Yatim Tanpa Andalan, Tapi Usahawan

Syahroni. Foto: Maifil

Syahroni, kini menjadi Dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir di Jakarta. Ia merupakan salahsatu penerima manfaat pertama dari kebaikan Prof. Amir Rajab Batubara di Yayasan Wakayapa yang kini diserahkan kepada Dompet Dhuafa mengelolanya.

Diawal tahun 1990-an bersama para senior mantan pejabat – pejabat Bank Pemerintah, Prof Amir mendirikan Yayasan Wakaf Yatim dan Papa (Wakayapa) yang berhikmat untuk mendidik para anak yatim dari seluruh nusantara menjadi pengusaha dengan memberikan mereka pendidikan keterampilan modal usaha dan bimbingan. Melalui program ini telah lahir ratusan pengusaha yang semula hanyalah anak yatim yang dhuafa.

Pak Amir mencari sendiri anak-anak yatim dari panti ke panti untuk di latih di yayasan itu. Seperti dikisahkan Syahroni, yang saat itu ia tinggal di Panti karena sudah yatim piatu. Datanglah Prof Amir ke pantinya dan memilih 2 orang anak yatim yang akan diajak jalan-jalan keliling Pulau Jawa olehnya.

“Mulai dari Demak, Bandung, Jatijajar, Jogja lebih kurang 4 hari. Setiap panti di Jabodetabek diambil 2 orang. Saya terpilih dari panti saya,” jelas Syahroni.

Selama diperjalanan Prof Amir yang juga membawa mobil mewahnya untuk mendampingi tur itu, ia memilih bergabung dengan anak-anak yatim di dalam bus.

“Agaknya ia ingin melihat satu-persatu dari kami, setelah tur selesai beberapa lama kemudian ia kembali mendatangi panti saya dan mengajak saya untuk sekolah keterampilan,” kisah Syahroni.

Keterampilan yang dipelajari saat itu untuk masing-masing harus dua, keterampilan Minor dan Mayor. Keterampilan minor merupakan keterampilan utama dan mayor keterampilan alternative apabila kesempatan untuk minor tidak ada. “Saya pilih: Percetakan Sablon sebagai keterampilan minornya dan Otomotif sebagai keterampilan mayor,” jelas Syahraini.

Setelah dilatih selama 9 bulan, Syahroni sudah mampu membuka bisnis percetakan, karena ketika belajar dia tidak saja belajar keterampilan tapi juga pembukuan dan bisnis proses.

“Dengan usaha sablon dan percetakan itulah saya bisa mandiri, saya bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi, berkeluarga dan kini menjadi dosen. Usaha tetap jalan karena juga memberdayakan teman-teman yang lain untuk menjadi karyawan,” terang Syahroni.

Syahroni sangat bersyukur ditemukan Allah Swt dengan Prof Amir, Ia sangan penyayang dan penyantun anak yatim. “Kalau dia melihat anak yatim, ia selalu ingin mengangkatnya. Ia tidak mau anak yatim itu menjadi terbelakang,” kenang Syahroni.

Salahsatu pesan yang setiap ketemu disampaikan Prof Amir adalah, “Kami yatim tanpa andalan, namun kami usahawan.” Kalau usahawan hidup dari untung usahanya.

Advertisement