NEW YORK – Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta polisi untuk menembak aktivis hak asasi manusia yang menghalangi penembakan terhadap pelaku narkoba.
Aktivis HAM mengatakan jika Duterte harus segera menarik kembali pernyataannya atau akan diselidiki atas kemungkinan menghasut kekerasan terhadap pendukung hak asasi manusia Filipina.
“Ancaman Presiden Duterte terhadap aktivis hak asasi manusia seperti melukis target di punggung orang-orang pemberani yang bekerja untuk melindungi hak-hak dan menjunjung tinggi martabat semua orang Filipina,” kata Phelim Kine, wakil direktur Asia, di New York, dilansir HRW.org, Kamis (17/8/2017).
“Duterte harus mencabut ucapan tercela tersebut dengan segera sebelum ada lebih banyak darah di tangannya.” tambahnya.
Setidaknya 7.000 orang Filipina telah tewas sejak dia mulai menjabat pada Juni 2016. Duterte menuduh bahwa organisasi hak asasi manusia mengkritik perangnya terhadap narkoba dan melindungi penjahat obat-obatan di negaranya.





