Ekonomi Kurban untuk Kemaslahatan Umat

JAKARTA (KBK) – Hari raya Idul Adha tidak semata sebuah ritual keagamaan saja. Melainkan terdapat unsur yang dapat membangkitkan keejahteraan umat melalui ekonomi kurban. Hal itu dapaparkan oleh Direktur IDEAS Yusuf Wibisono dalam acara press conference Kurbanesia di Jakarta.

Menurut Yusuf potensi ekonomi kurban di Indonesia sangat besar dan ini menjadi menarik karena cara filantropi islam yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa memiliki metode untuk menguatkan potensi tersebut, yakni Tebar Hewan Kurban (THK).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan IDEAS, di tahun 2017 diperkirakan ada 6,9 juta umat muslim yang berkurban. Diprediksi pada tahun 2017 lalu ada uang umat yang bergulir ke para peternak sebesar Rp 28,3 triliun dengan rincian  1,4 juta ekor hasil penjualan sapi dan 5,5 juta ekor kambing.

“Ini potensi tahunan, setiap tahun seperti ini bahkan angkanya lebih besar,” ucap Yusuf.

Yusuf berujar bila ekonomi kurban ini terus dikelola secara berkesinambungan seperti apa yang dilakukan THK bukan tak mungkin umat islam bisa lebih sejahtera. Masalhnya tambah Yusuf distribui daging kurban yang belum merata. Mengintip catatan IDEAS, dari tahun 1990 kurban terkonsentrasi hanya di kawasan Jabodetabek di Pulau Jawa dan kota Batam serta Medan untuk di Pulau Sumatera.

 

Padahal kata Yusuf daerah yang justru jarang mengonsumsi daging berada di wilayah NTB, Sulteng, NTB dan Kalimantan dengan per kapita konsumsi daging per tahun terendah ada di Provinsi Sulawesi Barat indeks 0,003.

“Terjadi kesenjangan luar biasa. Harus ada upaya secara sistemik dan masif untuk mendistribusikan daging kurban,” jelas Yusuf.

Guna membangkitkan gairah dan memaksimalkan potensi ekonomi kurban, peternak-peternak kecil di Indonesia yang jumlahnya mencapai 13 juta KK mesti diperkuat. Dari jumlah peternak tersebut 5 juta KK diantaranya memelihara sapi, 2,7 juta KK beternak kambing, 0,6 juta KK membiakan domba dan 0,4 juta fokus menternak kerbau. Problem lainnya terdapat pada jarak antara lokasi ternak dan market yang berjauhan, hal ini membuat ongkos kirim membengkak dan berdampak pada harga jual.

“Kalau sapi mahal bukan karena peternak jual mahal tetapi ongkos kirimnya yang tinggi. Tak heran bila sapi impor datang dan THK adalah inovasi sosial yang sangat baik untuk memperkuat ekonomi kurban hingga ke pelosok,” tutup Yusuf.

Advertisement