F-35 “Super Gledek”, Jatuh Sebelum “Tanding”

Promosi buruk bagi "Joint Strike Fighter", siluman F-35 Super Lightning II buatan Lockheed Martin, AS setelah ada yang jatuh karena kecelakaan atau mesinnya terbakar.

PESAWAT tempur terbaru buatan Lokheed Martin, Amerika Serikat   F-35 Super Lightning II”  digadang-gadang sebagai pesawat tempur siluman generasi kelima terbaik  di dunia .

Keandalan F-35 baru bisa dibuktikan (combat proven) dalam operasi udara terbatas oleh AU Israel yang berhasil menyerang sasaran darat yang dipilihnya dekat pangkalan udara Damaskus, Suriah baru-baru ini tanpa terdeteksi radar lawannya.

Selain tidak kasat oleh radar lawan atau berkategori siluman, pesawat generasi kelima menggunakan bodi komposit, dilengkapi radar “cross section” yang mampu mengendus pesawat lawan lebih akurat dan dioperasikan secara penuh dengan sistem komputer secara digital.

Namun beberapa kasus kecelakaan terjadi pada F-35 yang digadang-gadang mampu beroperasi sampai 2070 dan akan diproduksi sekitar 2.400 unit untuk memenuhi permintaan sejumlah negara sekutu AS itu.

Sebuah F-35 terbakar mesinnya usai latihan di Lanud Eglin, AS pada 23 Juni 2014 walau pilotnya berhasil menyelamatkan diri, kemudian Komando Pelatihan dan Pendidikan  AU AS (AETC) melaporkan terbakarnya F-35 akibat salah satu bilah rotor mesinnya yang macet merusak tutup (casing) mesin pada awal Juni 2015.

Pada kejadian lainnya (28 Sept. ’18) , sebuah varian F-35B milik marinir AS (USMC) yang bisa tinggal landas di landasan pendek dan mendarat vertikal (STOVL) jatuh di kawasan North Caroline, AS, sementara pilotnya selamat melompat dengan korsi lontar.

Sementara kecelakaan terakhir, hilangnya F-35 milik Pasukan Bela Diri Jepang di Samudera Pasifik beberapa saat setelah mengudara dari pangkalan udara Misawa, Perfektur Aomori, Jepang pada 9 April lalu.

Saat itu, pilotnya, Mayor Akinori Hosomi (41)  yang sudah mengantongi 3.200 jam terbang termasuk di cokpit F-35 dalam misi latihan terbang rutin dan melaporkan melaui radio di pesawatya beberapa saat sebelum lenyap dari pantauan radar.

F-35 dibandrol antara 48 juta dollar AS sampai 63 juta dollar AS (antara sekitar Rp672 milyar sampai Rp882 milyar) per unit tergantung variannya (F-35A standar, F-35B yang mampu terbang di landasan pendek dan pendaratan vertikal serta F-35 C untuk dioperasikan di kapal induk).

Pesawat yang dioperasikan dengan komputer secara penuh tersebut sudah diproduksi 380 unit sejak 2015 dan saat ini digunakan oleh AS sendiri, sejumlah negara NATO seperti Australia, Belanda Inggeris, Itali, Kanada dan Turki, juga Jepang dan Israel.

Pesawat Cengdu J-20 dan Shenjang-31 buatan China dan Sukhoi SU-57 Rusia disebut-sebut sebagai lawan setara F-35 yang dikualifikasikan sebagai pesawat tempur gabungan (joint strike fighter).

F-35 yang mampu melaju dalam kecepatan l,6 suara (Mach 1.6) dengan sistem avionic dan radar mutakhir “cross section”  dilengkapi dengan berbagai konfigurasi persenjataan, termasuk kanon, rudal anti pesawat dan anti kapal serta aneka bom berpresisi tinggi.

“Sepandai pandai tupai melompat, bisa jatuh juga”, ungkap pepatah lama, sedangkan kita sebagai umat beragama meyakini, secanggih apa pun teknologi, tidak bakal menyaingi kehendak Allah. (AFP/Reuters/Wikipedia/ns)

Advertisement