JAKARTA, KBKNEWS.id – Sikap dingin datang dari berbagai negara Eropa terhadap permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membantu pengamanan Selat Hormuz dengan kekuatan militer.
Permintaan tersebut muncul di tengah meningkatnya konflik antara AS-Israel dan Iran sejak akhir Februari 2026, yang berdampak langsung pada terganggunya jalur distribusi minyak global.
Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi dunia.
Sejumlah negara dan blok di Eropa yang menyatakan penolakan antara lain Jerman, Inggris, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, serta Uni Eropa. Mereka kompak memilih tidak mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Alih-alih terlibat langsung dalam operasi militer, negara-negara tersebut cenderung mengambil pendekatan hati-hati. Mereka menilai situasi yang berkembang masih membutuhkan kejelasan, terutama terkait tujuan dan strategi operasi yang diusulkan oleh Washington.
Pemerintah Jerman menjadi salah satu yang paling vokal dalam menyuarakan sikap tersebut. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul menegaskan pentingnya memahami kondisi secara utuh sebelum mengambil keputusan strategis, sekaligus mendorong pembahasan bersama negara-negara kawasan untuk merumuskan sistem keamanan jangka panjang.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memastikan negaranya tidak akan mengerahkan armada atau personel militer ke wilayah konflik. Ia menegaskan bahwa konflik tersebut bukan bagian dari kepentingan langsung Jerman.
Meski menolak keterlibatan militer, negara-negara Eropa tetap membuka ruang bagi upaya diplomasi dan kerja sama internasional guna meredakan ketegangan serta menjaga stabilitas jalur pelayaran global.





