Fakta dan angka kerusakan di Gaza

sudah 41.445 warga Palestina di Gaza tewas, prasarana dan sarana publik porak poranda di Gaza sampai 24 Sept, belum ada tanda-tanda perang mereda.

PERANG di Gaza antara pasukan Israel dan sayap militer Palestina, Hamas sejak 7 Oktober 2023 sudah menjelang satu tahun, namun belum ada tanda-tanda mereda, bahkan makin menggila.

Di kawasan sama, perang juga merembet ke Lebanon antara Israel dengan milisi Hisbullah dukungan Iran. Israel kembeli melancarkan serangan udara ke Lebanon, Minggu (23/9), menewaskan 492 orang.

Eskalasi perang terus meningkat sejak serangan Hamas ke Wilayah Israel yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera 240 orang lainnya pada 7 Okt.,’23 , dibalas dengan bombardemen masif Israel ke Gaza sehari kemudian (8/10) sampai hari ini.  

Tercatat sekitar 41.445 warga Palestna tewas, puluhan ribu luka-luka dan lebih satu juta orang mengungsi ke negara-negara sekitarnya.

AFP dan Aljazeera melaporkan, 59 persen bangunan di Gaza (169.000 unit) rusak atau hancur di salah satu tempat terpadat di dunia seluas 365 km2 itu yang saat sebelum perang berpenduduk sekitar 2,4 juta jiwa.

Kerusakan terparah terjadi dalam dua atau tiga bulan pertama setelah serbuan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober yang memicu perang.

Kemenkes di Gaza mencatat 41.455 orang tewas warga Palestina dan milisi Hamas di Gaza masih bisa bertambah karena kemungkinan masih ada korban terperangkap reruntuhan bangunan.

Kelompok HAM Amnesty International melaporkan, 90 persen bangunan di sepanjang 58 km persegi wilayah perbatasan Gaza dengan Israel tampaknya telah “hancur atau rusak parah” antara Oktober 2023 dan Mei 2024.

 

Korban di pihak Israel

Di pihak Isrel, berdasarkan penghitungan angka resmi yang dirilis otoritas Israel, serbuan Hamas 11 bulan lalu mengakibatkan  kematian 1.205 orang di pihaknya, sebagian besar warga sipil.

Sebelum perang, Kota Gaza di Jalur Gaza utara menjadi rumah bagi sekitar 600.000 orang. Hampir 3/4 bangunannya kini dilaporkan telah rusak atau hancur. 

Sementara itu, di Rafah, kota paling selatan di Jalur Gaza yang berbatasan dengan Mesir, tentara Israel telah melancarkan serangan darat pada awal Mei lalu.

Meskipun relatif aman dibandingkan dengan Kota Gaza, fasad dan bangunan yang hancur di Rafah menjadi bukti bekas luka perang.

Sebanyak 20 RS tidak lagi berfungsi selama perang, rumah sakit di Gaza telah berulang kali diserang oleh Israel, yang menuduh Hamas menggunakannya untuk tujuan militer.

Tuduhan itu sendiri telah berulang kali dibantah oleh kelompok tersebut. RS terbesar di wilayah itu, Al-Shifa di Kota Gaza, menjadi sasaran dalam dua serangan tentara Israel, yang pertama pada November 2023 dan yang kedua pada Maret 2024.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, serangan kedua membuat rumah sakit tersebut menjadi “cangkang kosong” yang dipenuhi dengan mayat-mayat manusia. 

“Pada Agustus, hanya 16 dari 36 rumah sakit di Gaza, atau 44 persen, yang berfungsi sebagian,” lapor WHO, dikutip dari Al Jazeera.

60 persen masjid hancur

OpenStreetMap mengindikasikan, bahwa lebih dari 60 persen masjid di Jalur Gaza telah rusak atau hancur. 477 sekolah rusak. Sekolah-sekolah yang sebagian besar dikelola oleh PBB di Jalur Gaza juga telah membayar harga yang mahal.

Militer Israel menuduh Hamas menggunakan sekolah-sekolah tersebut untuk menyembunyikan para anggotanya. Ketika Israel melancarkan serangan ke sekolah-sekolah, nyatanya ada banyak warga sipil yang tengah berlindung dari pertempuran di sana.

Pada September, dana global PBB untuk pendidikan dalam keadaan darurat, Education Cannot Waiting, mengatakan hampir 90 persen bangunan sekolah dn 68 persen lahan pertanian (102 km2) di Gaza telah rusak atau hancur.

Menurut citra satelit PBB yang diambil pada 27 Agustus, 68 persen lahan pertanian di Gaza dan 57 persen di Rafah telah rusak, atau seluas 102 km persegi.

Dimulai dari Invasi Israel 1982 hingga Konflik Gaza 68 persen jalan rusak Selain itu, 68 persen jaringan jalan di Gaza dilaporkan telah rusak.

“Sekitar 1.190 kilometer jalan telah hancur, 415 kilometer rusak parah, dan 1.440 kilometer rusak sedang,” ungkap hasil analisis awal oleh UNOSAT dengan mempertimbangkan data hingga 18 Agustus.

Korban jatuh, perusakan dan kerusakan di wilayah Jalur Gaza akibat perang boro-boro boro mereda, apalagi stop, konflik bahkan terus bereskalasi dan merambat ke Lebanon.

Balas beerbalas serangan terus terjadi ditandai tewasya beberapa petinggi  Lasykar Hisbullah dukungan Iran yang bermarkas di Lebanon serta komandan pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC)  

Perang menggunakan berbagai cara, termasuk yang licik dan tak terduga lawan asal bisa memenangkannya seperti dilakukan Israel menaruh bahan peledak di ribuan walkie talkie dan pager (penyeranta) milik anggota Hezbollah.

Akibatnya, selain menewaskan puluhan anggota Hezbollah dan melukai 3.000-an, kejadian di Lebanon pada 17 dan 18 Sept. ’24 itu juga menciptakan ketakutan di kalangan penduduk setempat.

Israel terus menebar terror dengan mengincar nyawa pimpinan lawannya, seperti Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) Jenderal Qasem Soleimani yang tewas di Bandara Baghdad (Juli 2020), Jenderal Hadi Rahimi dan Reza Zahedi di Damaskus (April 2024) dan Komandan Operasi Hezbollah Ibrahim Aqil (22 Sept. Lalu).

Tewasnya komandan lasykar Hezbollah di Lebanon Fuad Shukr (30 Juli), disusul dengan petinggi Hamas Ismail Haniyeh yang kamar tidurnya diledakkan saat bertamu di Teheran (31 Juli) memicu amarah pemerintah dan rakyat Iran.

Entah kapan perang berakhir, jika Iran, Palestina (terutama milisi Hamas) dan Hezbollah  di satu pihak dan Israel di pihak lain terus saling serang, berbalasan. (Al Jazeera/AFP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here