Enggan Bertakziah

Sudah menjadi tradisi masyarakat, setiap wara meninggal bergotong royong mengurus jenazajh, termasuk membacakan Alquran.

BEBERAPA hari lalu viral diberitakan, seorang warga Kediri meninggal tanpa ada yang takziah atau melayat. Tetangga pun tak ada yang mau mengurus jenazahnya, sehingga pemakaman diselenggarakan oleh pihak perangkat desa atau kelurahan. Tapi Kapolsek Semen menegaskan, itu berita hoaks. Yang benar, penyelenggaraan pemakaman diambil alih pihak desa karena ahli waris maupun almarhum sama-sama penderita disabilitas keterbelakangan mental alias pekok.

Kejadian itu berlangsung di desa Kadak Kecamatan Semen Kabupaten Kediri (Jatim). Di era digital seperti sekarang ini, setiap ora bisa membohongi orang lewat media elektronik. Hanya modal HP android, empunya sudah bisa bikin video langsung dan menyiarkannya tanpa melalui OB Fan seperti stasiun televisi dulu. Pembuat atau pengunggah video itu tak memikirkan dampaknya bagi masyarakat maupun Negara.

Narasi yang dibuat untuk almarhum (Partono) memang benar, dia selama hidupnya tak pernah peduli dengan lingkungannya alias ora lumrah uwong. Ada tetangga meninggal tak mau datang, ada tetangga punya hajat juga tak mau kondangan. Lha bagaimana mau melayat dan kondangan, wong ngurus dirinya sendiri saja kerepotan. Perlu diketahui, baik Partono yang meninggal dan Partini ahli warisnya, sama-sama memiliki keterbelakangan mental, sehingga kehidupan sehari-harinya sangat mengandalkan bantuan tetangga dan BLT.

Apa yang dijelaskan oleh Kapolsek AKP Siswandi memang benar adanya, sebab ditilik dari omongan yang terekam dalam video tersebut, mereka tampak cekikikan ketawa-ketiwi sambil mengusung jenazah. Dalam kondisi normal, artinya yang meninggal orang normal dan ahli warisnya orang normal, mengantar dan menggotong jenazah ke pemakaman sambil cekikikan justru orang nggak normal.

Terlepas dari video bohongan di Kediri, menengok ke belakang di tahun 2014, orang meninggal tak ada yang melayat benar-benar terjadi. Di samping media online belum secanggih sekarang, dan yang memberitakan grup Tribune milik Harian Kompas, berita itu diyakini kebenarannya. Suwerrrrr….., kata orang sekarang.

Cuma disayangkan, sudah menjadi gaya pemberitaan jurnalisme modern, jangankan RT/RW-nya, selagi desanya saja disembunyikan. Grup Tribune hanya berani menyebut nama kecamatannya doang, yakni Taman, Kabupaten Madiun. Padahal Kecamatan Taman itu terdiri dari 9 desa yakni: Banjarejo, Demangan, Josenan, Kejuron, Kuncen, Mojorejo, Manisrejo, Pandean dan Taman. Nah silakan, jika penasaran bisa chek satu persatu desa mana, yang tahun 2014 ada warganya meninggal tak ada yang melayat. Selamat gempor dah!

Yang jelas, desa itu dekat dengan Desa Josenan, sebab ketika modin desa almarhum enggan mengurus jenazahnya, keluarga lalu minta tolong modin desa Josenan, untuk mensalatkan dan mengurus sampai ke pemakamannya. Padahal dalam hukum Islam, mengurus jenazah itu hukumnya wajib kifayah. Jika sudah ada yang mengurus, bebaslah warga yang lain. Tapi jika tak ada yang mengurus, maka warga desa tersebut terkena dosa semuanya.

Seperti yang diberitakan Tribune, kejadiannya 3 Nopember 2014. Nama almarhum hanya disingkat K, mungkin Kardi, Kartono atau Kusman. Tak mungkin Kristoper atau Kornelis, sebab nama orang Jawa dulu tak ada yang berbau Barat.

Diberitakan, semasa hidupnya Pak K ini kuper habis. Tak mau bergaul sama tetangga, kecuali menggauli istri. Sama lingkungan juga acuh. Ada rapat RT tak pernah mau datang, kerjabakti mangkir, kondangan juga pantang. Demikian juga ketika ada tetangga meninggal, Pak K ini ogah datang takziah. Mungkin dia berfikir, “Percuma, wong nanti kalau saya mati dia juga nggak datang kok.”

Benar saja, ketika Pak K meninggal atau wafat kata jurnalis muda masa  kini, tetangga membalasnya. Tak satupun tetangga yang datang melayat. Kursi sudah disediakan, tak ada yang menduduki. Semua diurus keluarga dekatnya saja, baik itu anak maupun istrinya. Dan ketika harus memandikan dan mensalatkan, barulah minta tolong modin desa Josenan, sebab modin desa tersebut juga ogah melakukannya. Mungkin dia sekedar solider pada tetangga yang lain.

Dalam kehidupan masyarakat, sebetulnya orang bertipe macam Pak K Madiun ini juga ada, hanya tetangga tak tega memberi pembalasan setimpal. Di Kecamatan Cipayung Jaktim ada juga ada lho. Kakaknya sendiri jadi RT, tapi dia sendiri –sebut saja Pak Acuh– tak mau bergaul dengan lingkungannya. Tetangga hajatan, tak mau kondangan, tetangga meninggal tak mau melayat, bahkan rapat RT yang dipimpin kakaknya sendiri, dia tak pernah menampakkan batang hidungnya.

Ketika istrinya Pak Acuh meninggal, apakah warga membalasnya? Tidak tega juga. Karena menghormati pada kakaknya yang Ketua RT, para tetangga tetap saja ikut takziah. Entah apa sebabnya, Pak Acuh ini menjadi makhluk soliter, apa karena ekonominya tak pernah keteter? (Cantrik Metaram)