Soekarno-Hatta (Bung Karno dan Bung Hatta) dulu disebut sebagai dwitunggal. Artinya, dua tetapi satu. Kedua orang itu adalah “bapak bangsa” Indonesia, proklamator kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Begitu Indonesia merdeka, Soekarno dipilih menjadi presiden dan Mohammad Hatta wakil presiden.
Kedua nama itu, insya Allah abadi, minimal tetap dibaca setiap upacara peringatan HUT RI 17 Agustus selama RI masih ada. Riwayat hidup, perjuangan dan jasa mereka kepada bangsa Indonesia telah ditulis dengan tinta emas dalam buku sejarah Indonesia dan diakui dunia.
Keduanya pejuang dan nasionalis sejati. Walaupun perangai dan penampilan masing –masing sangat berbeda, tapi komitmennya pada Indonesia satu. Bung Karno dikenal sebagai pelagak, selalu tampil menawan dan jago berpidato di depan publik, sedangkan Bung Hatta dikenal pendiam, saleh, santun, tak suka tampil dan berbicara di depan umum. Keduanya dianggap dua figur paling menonjol dalam kepemimpinan pada masa perjuangan menuju dan pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Dwitunggal menjadi Dwitanggal.
Sekalipun disebut Dwitunggal, tidak berarti di antara mereka tidak ada beda pendapat. Mereka sering berselisih tajam, tapi tetap bersahabat erat. Bahwa keduanya sering berselisih pendapat, hal itu diakui oleh keduanya dengan terus terang.
Bung Hatta dalam karangannya berjudul “Demokrasi Kita” di majalah Panji Masyarakat pimpinan Buya HAMKA tahun 1960, mengakui lama bertengkar dengan Bung Karno tentang bentuk dan susunan pemerintahan yang efisien. Akibat memuat tulisan yang mengkritik Bung Karno dengan”Demokrasi Terpimpin” nya itu, majalah tersebut diberedel (dilarang terbit). Dan, orang dilarang membaca tulisan Bung Hatta itu.
Sekalipun tidak setuju dengan Bung Karno, Bung Hatta dalam tulisannya itu menyatakan” Ada baiknya diberi ‘fair chance’ dalam waktu yang layak kepada Presiden Soekarno untuk mengalami sendiri , apakah sistemnya itu akan menjadi sukses atau kegagalan”.
Selanjutnya Bung Hatta menulis: ‘Bahwa Soekarno seorang patriot yang cinta pada Tanah Air-nya dan ingin melihat Indonesia yang adil dan makmur selekasnya, tidak dapat disangkal.”
Sementara Bung Karno dalam otobiografinya “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, menulis kisah pertemuannya dengan Bung Hatta setelah tentara Jepang menguasai Indonesia: “ Malam itu aku pergi ke rumah Hatta dan kami mengadakan pertemuan pertama untuk membahas taktik perjuangan”.
“Bung dan aku pernah terlibat perselisihan yang dalam. Meski di satu waktu kita pernah tidak saling menyukai, sekarang kita menghadapi satu tugas yang jauh lebih besar daripada tugas yang pernah kita lakukan masing-masing. Berbagai perbedaan menyangkut masalah partai atau strategi tak perlu ada lagi. Sekarang kita satu. Bersatu di dalam perjuangan bersama,” lanjut Bung Karno.
Setelah Bung Hatta menyatakan “setuju”, tulis Bung Karno, ”Kami berjabat tangan dengan sungguh-sungguh. Ini merupakan simbol kita sebagai Dwitunggal. Kita berikrar dengan sungguh-sungguh untuk bekerja berdampingan, tak akan pernah bisa dipisahkan sampai negeri kita merdeka sepenuhnya.”
Sebagai bukti mereka bersabat karib bahkan seperti saudara, Bung Karno lah yang melamar Siti Rahmiati Meutia Rachim untuk menjadi istri Bung Hatta. Sekalipunberbeda pandangan politik yang tajam,Bung Hatta mengunjungi Bung Karno yang dikenakan”tahanan rumah” oleh pemerintah Orde Baru sebelum meningga dunia.
Bung Hatta mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada akhir 1956 atas kemauanya sendiri sesudah terpilihnya DPR dan Konsituante (lembaga pembuat UUD) melalui Pemilu 1955. Sejak itu, Dwitunggal menjadi Dwitanggal (dua lepas).




