sudah tak menggubris, kecuali hanya menjawab: haesss prekkk alias bodo amat. Karena yang penting bagi Prabu Duryudana, Sarjokesuma atau Lesmana Mandrakumara harus menjadi raja Ngastina.

Para begawan yang mengkritisi Prabu Duryudana, adalah gambaran para dosen dan rektor berbagai kampus yang mengkritisi nafsu Presiden Jokowi untuk memaksakan Gibran menjadi Capresnya Prabowo. Segala aturan konstitusi dan demokrasi ditabraknya dengan sadar, dengan memanfaatkan segala kekuasaannya. Padahal si anak sama sekali tidak punya kapasitas untuk menjadi pemimpin bangsa. Tapi apa jawab Presiden, “Dalam negera demokrasi, orang bebas berbicara.” Duh, duh…… Jika dipaksakan, banyak yang meramal akan terjadi chaos di negeri ini. Semoga tak terjadi Perang Baratayudan.

                                                                                                     (Cantrik Metaram).

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles