AGAKNYA pengikut anjuran penyanyi Ebiet G. Ade dari Banyumas, makin bertambah. Dalam sebuah lagunya di tahun 1980-an berjudul “Untuk kita renungkan”, dia dengan serius mengatakan, “Kita musti telanjang dan benar-benar bersih……”. Nah, jangan-jangan lagunya Ebiet tersebut telah merasuki jiwa sejumlah orang dari dalam dan luar negeri. Sejumlah orang bikin repot polisi gara-gara telanjang bulat di depan publik.
Ustadz sering mengatakan di depan jemaahnya, jangan terlalu memburu duniawi, karena sewaktu lahir procot ke dunia kita dalam kondisi telanjang. Setelah mati pun, meski kaya seperti pengusaha Chairul Tanjung atau Arifin Panigoro, tetap saja harta miliknya yang bertriliun-triliun itu takkan dibawa. Yang dibawa mati hanya kain kafan 4 meter dan amal-amalnya di dunia.
Tapi sebagai umat beragama dan berbudaya, kita musti menutup tubuh secara rapat agar tidak mengundang syahwat. Dalam Qur’an pun sudah digariskan, di mana batas aurat untuk wanita dan di mana pula batas aurat untuk kaum lelaki. Bahkan dalam surat Annur ayat 30 dijelaskan, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Mata keranjang dan telanjang memang berhubungan erat. Banyak terjadi kasus perkosaan juga tak lepas dari unsur itu. Si wanita sebagai suplay (persediaan) dan lelaki sebagai demand (kebutuhan). Jika sama-sama cocok, terjadilah perselingkuhan atau yang biasa disebut PIL dan WIL. Tapi jika tak ada kesamaan “visi” dan “misi”, yang terjadi kemudian adalah pemaksaan kehendak, alias perkosaan.
Lelaki memang dikenal makhluk yang mudah terangsang, sehingga ketika bekerja jadi PNS atau swasta, sangat mendambakan adanya “uang perangsang” untuk menambah semangat kerja. Itu masih wajar. Yang kurang ajar adalah, mencari “uang perangsang” dengan cara korupsi, mengakali uang negara atau perusahaan. Kenapa pula lelaki demen sekali cari “uang perangsang” tidak resmi, karena dia juga terangsang oleh wanita cantik yang sedang jadi idolanya.
Kita kembali ke labtop. Dalam lagu “Untuk kita renungkan”, Ebiet G. Ade bilang, “Kita musti telanjang dan benar-benar bersih…..” Tanpa anjuran Ebiet pun, saat mandi kita memang musti telanjang sehingga bisa kosokan (bilas) dengan bersih. Celakanya, sedang bukan mandi pun kini banyak orang tanpa malu-malu telanjang di depan publik. Tak ayal hal ini bikin repot polisi. Mereka harus mengamankannya, agar tidak menganggu ketertiban umum.
Pada Desember 2016, turis wanita bernama Mistres Briam nekad bugil di Ubud, gara-gara stress kehabisan uang di negeri orang. Lalu beberapa hari lalu, di Kebun Raya Bogor, seorang bule asal Selandia Baru bernama JCC (28), diamankan polisi. Dia dalam kondisi nyaris bugil (95 %) menerobos masuk Kebun Raya Bogor tanpa karcis. Ketika ditangkap polisi, JCC beralasan untuk meditasi. Lho, kok seperti orang Jawa saja?
Dalam keyakinan orang Jawa, memang ada meditasi yang dilakukan dengan bugil. Tapi biasanya dilakukan tengah malam; mengelilingi rumah sambil telanjang bulat. Bahkan dalam sejarah Kesultanan Demak di abad ke-15, Ratu Kalinyamat sengaja bertapa telanjang bulat asinjang rambut (berkain rambut) di Gunung Donorojo (Jepara), karena Pangeran Hadiri suaminya mati dibunuh Arya Penangsang. Begitu dendamnya, Kalinyamat hanya mau berhenti tapa bugil setelah kesed kepala Arya Penangsang. (Cantrik Metaram)





