Emas Melonjak 2%, Sentuh Level Tertinggi Sejak Januari Akibat Tarif AS

Data terbaru laman resmi Logam Mulia Selasa (17/3/2026), harga emas batangan mencatatkan penurunan tipis dibandingkan posisi hari sebelumnya. (Foto: pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Harga emas dunia melonjak signifikan pada perdagangan Senin (23/2/2026). Harga bahkan mencapai posisi tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar atas arah kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump serta ketidakpastian suku bunga Negeri Paman Sam.

Lonjakan harga mencerminkan kembali menguatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven) di saat risiko ekonomi dan politik global meningkat.

Emas Spot dan Berjangka Sama-sama Menguat

Pada penutupan sesi Amerika Serikat, harga emas spot tercatat naik sekitar 2% menjadi 5.206,39 USD per ons. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak akhir Januari, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik puncak intraday dalam periode tersebut.

Tak hanya pasar spot, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga menguat lebih tajam, yakni 2,8% ke posisi 5.225,60 USD per ons.

Kenaikan harga terjadi tak lama setelah Trump menyampaikan rencana peningkatan tarif impor. Pernyataan itu muncul menyusul putusan Mahkamah Agung (MA) AS yang sebelumnya membatalkan kebijakan tarif yang Trump keluarkan.

Pada akhir pekan lalu, Trump mengumumkan kenaikan tarif sementara untuk seluruh impor AS dari 10% menjadi 15%, batas maksimum yang diperbolehkan oleh hukum. Langkah tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait potensi lonjakan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Investor Kembali Berburu Safe Haven

Kondisi ketidakpastian tersebut membuat investor kembali melirik emas sebagai aset lindung nilai.

“Ketidakpastian ekonomi dan politik global masih tinggi. Dengan aktivitas pasar yang kembali normal setelah libur Imlek, peluang emas untuk menguat semakin besar,” ujar mitra pengelola CPM Group, Jeffrey Christian.

Sentimen tersebut diperkuat oleh data makroekonomi terbaru AS. Inflasi inti tercatat lebih tinggi dari perkiraan pada Desember. Sementara pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV justru melambat tajam.

Kombinasi inflasi yang membandel dan perlambatan ekonomi menimbulkan dilema bagi bank sentral AS. Dalam kondisi seperti ini, Federal Reserve berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama—sebuah faktor yang biasanya membatasi kenaikan harga emas. Namun, tekanan geopolitik dan risiko kebijakan dinilai cukup kuat untuk tetap menopang logam mulia tersebut.

Menanti Kembalinya Permintaan dari China

Pasar juga menaruh perhatian pada pembukaan kembali perdagangan di China daratan, yang dijadwalkan Selasa setelah libur Tahun Baru Imlek. China merupakan salah satu konsumen emas terbesar di dunia.

Kembalinya aktivitas perdagangan di negara tersebut diperkirakan akan meningkatkan likuiditas pasar dan berpotensi menambah permintaan fisik emas.

Logam Mulia Lain Ikut Bergerak

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada emas. Perak spot melonjak 3,2% menjadi 87,23 USD per ons, tertinggi dalam lebih dari dua pekan.

Di sisi lain, platinum melemah tipis 0,7% ke 2.140,75 USD per ons. Sementara itu, paladium naik 0,1% menjadi 1.750,53 USD per ons.

Arah Harga Ditentukan Tarif dan Suku Bunga

Secara keseluruhan, reli emas kali ini menggambarkan sikap defensif investor yang kembali menguat. Kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta arah suku bunga global diperkirakan akan menjadi faktor penentu pergerakan harga emas dalam waktu dekat.

Selama ketidakpastian tarif dan risiko ekonomi masih membayangi, emas berpeluang mempertahankan daya tariknya sebagai aset perlindungan nilai di tengah gejolak pasar global.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here