JAKARTA – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) Dwikorita Karnawati mengungkapkan adanya peningkatan frekuensi gempa secara global, termasuk di Indonesia.
Dwikorita memaparkan, sejak 2008 hingga 2016, rata-rata terjadi 5.000 kali gempa dalam setahun. Hal ini diketahui dari hasil pencatatan 170 alat sensor gempa yang dimiliki Indonesia.
“Tapi begitu tahun 2017 meningkat menjadi 7.000 kali lebih. Alatnya masih sama, ini bukan nambah jadi alatnya mendeteksi lebih sensitif, tidak. Alatnya masih sama,” katanya, Kamis (2/12/2021), dilansir Sindonews.
Menurutnya, BMKG baru memperbarui peralatan sensor gempa pada 2019 dan mulai beroperasi pada 2020. Hasilnya, pada 2018 tercatat 11.920 kali gempa dan 2019 sebanyak 11.800 kali gempa.
“Meskipun tahun 2020 agak turun tapi masih di atas 8.000 dalam kondisi alat yang sama,” kata Dwikorita.
Menurutnya, peningkatan peristiwa gempa setiap tahun telah diprediksi oleh para ahli. Prediksi itu tertuang dalam grafik pada Advance National Seismic System Composite Catalog (ANSS). Katalog ini merupakan hasil prediksi konsorsium para ahli dari 1973 hingga 2047.
Dwikorita mengatakan, dari laporan tersebut diketahui bahwa secara Global atau pun di Indonesia terjadi peningkatan aktivitas gempa.





