JAKARTA – Peningkatan sebaran titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat Provinsi Riau, Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan menetapkan status siaga darurat karhutla.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan penetapan status untuk mengantisipasi karhutla dan memudahkan dalam penanggulangan bencana asap akibat karhutla.
“Penetapan status siaga darurat ini diambil setelah beberapa kabupaten/kota di masing-masing provinsi menetapkan siaga darurat. Satgas terpadu dibentuk dimasing-masing provinsi untuk mengatasi karhutla yaitu satgas darat, satgas udara, satgas pelayanan kesehatan, satgas penegakan hukum dan satgas sosialisasi,” paparnya, Rabu (26/7/2017).
Upaya preventif sudah banyak dilakukan. Namun luasnya wilayah yang harus dijaga dan terbatasnya sarana prasarana kata dia, menyebabkan karhutla masih terjadi di beberapa daerah. Sebagian besar penyebab karhutla adalah kesengajaan untuk membuka lahan.
Untuk mendukung operasi karhula, BNPB mengerahkan 18 helikopter pemboman air (water bombing).
“Sebaran dari 18 helikopter tersebut adalah Riau 5 unit, Sumatera Selatan5 unit, Kalimantan Barat 4 unit, Jambi 2 unit, dan Aceh 2 unit,” paparnya.
Sementara dua helikopter pemboman air dioperasikan di Aceh menyusul penetapan siaga darurat di Kabupaten Aceh Barat. Selain itu, operasi hujan buatan juga di gelar oleh BNPB dan BPPT di Riau dan Sumatera Selatan.
“Total 68,4 ton bahan semai Natrium Chloride disebarkan ke dalam awan-awan potensial dengan menggunakan pesawat Casa-212 untuk memicu hujan. Sedangkan satgas darat dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, MPA, dunia usaha dan masyarakat terus melakukan pemadaman di darat,” tukasnya, dilansir Go News.




