
PERTEMPURAN terus berkecamuk antara milisi pimpinan Jenderal Khalifa Haftar yang berupaya menduduki ibukota Libya, Tripoli dan pasukan pemerintah PM Fayez al-Sarrai dukungan PBB yang mempertahankannya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) seperti dikutip Wall Street Journal menyebutkan, paling tidak 121 orang tewas, sebagian warga sipil yang terjebak di tengah petempuran antara kedua pihak yang berseteru.
Bahkan Kantor PBB Urusan Kemanusiaan mengungkapkan, tiga petugas medis tewas, sejumlah ambulance rusak, 13.500 orang terlantar dan 900-an diungsikan di tempat-tempat penampungan sementara akibat konflik militer tersebut.
Pertempuran sengit terjadi Jumat lalu (4/4) , menewaskan 75 personil dua belah pihak, 13 warga sipil dan melukai 313 orang lainnya
Haftar (75), jenderal di rezim diktator Libya Muamar Khadafy yang memimpin milisi bermarkasi di kota Benghazi, sebelum melancarkan serangan ke Tripoli mengerahkan pasukannya untuk menguasai wilayah gurun kaya minyak di selatan Libya.
Kucuran bantuan jutaan dollar AS dari Arab Saudi diduga membuat posisi Haftar yang semula menguasai wilayah timur Libya berada di atas angin karena ia bisa merekrut pasukan dan membeli pesenjataan untuk melawan rezim PM al-Sarrai yang mengendalikan Tripoli.
Spekulasi terkait adanya bantuan keuangan tersebut semakin santer setelah lawatan Haftar ke Riyadh, Arab Saudi akhir Maret lalu, sementara serangan ke Tripoli dimulai pada 4 April.
Konflik berdampak meningkatkan arus pengungsi menuju Eropah, mengacaukan program perdamaian yang diprakasai PBB, serta memicu bergabungnya kelompok bersenjata terutama mantan kombatan ISIS yang memanfaatkan situasi.
PBB dan komunitas internasional agaknya sudah harus turun untuk menyelamatkan rakyat Libya. (WSJ/Reuters/ns)




