ENDANG JAKIAH KRAMAN (2)

Arwah Endang Jakiah minta tanggungjawab Betara Kala, tapi sudah keburu kabur.

DI kantor polisi, Begawan Lebda Wacana dan Dewi Sekarwati ibu Endang Jakiah hanya menemukan jazad putrinya membujur kaku dan membisu. Dalam tas miliknya ditemukan sebuah surat wasiyat yang ditujukan pada emak-babe. Intinya surat itu berpesan agar kedua orangtuanya jangan berurusan dengan bank, jangan percaya pada ajaran Panca Leladi sarta jangan jadi pendukung Prabu Baladewa. Surat wasiat itu ditutup dengan kata-kata, “Aku di surga siap menunggu kehadiran mama-papa….”.

“Bapakmu sekarang tukang ojek, nggak pantes disebut mama-papa nak….” kata Begawan Lebda Wacana yang sudah mantan sambil menangis terisak bersama istrinya.

Kata polisi, Endang Jakiah sampai hendak kraman (berontak) pada negri Ngastina karena sudah tercuci otaknya oleh ajaran Begawan Gendrabumi. Sedangkan begawan panutan dan junjungannya itu kini sedang sibuk menjalani persidangan atas berbagai kasus hukum yang dilanggarnya. Diprediksi oleh kalangan pengamat hukum, kalau tidak dihukum mati nantinya Begawan Candrabumi dihukum seumur hidup sampai membusuk di penjara.

Saat pemakaman jenazah Endang Jakiah sang kraman-wati, terjadi penolakan dari penduduk sekitar TPU Tunjungpuspita. Mereka menolak wilayahnya dikotori mayat musuh negara. Terpaksa Endang Jakiah dimakamkan di belakang padepokan, tepatnya dekat kandang ayam. Tak ada upacara, tak ada karangan bunga numpuk di atasnya.

“Sudahlah nak, semoga kamu tenang di sini ya. Ayah-ibumu kapan-kapan akan menyusulmu.” Kata mantan Begawan Lebda Wacana dengam masih terus terisak.

“Hormati gurumu sayangi teman…..ya nak,” pesan sang ibu Dewi Sekarwati yang rupanya pernah jadi guru Taman Kanak-Kanak.

Sementara itu di Jonggring Salaka Sanghyang Betara Guru dan Patih Narada tengah berembug serius, menyikapi demo para mantan kramanwan dan kramanwati yang menuntut surga. Para kramanwan juga menagih janji bahwa di suwarga pangrantunan akan disediakan 72 bidadari perorang. Sudah lama ditunggu-tunggu, sampai ada yang bawa pil Viagra segala, tapi kok tak kunjung tiba para bidadari itu.

“Enak aja minta bidadari 72, untuk para dewa saja masih kekurangan stok,” kata Betara Guru.

“Elekkk-elekkk……., ulun juga heran. Sudah ganti alam kok masih mikiran selangkangan juga.” Keluh patih Betara Narada.

“Tolak saja kakang Narada. Mereka telah salah menerima ajaran hoaks. Justru karena melawan penguasa yang sah, nanti sanksinya direndem di kawah Candradimuka.” Titah Betara Guru tegas.

Begitulah ajaran sesat Begawan Gendrabumi telah membius para muridnya. Yang lelaki dijanjikan 72 bidadari, lalu yang wanita dapat apa? Mana mungkin dia diantri 72 bidadara, apa nggak gempor? Para bidadaranyapun juga ogah disuruh ngantri hanya soal begituan, mending antri vaksin Covid-19 ada nilai tambahnya untuk kekebalan tubuh.

Sebagaimana prediksi para pakar hukum,  dalam sidang pradata di negeri Ngastina yang sepi tanpa pendukungnya, Begawan Gendrabumi dituntut hukuman seumur hidup. Ombyokan sih kasusnya. Ada penghinaan terhadap Panca Leladi, sweping tempat hiburan, menghina Prabu Duryudana, sampai kasus chat mesum dengan bidadari di Jonggring Salaka.

“Tuntutan itu terlalu berat, mengajak orang ke jalan yang benar kok malah mau dipenjarakan seumur hidup. Jaksanya ngawur tuh,” kata pengacara Begawan Gendrabumi, resi Munarsekti seusai sidang.

“Lalu maunya Anda bebas begitu…..?” kata seorang jurnalis hati-hati sekali, takut pengacara itu emosi dan siramkan air teh.

Seminggu kemudian hakim yang menangani perkara Begawan Gendrabumi bikin kejutan. Tuntutan Jaksa tak dipenuhi, karena hakim justru memvonis dia bebas….. dari segala urusan dunia, alias mati! Dalam amar putusannya juga disebutkan bahwa kesempatan banding dan kasasi Begawan Gendrabumi hanya diberi waktu seminggu. Lewat masa itu begawan radikal itu harus dihadapkan ke regu panah,  untuk dihantarkan ke yomani.

Biasanya para pendukung dan penjunjung Begawan Gendrabumi pasti demo besar-besaran manakala merasa bosnya didzolimi. Tapi sekarang karena sudah ditinggal bohir dan cukongnya, tak ada yang demo di depan Istana Gajahoya, maklum tak ada lagi penjamin nasi bungkusnya. Maka ketika mendengar Begawan Gendrabumi divonis hukuman mati, mereka hanya mendoakan dari rumah masing-masing.

“Kok ente nggak demo ke Istana Gajahoya, tumben-tumbenan.” Kata wayang akar rumput pada temannya yang diketahui penggemar berat Begawan Gendrabumi.

“Boro-boro demo ke Istana dengan biaya sendiri, bukan ngempani keluarga saja susah.” Jawab wayang langganan demo Begawan Gendrabumi.

Demikianlah, baik banding maupun kasasi Begawan Gendrabumi ditolak, sehingga eksekusi untuknya harus segera dilaksanakan. Di Ngastina tak dikenal upaya hukum yang namanya PK. Kalaupun ada PK, itu hanya obat gatal-gatal untuk kaki, yang bila direndem dalam air warnanya  jadi merah hati.

Lagi-lagi senjata Kunta milik Adipati Karno jadi penyelesai masalah. Kali ini dipinjam negara untuk mengeksekusi Begawan Gendrabumi. Pagi buta setelah sarapan bubur kacang ijo campur ketan item kesukaan sang begawan, eksekusi dilaksanakan secara diam-diam tanpa liputan pers. Cuma aneh bini ajaib, behitu panah Kunta itu dilepaskan dari busurnnya dan tepat di dada Begawan Gendrabumi, mendadak dia menghilang dan berubah jadi Betara Kala dan terbang ke langit biru.

“Puas membunuh Begawan Gendrabumi, iyeeee……!” ledek Betara Kala sambil kabur.

“Cepat panggil Semar, cepatttt!” kata sang eksekutor saat tahu terpidana kabur.

Percuma panggil Semar di Ngamarta, nggak ada ceritanya punakawan Ngamarta mau bantu kubu Kurawa, karena itu musuh bebuyutan bagaikan kecebong dan kampret. Mereka terus berseteru sampai Perang Baratayuda terjadi di 2024 nanti. Tapi dengan kepergian Begawan Gendrabumi untuk selamanya, Insya Allah negeri Ngastina akan kembali tata tentrem Slamet Rahardjo.

Tinggal sekarang arwah para pengikut Begawan Gendrabumi di kahyangan menanti tanpa kepastian. Mereka sudah berkorban nyawa demi junjungannya, tapi setelah mati sebagai teroris, sambutan 72 bidadari tak juga ada. Apa lagi 72 bidadari untuk teroris wanita, semuanya juga hoaks. Kata Betara Guru selaku penguasa kahyangan 72 bidadari dan 72 bidadari itu dialokasikan untuk sambut Tahun Baru nanti.

“Lalu bagaimana nasib kita, pukulun Betara Narada?” tanya para eks teroris ngercapada  termasuk Endang itu pada patih Jonggring Salaka yang mendadak meninjau mereka.

“Kalian belum bisa dimasukkan ke kawah Candradimuka sekarang, sebab masih nunggu bejading jaman (kehancuran dunia) lewat Perang Baratayuda. Jadi kalian mau ngapain selama waiting list, ulun nggak bisa bantu.” Kata Patih Narada.

Para arwah teroris termasuk Endang Jakiah sudah minta pertanggungjawaban Betara Kala, tapi dianya hanya menjawab, “Auah gelap!” Maka ribuan mantan teroris ngercapada baik laki dan perempuan, kini jadi arwah gentayangan di kahyangan. Yang tidak betah kemudian turun ke bumi, lalu tinggal di pohon-pohon besar, ada juga yang manjing ke jailangkung dan kuda lumping. Salah sendiri, mereka mau dikadali Begawan Gendrabumi yang ternyata penjelmaan Betara Kala. (Ki Guna watoncarita – Tamat)

Advertisement