
TIDAK tanggung-tanggung, empat pertemuan tingkat tinggi digelar di kota suci Mekkah, pekan lalu, namun hasilnya, alih-alih menyatukan, malah memperjelas kubu-kubu diantara negara-negara Arab.
KTT Rabithah Dunia Islam diselenggarakan 27-28 Mei, KTT Liga Arab dan Dewan Kerjasama Teluk (GCC) pada 30 Mei dan kemudian KTT Organisasi Kerjasama Islam (OKI) pada 31 Mei dan 1 Juni.Emir Qatar Emir Sheikh Tamim bin Talal, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan serta Presiden Iran Hassan Raouhani tidak hadir dalam tiga pertemuan penting tersebut yakni KTT Liga Arab, GCC dan OKI.
Qatar, Turki dan Iran memang berseberangan dengan poros Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir termasuk dalam aksi blokade terhadap Qatar sejak Oktober 2017 karena dituduh sebagai sarang teroris.
Tiga pertemuan darurat tersebut digelar sehubungan dengan memanasnya situasi di Teluk Parsi akibat insiden penyerangan terhadap empat kapal tanker termasuk milik Arab Saudi pekan lalu.
Namun Qatar keberatan atas hasil KTT darurat di Mekkah yang menyuarakan sikap keras terhadap Iran dalam pertemuan darurat negara-negara Arab dan Islam yang diselenggarakan oleh Arab Saudi itu.
“Kecaman atas Iran tidak merujuk pada kebijakan moderat untuk berdialog dengan Teheran,” kata Menlu Qatar Sheikh Moh.bin Abdulrahman Al Thani kepada Al Jazeera.
Menurut Al Thani, KTT Mekkah mengadopsi kebijakan Washington terhadap Iran, bukannya mempertimbangkan situasi di Teluk dan ia mempertanyakan persatuan yang digembar-gemborkan, karena Qatar sendiri masih diblokade oleh Arab Saudi, Mesir, UEA dan Bahrain.
Tiga Poros
Intinya, negara-negara Arab dalam geopolitik Timur Tengah terbelah tiga yakni poros Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA, poros Turki – Qatar dan poros aliran Syiah Iran beserta para loyalisnya.
Poros Saudi, Bahrain, Mesir dan UEA menolak keras kehadiran Ikhwanul Muslimin (IM) yang tumbuh subur di Qatar karena dianggap sebagai ancaman terhadap rezim petahana di empat negara itu.
Sebaliknya, Turki dan Qatar mendukung kehadiran IM karena dianggap sebagai bagian proses demokratisasi yang mulai tumbuh di kawasan Timteng.
Iran bersama dengan kelompok Syiah bertekad membangun kekuatan Syiah di Timur Tengah yang disebut sebagai wilayah bulan sabit yang membentang dari Teheran sampai Beirut.
Deklarasi KTT LIga Arab kali ini a.l memuat kecaman keras terhadap Iran dan para loyalisnya termasuk tuduhan bahwa sabotase terhadap empat tanker (12/5) di Teluk Parsi dan serangan drone ke pipa milik Aramco, Saudi (14/5) dilakukan oleh milisi Houthi, Yaman dukungan Iran.
Presiden Irak, Barham Saleh yang hadir dalam KTT OKI dan Liga Arab bahkan juga keberatan dengan kecaman yang dilakukan terhadap Iran, padahal, negaranya juga pernah terlibat perang delapan tahun (1980 – 1988) dengan Iran.
Terpolarisasinya negara-negara Arab dan Teluk ke dalam kubu-kubu juga terjadi di tengah eskalasi ancaman perang antara Iran dan Amerika Serikat pasca pengunduran diri AS dari kesepakatan nuklir Iran.
Keadaan ini tentu memperlemah posisi negara-negara Arab, khususnya menghadapi musuh bersama, Israel. (AP/AFP/Reuters/NS)




