Formula-E daaaaan….

Gelaran Formula-E di Ancol. Meski dipersiapkan hanya dalam tempo 4 bulan ternyata berjalan lancar.

GELARAN balapan mobil listrik yang disebut Formula-E, kemarin sore berlangsung di Ancol dengan sukses di tengah kontroversinya. Publik yang pada awalnya banyak yang meragukan keberhasilan “Proyek Sangkuriang” ini, kini berdecak kagum karena Presiden Jokowi pun berkenan nonton hingga selesai. Maka bagi orang Solo dan Yogya di mana Gubernur Anies Baswedan menjalani masa kecilnya, akan mengomentari dengan kata singkat, “Edaaaan!” Ini kata khas yang maknanya justru sebuah kekaguman.

Formula-E adalah event olahraga yang muncul dadakan di benak Gubernur Anies Baswedan, setelah kunjungan ke AS. Gara-gara “dikompori” Dinopati Jalal mantan Dubes kita di AS, Gubernur Anies langsung kasmaran berat. Meskipun anggarannya sangat fantastis, menghabiskan Rp 560 miliar dana APBD, dipaksakan juga. Sedianya Formula-E akan digelar di Jakarta pada Juni 2020.

Tapi pandemi Corona yang mulai menyerang Indonesia pada Maret 2020, menjadikan gagasan spektakuler sang gubernur rasa presiden itu gagal total, alias terpaksa ditunda. Disebut “rasa presiden” karena Pemprov DKI sama sekali tidak konsultasi atau minta izin ke pemerintah pusat. Bahkan arena lapangan Monas seperti milik Pemprov DKI sendiri, langsung diacak-acak. Ratusan pohon ditebangi demi membuat sirkuit balapan mobil listrik itu.

Ketika Kemensesneg menyetopnya, kawasan Monas sudah kadung berantakan. Ironisnya, Gubernur Anies tak pernah mau menghadapi sendiri segala pertanyaan dan serangan pers. Yang dijadikan bumper justru Sekda Syaefullah, karena kala itu belum ada Wagub pengganti Sandiaga Uno. Mungkin karena kecapekan menghadapi serangan publik, kemudian juga terpapar Covid-19, Pak Sekda pun meninggal dunia di tengah tertundanya cita-cita monumental Gubernur Anies.

Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai; begitulah tekad Gubernur Anies. Maka ketika Wagub terpilih Ahmad Riza Patria mulai aktif, kembali dia dijadikan bumper setiap ada pertanyaan tentang Formula-E. Jawaban bernada meluruskan itu kadang terasa aneh, sehingga media online ada pula yang menyebut, “Kasihan Wagub Ariza, dia terpaksa jadi “tukang cebok” gubernur.”

Yang mempertanyakan proyek misterius ini bukan saja pers, tapi juga kalangan DPRD DKI sendiri. Fraksi PSI dan PDIP menginisiasi digulirkannya hak interpelasi ke Gubernur, untuk mempertanyakan kaburnya dana Rp 560 miliar yang tak bisa lagi ditarik itu. Tapi berkat kelincahan Gubernur Anies mengajak makan malam fraksi DPRD non PSI-PDIP, akhirnya interpelasi itu kandas. “Kita cukup dialog dari hati ke hati saja, tak perlu interpelasi….”, kata para wakil rakyat itu sambil sendawa.

Kejanggalan keuangan atau anggaran Formula-E itu bukan saja diawasi oleh DPRD, tapi juga dilirak-lirik pihak BPK dan KPK. Tapi sampai jereng mata mereka, hingga kini tidak ada tindakan nyata dari kedua lembaga itu, sehingga Gubernur Anies semakin mantap untuk menggolkan gelaran Formula-E di 4 Juni 2022. Ketua panitia pun ditunjuk politisi Nasdem dari DPR, yakni Ahmad Sahroni. Orang dari lembaga legislatif, mendadak diminta ngurusi pihak eksekutif. Tapi harap maklumlah, Gubernur Anies sampai menunjuk dia, karena Nasdem adalah parpol yang sedari awal sudah menimang-nimang dirinya untuk Pilpres 2024 mendatang.

Seakan melupakan ke mana larinya ratusan pohon Monas yang sudah terlanjur ditebang, Pemprov DKI kemudian memutuskan sirkuit ajang Formula-E itu di Ancol, diatas lahan bekas  kerukan lumpur dari berbagai suangai dan danau di Jakarta. Diputuskan menjelang akhir Desember 2021, harus mulai dibangun pada Februari 2022 karena harus mencari siapa kontraktor selaku pemborongnya.

Ternyata tak ada kontraktor yang memenangkan tender kecuali Jaya Kontruksi yang merupakan BUMD. Dia harus ngebut selama 54 hari kerja, siang malam sampai akhir Maret. Ditambah pemasanganm tribun penonton, akhir Mei 2022 pekerjaan harus selesai. Alhamudulillah, proyek Sangkuriang atau Bandung Bondowoso ini selesai sesuai jadwal. Padahal di medsos banyak netizen yang meragukan.

Uniknya siapa sponsor gelaran Formula-E itu tak pernah jelas. Baru seminggu sebelum hari H muncul nama-nama itu, di antaranya perusahaan bir  dari Belanda. Tapi meski sudah disponsoi 31 perusahaan dalam dan luar negeri, Ahmad Saroni selaku Ketua Panitia masih belum pede juga, sehingga merengek-rengek ke Mentri BUMN Erick Tohir agar kerahkan BUMN mau menyeponsori. Tapi karena proposalnya dadakan, tak satupun perusahaan BUMN yang ambil bagian. Bahkan Pertamina yang semula siap, belakangan mundur juga.

Fermula-E dengan segala hambatan dan cemoohan publik, akhirnya berlangsung juga dan sukses. Sebanyak 22.000 tiket dari berbagai kelas, 70 persen diborong oleh penonton asing. Yang 30 persen lagi, sebagian juga diborong oleh Ahmad Sahroni sendiri senila Rp 1,7 miliar. Sedangkan partai PAN juga memborong banyak tiket dengan target untuk membirukan tribun-tribun Formula-E.

Publik sempat mempertanyakan, Presiden Jokowi bersedia hadir tidak dalam gelaran Formula-E yang sebelumnya tanpa konsultasi dengan pemerintah pusat? Ee, ternyata hadir juga dan menonton hingga selesai. “Alhamdulillah Formula-E berjalan lancar dan ini merupakan event masa depan, karena mobil listrik ke depan semakin banyak penggemarnya.” Kata Presiden Jokowi.

Mengapa Presiden Jokowi bersedia hadir? Di samping ini gelaran di ibukota negara, yang jika gagal bikin ikut malu negara, juga karena waktunya hanya satu jam. Selama ini Presiden Jokowi asal menghadiri pertunjukan wayang kulit hanya jug lap (datang sebentar) karena waktunya 8 jam. Beliau tak tahan seperti Bung Karno yang nonton wayang di Istana sampai pagi.

Sayang memang, Formula-E yang menghabiskan dana sampai Rp 560 miliar lebih itu durasinya hanya 60 menit saja. Uang yang sebegitu banyak mak krunyus ludes hanya dalam waktu singkat. Padahal coba, uang Rp 560 miliar jika dipakai nanggap wayang kelas dalang Ki Anom Suroto, bisa lebih dari 1.500 kali pementasan. Gempor deh penonton, dalang dan niyaganya semua.

Tetapi wayang kan tidak mendunia, sedangkan Formula-E bisa juga mengerek nama penyelenggaranya. Jika dia nyapres, juga bisa mendongkrak elektabilitasnya. Maka apapun alasannya, Formula-E yang dipersiapkan selama 4 bulan, benar-benar luar biasa. Ini memang Fermula Edaaaan……, kata orang Yogya-Solo. (Cantrik Metaram)

Advertisement