JAKARTA (KBK) – Kondisi ekonomi global dan geopolitik di kawasan disinyalir merupakan penyumbang ketimpangan ekonomi dunia. Hal itu diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Eni V Panggabean dalam acara Rembuk Republik dengan tema “solusi atasi masalah ketimpangan sosial”.
Eni menuturkan kebijakan proteksi yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat dan kondisi geopolitik di benua Eropa yang masih rapuh membuat pasar dan aktivitas peradagangan menjadi belum pasti.
“Lesunya ekonomi global tetap membuat komoditi asal Indonesia tetap mahal di pasar dunia seperti batu bara dan tambang lainnya. Hal ini yang membuat Gini Ratio di Indonesia per 2016 semakin membaik di angka 0.394,” ucap Eni dalam paparannya, di Jakarta, Selasa (28/2/2017).
Eni menambahkan kendati Gini Ratio per 2016 sudah lebih baik dari 2015 namun ia tak menutup mata bahwa jumlah masyarakat miskin di Indonesia masih membutuhkan penanganan menyeluruh. Menurut Eni guna mempersempit jurang kesenjangan pihaknya bersama Kemensos masih terus menyalurkan bansos padat karya berupa pemberdayaan nelayan, UMKM dan petani untuk menggenjot ekonomi lokal.
Selain ekonomi global yang masih belum menentu, dikatakan Eni penyumbang kesenjangan ekonomi lainnya ialah akses keuangan yang masih sulit di jangakau masyarakat.
“Saat ini rasionya 1 bank per 116 ribu penduduk. Masih dibutuhkan banyak bank di daerah. Tujuannya supaya masyarakat bisa menabung, sehingga uang tidak habis begitu saja untuk keperluan sehari-hari,” papar Eni
Acara ini diselenggarakan kerjasama Dompet Dhuafa, Republika dan Bank Indonesia.





